- Seorang ibu berinisial RO alias ITA diduga menganiaya anak kandungnya yang berusia empat tahun di Ketapang.
- Peristiwa kekerasan yang terekam CCTV tersebut terjadi pada Rabu, 11 Maret 2026, di Kecamatan Nanga Tayap.
- Polres Ketapang membenarkan kejadian itu dan saat ini masih berupaya mencari keberadaan terlapor.
Suara.com - Rekaman CCTV yang memperlihatkan seorang ibu menganiaya anak kandungnya yang masih berusia empat tahun di Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, viral di media sosial.
Polisi membenarkan peristiwa tersebut dan kini masih mencari keberadaan perempuan yang diduga menjadi pelaku.
Dalam video berdurasi 53 detik itu, seorang anak perempuan terlihat mengalami kekerasan fisik.
Korban ditampar satu kali pada bagian wajah, kemudian ditendang beberapa kali hingga tersungkur di lantai.
Bahkan, saat korban sudah terjatuh dan tidak berdaya, perempuan tersebut kembali melayangkan dua tendangan ke tubuhnya.
Anak itu hanya bisa menangis, sementara sejumlah kata-kata kasar terdengar dalam rekaman.
Pihak Polres Ketapang menjelaskan, peristiwa tersebut terjadi pada Rabu, 11 Maret 2026, sekitar pukul 11.50 WIB di Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang.
Korban merupakan anak perempuan berusia empat tahun, sedangkan terlapor adalah ibu kandungnya berinisial RO alias ITA.
Polisi masih menindaklanjuti laporan ayah korban dan berupaya menemukan RO alias ITA.
Perkara ini disangkakan melanggar Pasal 44 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT).
Sementara itu, akun media sosial @sagitaariuss turut mengunggah rekaman CCTV yang memperlihatkan rangkaian dugaan penganiayaan terhadap anak tersebut.
Akun itu juga menyampaikan sejumlah keterangan berdasarkan percakapan dengan ayah korban.
Dalam keterangannya, ayah korban menyebut perempuan tersebut pergi ke Jakarta pada 3 Oktober 2026 dengan membawa anak-anak mereka.
Ia diduga membawa anak-anak itu ke rumah orang tuanya, tetapi keluarga terlapor disebut tidak mengetahui keberadaan mereka setelah itu.
Ayah korban juga mengungkapkan bahwa dugaan perlakuan kasar terhadap anaknya bukan pertama kali terjadi.