Suara.com - Suzuki Karimun Wagon R terbaru hadir sebagai bintang di kelasnya dengan harga yang bersaing dan desain yang memikat hati.
Dengan banderol mulai dari 135 juta hingga 197 juta rupiah, Wagon R ini menawarkan pilihan yang lebih terjangkau dibandingkan dengan Brio RS bekas.
Desain Menarik dan Fitur Canggih
Wagon R memiliki mesin DOHC pendingin udara berkapasitas 657 cc, dengan tenaga 36 kW pada 6500 rpm dan torsi 58 Nm di 5000 rpm.
Rasio kompresi 12.0 memberikan performa yang efisien dan responsif. Untuk urusan bahan bakar, mobil ini tidak kalah dengan motor 250cc, dengan konsumsi antara 19,5 hingga 26,5 km/l, tak beda jauh dari motor sport 250 cc sekaliber Yamaha R25 misalnya.
Varian dan Harga Suzuki Wagon R Series
- Wagon R: 1.296.900 yen (135.396.360 rupiah) - 1.420.100 yen (148.258.440 rupiah)
- Wagon R Custom Z: 1.551.000 yen (161.924.400 rupiah) - 1.674.200 yen (174.786.480 rupiah)
- Wagon R Sting Ray: 1.765.500 yen (184.318.200 rupiah) - 1.888.700 yen (197.180.280 rupiah)
Fitur Unggulan
Wagon R tidak hanya mengandalkan desain dan harga, tetapi juga dilengkapi dengan fitur-fitur modern. Sistem Idling Stop membantu mengurangi konsumsi bahan bakar dengan menghentikan mesin secara otomatis saat melambat. Fitur Eco-cool memastikan udara dingin tetap terjaga bahkan saat mesin mati, menunda restart mesin yang boros bahan bakar.
Bodi mobil menggunakan teknologi Tect yang ringan namun kuat, meningkatkan efisiensi bahan bakar dan keamanan. Struktur Heartect di bagian bawah bodi membantu mengurangi bobot dan meningkatkan performa dasar.
Baca Juga: Kemenperin: Insentif Mobil Hybrid Hanya untuk 1 Tahun
Dengan segala kelebihan ini, Suzuki Karimun Wagon R terbaru benar-benar menggoda. Harganya yang lebih murah dibandingkan Brio RS bekas dan efisiensi bahan bakar yang setara dengan motor 250cc membuatnya pilihan yang menarik untuk mobilitas sehari-hari. Sayangnya mobil ini cuma ada di Jepang, sehingga penggemar Karimun tentu cuma bisa gigit jari.
Berita Terkait
-
Kemenperin: Insentif Mobil Hybrid Hanya untuk 1 Tahun
-
Donald Trump Siap Pangkas Kebijakan Pendukung Kendaraan Listrik, Masa Depan Mobil Listrik China di Ujung Tanduk?
-
Kiamat Mobil Listrik di Era Trump Jilid 2? Pajak Baterai Naik, Insentif Hilang!
-
Mobil SUV Langka Buatan Indonesia Seharga Rp 400 Juta Jadi Sorotan, Diklaim Anti Peluru dan Tahan Ledakan
-
Kia Tebar Pesona: Inilah Calon Penantang Serius Raize-Rocky Bermesin Diesel
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 4 Mobil Kecil Bekas 80 Jutaan yang Stylish dan Bandel untuk Mahasiswa
Pilihan
-
Bertemu Ulama, Prabowo Nyatakan Siap Keluar dari Board of Peace, Jika...
-
Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka Dugaan Manipulasi Saham, Rp674 Miliar Aset Efek Diblokir
-
Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki
-
Kasus Saham Gorengan, Bareskrim Tetapkan 3 Tersangka Baru, Salah Satunya Eks Staf BEI!
-
Bareskrim Geledah Kantor Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Saham Gorengan
Terkini
-
Perbandingan Motor Listrik Yamaha EC-06 dan Yamaha E01 untuk Harian
-
Terpopuler: Motor Bekas Adventure, Motor Listrik Baru Yamaha Harga Mirip Aerox
-
5 Rekomendasi Mobil Bekas Irit yang Masih Sangat Layak Dipakai Driver Online
-
Kemandirian Chip Lokal Jadi Kunci Utama Masa Depan Industri Mobil Listrik Indonesia
-
5 Rekomendasi Mobil Bekas Pajak Ringan: Mesin Masih Juara, Tahunan Cuma Bayar Rp1 Juta
-
3 MPV Bekas Rp70 Jutaan Punya Suspensi Empuk dan Kabin Senyap, selain Avanzad dan Xenia
-
Detail 10 Mobil Terlaris di Indonesia vs Brasil Sepanjang 2025: Beda Merek dan Selera
-
3 Rekomendasi Mobil Bekas dengan Bagasi Luas, Cocok buat Usaha Kecil-kecilan
-
3 Jenis Mobil Bekas yang Perlu Dihindari Meski Harganya Murah, Bukannya Untung Malah Rugi
-
Penjualan Motor Listrik Dinilai Masih Bisa Naik 10 Persen Tanpa Insentif