- Warna oli kopi susu adalah tanda bahaya kontaminasi air dari sistem radiator.
- Penyebab utama seringkali adalah seal water pump yang aus atau mengalami kerusakan.
- Mengabaikan masalah ini berisiko kerusakan mesin parah hingga turun mesin total.
Suara.com - Saat Anda rutin mengganti oli mesin, idealnya setiap 10.000 kilometer atau 6 bulan sekali, Anda tentu berharap melihat cairan pelumas lama berwarna hitam pekat karena sisa pembakaran. Namun, pernahkah Anda kaget saat mendapati warnanya justru keruh seperti kopi susu?
Jika ya, jangan pernah menganggapnya sepele. Ini bukanlah fenomena biasa, melainkan sebuah sinyal bahaya yang dikirimkan oleh mesin mobil Anda.
Akar Masalah: Ketika Oli Bertemu Air
Warna oli yang seharusnya gelap berubah menjadi kecoklatan seperti kopi susu adalah indikasi kuat bahwa oli telah terkontaminasi oleh air.
Pertanyaannya, dari mana air ini berasal di dalam ruang mesin yang tertutup?
Jawabannya hampir pasti mengarah pada satu sumber: cairan pendingin radiator (radiator coolant).
Sistem pendingin dan sistem pelumasan seharusnya berjalan di jalurnya masing-masing. Ketika keduanya bercampur, itu pertanda ada kebocoran internal yang serius.
Biang Keladi Utama: Kerusakan pada Water Pump
Penyebab paling umum dari masalah ini terletak pada komponen vital bernama water pump atau pompa air.
Baca Juga: 5 Cara Cek Mesin Mobil Bekas bagi Orang Awam, Percaya Diri Tanpa Sewa Jasa Inspeksi
Komponen ini bertugas mensirkulasikan cairan pendingin ke seluruh bagian mesin untuk menjaga suhu kerja ideal.
Di dalam water pump, terdapat seal atau paking yang berfungsi sebagai penyekat untuk mencegah cairan pendingin merembes keluar dari jalurnya.
Seiring usia pakai dan panas mesin, seal ini bisa mengeras, getas, atau aus.
Ketika seal water pump rusak, tekanan tinggi dari sistem radiator akan memaksa cairan pendingin untuk menerobos masuk ke dalam jalur oli mesin. Di sinilah "malapetaka" terjadi. Cairan pendingin dan oli akan bercampur, menghasilkan emulsi berwarna kopi susu yang Anda lihat.
Dampak Serius Jika Dibiarkan
Mengabaikan gejala ini dapat berujung pada kerusakan fatal dengan biaya perbaikan yang sangat mahal. Ada dua risiko utama yang mengintai:
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Putri Hijau/Yos Sudarso Medan Ditutup 31 Januari hingga 6 Februari, Arus Lalin Dialihkan
- 5 Bedak Wardah High Coverage untuk Flek Hitam Membandel Usia 55 Tahun
- Reshuffle Kabinet: Sugiono Jadi Menko PMK Gantikan 'Orang Jokowi', Keponakan Prabowo Jadi Menlu?
- 3 Pilihan HP Infinix 5G dengan Performa Tinggi dan Layar AMOLED
Pilihan
-
Rupiah Melemah ke Rp16.786, Tertekan Sentimen Negatif Pasar Saham
-
Jokowi Angkat Bicara Soal Dugaan Korupsi Mantan Menag Yaqut: Saya Tidak Pernah Perintahkan Korupsi!
-
Siapa yang Meminta Iman Rachman Mundur dari Dirut BEI?
-
Skandal Sepak Bola China: Eks Everton dan 72 Pemain Dijatuhi Sanksi Seumur Hidup
-
Iman Rachman Mundur, Penggantinya Sedang Dalam Proses Persetujuan OJK
Terkini
-
Sepeda Listrik Perlu Dicas Setiap Hari? Ini 5 Pilihan yang Baterainya Awet
-
Kabin Nyaman 5 Orang, Bensin Super Irit: Pesona Mobil Bekas Honda Seharga Matic Premium
-
Toyota Urban Cruiser vs BYD Sealion 7 Performance: Harga Mirip, Mana yang Bisa Jalan Lebih Jauh?
-
Cari Motor Bekas ABS di Bawah 10 Juta, Mungkinkah Ditemukan?
-
Industri Otomotif Bawa Indeks Kepercayaan Industri Naik Tinggi di Januari 2026
-
7 Rekomendasi Motor Listrik Untuk Ojol, Irit Bahan Bakar dan Cocok Dipakai Harian
-
5 Rekomendasi Motor Bebek Yamaha Terbaik 2026, Irit dan Tangguh
-
Mending Aki Basah atau Kering? Simak Bedanya Biar Tak Salah Beli
-
BYD Pilih Vietnam Perkuat Cengkraman di ASEAN Lewat Investasi Pabrik Baterai Mobil Listrik
-
Akhir Sebuah Era: Quartararo Dikabarkan Pilih Honda, Yamaha Ditinggalkan karena Lambat?