Status Siaga! Semeru Banjir Lahar Dingin 6 Jam hingga Tanggul Lumajang Jebol

Senin, 02 November 2026 | 09:22 WIB
Seorang warga nekat melintas di jembatan Kaliregoyo saat banjir lahar hujan Semeru masih terjadi pada Senin (2/11/2026). ANTARA/HO-Relawan Semeru
BACA 10 DETIK
  • Gunung Semeru di Lumajang mengalami peningkatan getaran banjir lahar selama enam jam pada Senin, 2 November 2026.
  • Peningkatan debit air akibat hujan lebat menyebabkan tanggul jebol di Desa Purorejo, Kabupaten Lumajang.
  • PVMBG menetapkan status Siaga dan melarang warga beraktivitas dalam radius tertentu dari puncak Semeru.

Suara.com - Aktivitas Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, meningkat di tengah hujan berintensitas tinggi. Pos Pengamatan Gunung Semeru mencatat getaran banjir lahar berlangsung selama enam jam pada Senin (2/11/2026), sementara debit air di sejumlah daerah aliran sungai (DAS) Semeru dilaporkan meningkat hingga menyebabkan tanggul jebol.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Agastya Rajendra, mengatakan getaran banjir tersebut terekam dalam periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.

"Pada periode pengamatan Senin pukul 00.00-06.00 WIB tercatat satu kali gempa getaran banjir dengan amplitudo 65 mm dan lama gempa 21.600 detik atau enam jam," ungkap Agastya.

Selain getaran banjir, aktivitas kegempaan Semeru selama periode tersebut juga mencatat satu kali gempa guguran dengan amplitudo 6 mm dan durasi 115 detik.

Kemudian, terjadi 14 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 10-25 mm dan durasi 31-153 detik.

Dari pengamatan visual, puncak Semeru tertutup kabut sehingga asap kawah tidak teramati.

Kondisi cuaca dilaporkan hujan dengan angin lemah bertiup ke arah barat dan barat laut. Suhu udara berkisar 19-21 derajat Celsius.

Agastya menjelaskan, Gunung Semeru masih berstatus aktivitas vulkanik Level III atau Siaga. Karena itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi untuk mengantisipasi ancaman erupsi dan banjir lahar.

Masyarakat dilarang beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.

Larangan juga berlaku di luar jarak tersebut, yakni dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan, karena kawasan itu berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak.

"Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru, karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar)," katanya.

PVMBG juga meminta masyarakat mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai maupun lembah yang berhulu di puncak Semeru.

Wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta sungai-sungai kecil yang menjadi anak sungai Besuk Kobokan.

Sementara itu, informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan hujan berintensitas tinggi selama enam jam menyebabkan debit air di sejumlah DAS Semeru meningkat.

Kondisi tersebut dilaporkan mengakibatkan tanggul jebol di Desa Purorejo, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang. (Antara)

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com