Suara.com - Tesla, perusahaan otomotif yang digawangi oleh Elon Musk, telah berhasil merevolusi industri otomotif dengan menghadirkan mobil listrik yang canggih.
Salah satu fitur unggulannya adalah Autopilot, sebuah sistem bantuan pengemudi yang memungkinkan mobil untuk melakukan sejumlah tugas mengemudi secara otomatis.
Namun, di balik inovasi yang mengagumkan ini, terdapat sejumlah kontroversi yang terus bergulir.
Dilansir dari Rideapart, dunia dikejutkan oleh sebuah insiden kecelakaan yang melibatkan mobil Tesla dengan fitur Autopilot aktif.
Seorang pengendara sepeda motor tewas setelah ditabrak oleh sebuah Tesla Model 3 yang sedang dalam mode Autopilot.
Insiden ini memicu gelombang kritik terhadap Tesla dan fitur Autopilot-nya. Keluarga korban, Landon Embry kemudian mengajukan gugatan hukum, mengklaim bahwa sistem Autopilot yang digunakan Tesla cacat dan tidak mampu mendeteksi bahaya seperti pengendara sepeda motor.
Mereka menuntut agar Tesla melakukan perbaikan pada sistem Autopilot, termasuk meningkatkan kemampuan kamera untuk mendeteksi objek di sekitar kendaraan dan memperbaiki sistem pengereman darurat otomatis.
Hingga saat ini, Tesla belum memberikan jawaban terkait gugatan yang dilayangkan oleh Landon Enmbry tersebut.
Kasus ini bukanlah yang pertama kalinya Autopilot terlibat dalam kecelakaan fatal. Sebelumnya, telah terjadi beberapa insiden serupa yang melibatkan kendaraan Tesla. Hal ini memunculkan pertanyaan besar mengenai keamanan dan keandalan sistem Autopilot.
Baca Juga: Tes Drive BYD M6 ke Bandung: Menikmati Mobil Listrik 7 Penumpang Pertama Indonesia
Para pendukung Autopilot berargumen bahwa fitur ini dapat meningkatkan keselamatan berkendara dengan mengurangi kesalahan manusia.
Namun, para kritikus berpendapat bahwa Autopilot masih belum cukup matang dan dapat memberikan rasa aman yang palsu kepada pengemudi.
Insiden-insiden yang terjadi menunjukkan bahwa masih banyak PR yang harus dilakukan untuk menyempurnakan teknologi otonom seperti Autopilot.
Regulasi yang lebih ketat, peningkatan kemampuan sensor dan perangkat lunak, serta edukasi yang intensif bagi pengemudi menjadi hal-hal yang sangat penting untuk memastikan keselamatan penggunaan teknologi ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
Terkini
-
Keamanan Konsumen Terancam Honda Tarik Satu Juta Unit Kendaraan Karena Masalah Serius
-
Harga BYD M6 DM di bawah Rp300 Juta, Lebih Murah dari Toyota Veloz Hybrid
-
Strategi Yamaha Banjir Promo di Jakarta Fair 2026 Redam Dominasi Pesaing
-
Menguji Iritnya Honda PCX 160 RoadSync dalam Touring ke Rancabali
-
Meksiko Tantang Pasar Otomotif Dunia Lewat Mobil Listrik Nasional Seharga LCGC
-
Lonjakan Ekspor Mobil China Ancam Dominasi Global Saat Harga BBM Melambung Tinggi
-
Gajah Tunggal Rilis Ban Zeneos Starize Baru Ukuran 13 Inci dan 14 Inci
-
Perbedaan Spesifikasi, Fitur dan Harga 5 Varian Kawasaki KLX Terbaru: Kini Ada Versi XPL
-
Kawasaki Luncurkan Motor Matic hingga Mobil Seharga Miliaran, Intip Spesifikasinya
-
BYD Incar Tahta Tertinggi Mobil Laris Milik Toyota, Target 5 Tahun