- Kadiv Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir meminta seluruh pimpinan daerah menjadikan insiden Sukoharjo sebagai pembelajaran penting.
- Divisi Propam Polri sedang memeriksa empat personel termasuk Kapolres Sukoharjo terkait penggerebekan pondok pesantren pada 27 Oktober 2026.
- Kapolres Sukoharjo dicopot dari jabatannya guna mempermudah proses pemeriksaan internal dan evaluasi institusi kepolisian yang sedang berjalan.
Suara.com - Polri meminta para personelnya bercermin dan mengambil pelajaran dari insiden penggerebekan Pondok Pesantren Hamalatul Quran di Sukoharjo, Jawa Tengah.
Hal itu disampaikan Kadiv Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir usai peringatan Hari Jadi ke-75 Humas Polri di Bareskrim Polri, Selasa (3/11/2026).
“Harapan kami tentunya kepada kawan-kawan yang saat ini lagi menjadi Kapolres, Kapolresta, Kapolrestro, dan Kapolrestabes, ayo bercermin mengambil pembelajaran dari kejadian insiden ini,” katanya.
Isir mengatakan, dalam amanatnya, Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto telah memerintahkan jajarannya agar selalu terbuka terhadap masukan dan kritik terkait pelaksanaan tugas personel Polri di lapangan.
Hal itu khususnya menyangkut insiden penggerebekan pondok pesantren di Sukoharjo, Jawa Tengah.
“Sekali lagi, Bapak Kapolri selaku pimpinan Polri, selalu kami sampaikan, Polri terbuka. Selalu mendengar setiap masukan, setiap keluhan, setiap informasi, apapun yang kemudian disampaikan oleh masyarakat terkait dengan pelaksanaan tugas-tugas personel Polri di lapangan,” ucap Isir.
Menurutnya, insiden di pondok pesantren Sukoharjo tersebut telah menjadi bahan evaluasi. Salah satunya melalui pencopotan Kapolres Sukoharjo AKBP Andika Dharma Sena dari jabatannya untuk mempermudah pemeriksaan internal.
“Hingga saat ini proses evaluasi, dalam hal ini pemeriksaan di Divisi Propam, sedang berjalan. Bagian daripada evaluasi, Kapolres Sukoharjo sudah dimutasi. Ini untuk mempermudah terkait dengan proses evaluasi,” katanya.
“Polri tentunya berempati. Kami turut bisa merasakan apa yang dialami, dirasakan oleh adik-adik, anak-anak kita, termasuk santriwati yang ada di sana,” imbuh Isir.
Isir juga mengingatkan seluruh kapolres, kapolresta, dan kapolrestabes agar berhati-hati dalam bertindak. Ia meminta para pimpinan kepolisian di daerah menjadikan polemik penggerebekan pondok pesantren di Sukoharjo sebagai bahan evaluasi.
“Harapan kami tentunya kepada kawan-kawan yang saat ini lagi menjadi Kapolres, Kapolresta, Kapolrestabes, dan Kapolrestabes, ayo bercermin mengambil pembelajaran dari kejadian insiden ini,” ujarnya.
Diketahui, Polri telah memeriksa empat personel terkait insiden tersebut, yakni AKBP Andika Dharma Sena selaku Kapolres Sukoharjo, IPTU AS selaku Kasat Reserse, IPDA FA selaku Kanit Pidum, dan IPDA RAP selaku Kanit PPA.
Pemeriksaan tersebut dilakukan menyusul penggerebekan di Pondok Pesantren Hamalatul Quran yang berada di wilayah Kabupaten Sukoharjo dan Karanganyar, Jawa Tengah, pada 27 Oktober 2026.