Hey Anak Manja! Selamat Dayang di Kamp Chi Ku

Minggu, 08 November 2026 | 10:05 WIB
Orang tua di China rela membayar puluhan juta demi menggembleng anak lewat program menelan kepahitan.
BACA 10 DETIK
  • Orang tua di China marak menyertakan anak ke kamp kerja paksa pedesaan demi melatih ketangguhan.
  • Penyelenggara mengakui perubahan perilaku anak dari program kilat ini tidak bertahan lama.
  • Pakar psikologi memperingatkan metode penderitaan fisik berisiko merusak kesehatan mental anak.

Ia mengecam praktik beberapa pengelola yang menyarankan orang tua untuk mengelabuhi anak agar mau berangkat ke lokasi penggarapan. Menurutnya, pemaksaan dan penipuan seperti itu hanya akan merusak fondasi rasa percaya anak terhadap orang tua mereka.

“Jika anak diberi tahu akan mengikuti wisata pedesaan yang menyenangkan, tetapi justru ditempatkan di lingkungan penuh aturan ketat dan hukuman, pelajaran yang didapat mungkin bukan ‘Aku harus menghargai orangtuaku’,” kata Setoh. “Melainkan ‘Aku tidak bisa memercayai orangtuaku’.”

Profesor Madya dari Michigan State University, Desiree Qin Baolian, menekankan pentingnya lingkungan yang penuh kasih sayang ketimbang tekanan emosional berbasis ketakutan semata. Kepatuhan instan yang timbul karena rasa takut sering kali menyembunyikan benih ketidakpercayaan anak pada lingkungan sekitar.

“Kepatuhan jangka pendek sangat berbeda dengan pertumbuhan dan kesehatan jangka panjang,” ungkapnya.

Ia juga menyarankan agar para orang tua belajar mengendalikan kecemasan pribadi ketimbang melampiaskannya lewat pengkondisian ekstrem terhadap anak. Pembentukan karakter yang sehat membutuhkan ruang eksplorasi yang aman agar anak bisa belajar mandiri dari kesalahannya.

Secara historis, tradisi chi ku atau "menelan kepahitan" merupakan nilai budaya lama di masyarakat China yang diyakini mampu menempa daya tahan hidup seseorang. Namun dalam kurun dua dekade terakhir, tradisi filosofis ini bergeser menjadi komoditas bisnis liburan musim panas komersial bagi keluarga kaya urban.

Kini, maraknya unggahan video anak-anak yang menangis histeris di media sosial memicu perdebatan sengit antara batas pendidikan karakter dan potensi penyiksaan anak. Fenomena ini sekaligus mencerminkan tingginya tingkat kecemasan orang tua modern China dalam mendidik generasi penerus mereka.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com