Otomotif / Mobil
Selasa, 06 Januari 2026 | 14:36 WIB
Ilustrasi Logo BYD. (Ist)
Baca 10 detik
  • Industri EV Tiongkok menghadapi fase penentuan; ekspor meningkat tetapi banyak produsen skala kecil dan menengah berisiko tersingkir.
  • Diperkirakan pada tahun 2026 terjadi penyaringan ulang besar akibat kerugian, biaya tinggi, dan peninjauan ulang insentif pemerintah.
  • Hanya sekitar 10 persen merek EV Tiongkok diprediksi mampu menghasilkan keuntungan jangka panjang, sementara yang kuat fokus ekspansi global.

Industri kendaraan listrik atau EV asal China yang selama ini tumbuh sangat agresif kini berada di fase yang sangat menentukan. Meski ekspor kendaraan mereka meningkat pesat di pasar global, tidak semua produsen mampu bertahan dalam persaingan yang semakin berdarah-darah ini.

Suara.com - Pada tahun 2026 industri otomotif China diperkirakan akan mengalami proses "penyaringan ulang" besar-besaran. Puluhan produsen EV skala kecil dan menengah kini menghadapi risiko tersingkir dari pasar.

Pengiriman kendaraan baru di pasar domestik Tiongkok bahkan diprediksi menyusut hingga 5 persen pada tahun depan yang menjadi penurunan paling signifikan sejak empat tahun lalu.

Sebuah laporan media internasional menyebutkan bahwa terdapat sekitar 50 produsen kendaraan listrik yang masih mencatat kerugian. Perusahaan-perusahaan tersebut kemungkinan besar terpaksa mengurangi operasional atau menutup bisnis mereka sepenuhnya pada 2026. Tekanan ini muncul akibat biaya produksi yang tinggi serta perubahan selera konsumen muda yang semakin selektif terhadap aspek desain serta teknologi.

Kondisi ini semakin diperparah oleh kebijakan pemerintah setempat. Beijing diperkirakan akan meninjau ulang insentif tukar tambah kendaraan listrik. Selain itu pembebasan pajak pembelian sebesar 10 persen akan segera berakhir dan mulai digantikan oleh tarif pajak baru secara bertahap hingga tahun 2028.

Perang harga yang terus terjadi memang membuat harga EV lebih murah bagi pembeli namun di sisi lain menekan margin keuntungan produsen hingga ke titik terendah.

Saat ini era penggalangan dana yang mudah bagi perusahaan rintisan otomotif telah berakhir. Industri sedang memasuki fase bertahan hidup yang hanya menyisakan produsen dengan kondisi keuangan sehat. Berdasarkan studi konsultan internasional hanya sekitar 10 persen merek EV China yang benar-benar mampu menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang.

Sejauh ini beberapa nama besar seperti BYD, Seres, dan Li Auto masih mampu melawan tren negatif tersebut. Mereka diprediksi akan semakin gencar menjelajahi pasar luar negeri untuk mencari peluang pertumbuhan baru.

Salah satu cerita sukses lainnya datang dari Leapmotor yang mendapatkan investasi besar dari grup FAW. Leapmotor menargetkan pengiriman satu juta unit kendaraan pada tahun 2026 dan berambisi masuk ke dalam jajaran tiga besar produsen EV di Tiongkok bersama BYD serta Geely.

Baca Juga: Daftar Harga Mobil Listrik Terbaru di Indonesia Januari 2026, BYD, Chery, Geely, Wuling dan Hyundai

Load More