-
New Delhi menerapkan skema WFH dan menaikkan tarif parkir untuk menekan emisi kendaraan.
-
Seluruh kegiatan konstruksi penghasil debu dan kendaraan non-standar emisi dilarang beroperasi sementara.
-
Tingkat racun udara PM2.5 di New Delhi konsisten melebihi ambang batas aman WHO.
Suara.com - Pemerintah New Delhi menghentikan sementara seluruh aktivitas pembangunan outdoor dan melarang masuknya kendaraan yang melanggar standar emisi. Langkah tegas ini diambil untuk memutus rantai penyebaran polusi udara ekstrem yang saban tahun mengepung ibu kota India tersebut.
Pemberlakuan skema kerja dari rumah (WFH) bagi pegawai instansi pemerintah maupun swasta kini resmi berjalan serentak. Kebijakan radikal ini disertai lonjakan tarif parkir kendaraan hingga dua kali lipat demi membatasi mobilitas warga di jalan raya.
Chief Minister Rekha Gupta mengambil keputusan darurat ini sebagai fondasi utama dalam meredam krisis pernapasan warga. Pengetatan regulasi tersebut diiringi sistem pemantauan kualitas udara yang beroperasi secara nonstop.
"Mulai 1 November... Rencana Aksi Musim Dingin Delhi mulai berlaku dengan pengendalian polusi yang lebih ketat, penegakan hukum yang lebih ketat, dan pemantauan 24×7," ujar kantor Ketua Menteri Rekha Gupta dalam sebuah pernyataan resmi, dikutip dari CNA.
Pemerintah setempat menegaskan bahwa keberhasilan penanganan krisis ini sangat bergantung pada partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Warga diimbau untuk mematuhi seluruh upaya demi memulihkan kualitas udara ibu kota.
“Kami dengan rendah hati meminta seluruh warga Delhi untuk mengikuti pedoman dan berkontribusi dalam menjadikan udara Delhi lebih bersih dan sehat,” lanjut pernyataan dari kantor Kepala Menteri Rekha Gupta.
Sebelum aturan ini terbit, larangan pembakaran sampah serta pembatasan penggunaan kayu bakar bagi pedagang makanan sudah lebih dulu diterapkan. Intervensi bertahap ini dirancang untuk menahan laju penurunan kualitas udara sebelum memasuki puncak musim dingin.
Perangkap udara dingin saat menjelang akhir tahun selalu mengunci polutan industri dan sisa pembakaran jerami di permukaan kota. Akibatnya, tumpukan emisi kendaraan serta debu proyek tidak mampu terurai dan membentuk kabut asap pekat.
Data Kementerian Lingkungan Hidup India mencatat bahwa sektor transportasi menyumbang emisi terbesar bagi polusi udara musim dingin di New Delhi. Sementara itu, sisa pembakaran jerami pertanian di wilayah tetangga memegang porsi terbesar kedua dalam memperburuk kualitas udara.
"Mulai 1 November... Rencana Aksi Musim Dingin Delhi (Delhi’s Winter Action Plan) mulai berlaku dengan pengendalian polusi yang lebih ketat, penegakan hukum yang lebih tegas, serta pemantauan selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu," tegas kantor Chief Minister Rekha Gupta dalam pernyataan resminya.
"Kami dengan rendah hati meminta seluruh warga Delhi untuk mengikuti pedoman tersebut dan turut berkontribusi dalam menjadikan udara di Delhi lebih bersih dan lebih sehat," ujar kantor Chief Minister Rekha Gupta dalam imbauannya.
Tingkat konsentrasi partikel berbahaya PM2.5 di New Delhi sering kali melonjak tajam melampaui batas aman kesehatan global. Bahkan, pencemaran udara ekstrem pada tahun 2025 sempat mencatatkan rekor lonjakan yang sangat mengkhawatirkan.
Kondisi udara pada 1 November sempat sedikit membaik berkat bantuan guyuran hujan deras selama beberapa hari terakhir. Meski demikian, angka konsentrasi partikel PM2.5 yang terukur masih berada jauh di atas ambang batas aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Latar belakang timbulnya krisis tahunan ini berasal dari kombinasi emisi pabrik, pembangkit listrik tenaga batu bara, serta maraknya pembakaran lahan pertanian. Penelitian ilmiah dari The Lancet Planetary Health mencatat bahwa jutaan kematian di India dalam rentang satu dekade terakhir berkaitan erat dengan paparan polusi udara pekat ini.