- Angka 66 Persen adalah 'Opsen' (bagi hasil ke daerah), bukan kenaikan tarif.
- Pajak Jateng lebih tinggi dari DIY karena tarif dasar.
- Berakhirnya diskon membuat tagihan naik.
Suara.com - Belakangan ini, masyarakat Jawa Tengah dihebohkan dengan isu kenaikan pajak kendaraan bermotor yang dirasa cukup memberatkan. Angka "66 persen" sering disebut-sebut sebagai besaran kenaikan tersebut, memicu keresahan di kalangan wajib pajak, terutama ketika membandingkannya dengan provinsi tetangga seperti D.I. Yogyakarta yang harganya dinilai lebih stabil.
Namun, apakah benar pajak kendaraan naik 66 persen? Mari kita bedah faktanya berdasarkan regulasi dan penjelasan resmi Bapenda Jateng.
1. Mitos Kenaikan 66 persen: Itu Bukan Kenaikan, Tapi "Opsen"
Banyak warga kaget melihat rincian tagihan pajak yang mencantumkan angka Opsen 66 persen. Angka ini sering disalahartikan sebagai kenaikan total tagihan.
Berdasarkan infografis Bapenda Jateng (UU No 1 Tahun 2022 tentang HKPD) di akun X BPPD_JATENG, Opsen bukanlah pajak baru atau kenaikan tarif total sebesar 66 persen, melainkan mekanisme pembagian "kue" pajak:
- Dulu: Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dipungut penuh oleh Provinsi, baru kemudian bagi hasil disetor ke Kabupaten/Kota.
- Sekarang (Mulai 2025): Pembagian itu langsung dipisah di awal.
- PKB (Pokok): Masuk ke kas Provinsi.
- Opsen (66 persen dari PKB): Langsung masuk ke kas Kabupaten/Kota.
Jadi, angka 66 persen itu adalah persentase dari tarif pokok pajak yang dialokasikan untuk pemerintah daerah tingkat II, bukan tambahan beban 66 persen di atas total tagihan normal.
2. Bapenda Tegaskan: "Tidak Ada Kenaikan di 2026"
Dalam materi sosialisasi resmi, Bapenda Jawa Tengah secara tegas menjawab pertanyaan "Benarkah ada kenaikan pajak kendaraan di Jawa Tengah 2026?" dengan jawaban: TIDAK ADA.
Pemerintah Provinsi menekankan bahwa secara regulasi tidak ada kebijakan menaikkan tarif dasar secara sepihak untuk memberatkan rakyat.
Baca Juga: Benarkah Pajak Kendaraan di Jateng Naik Drastis? Ini Penjelasannya
Pihak Bapenda juga menyatakan memahami keresahan masyarakat dan berkomitmen melakukan perbaikan layanan.
3. Kenapa Tagihan Tetap Terasa Mahal Dibanding Jogja?
Jika Bapenda bilang "tidak naik", mengapa nominal uang yang keluar dari dompet warga Jateng lebih besar dibanding warga Jogja? Berdasarkan artikel Suara.com sebelumnya, letak perbedaannya ada pada Tarif Dasar (NJKB) sebelum ditambah Opsen:
Jawa Tengah: Menetapkan tarif dasar PKB sekitar 1,05 persen. Ketika ditambah Opsen 66 persen (sekitar 0,69 persen), total beban yang ditanggung warga menjadi sekitar 1,74 persen.
Yogyakarta (DIY): Pemda DIY menurunkan tarif dasar mereka menjadi 0,9 persen. Sehingga ketika ditambah Opsen 66 persen (sekitar 0,6 persen), total akhirnya hanya 1,5 persen.
Inilah alasan matematis mengapa meskipun sama-sama menerapkan aturan Opsen 66 persen, warga Jogja merasa pajaknya "tetap" (karena totalnya disesuaikan agar sama dengan tahun lalu), sedangkan warga Jateng merasakan lonjakan karena tarif dasarnya lebih tinggi.
4. Efek "Diskon" yang Hilang
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Mobil Toyota Yaris Bekas Harga di Bawah Rp100 Juta Dapat Tahun Berapa?
-
Anomali Harga BBM Imbas Perang Iran: Australia Kena Diskon, Indonesia Tak Berubah
-
Konversi Mobil Bensin ke Listrik atau Beli Mobil Listrik Baru, Mana Lebih Worth It?
-
Chery Tiggo Cross CSH Terbakar Hebat di Tol, Sistem Keamanan Jadi Pertanyaan
-
Apa Saja Mobil Chevrolet Bekas di Bawah Rp100 Juta yang Menarik?
-
Pilihan Motor Listrik dengan Jarak Tempuh di Atas 100 KM yang Cocok Untuk Harian
-
Solusi Cerdas Libas Jalan Bercadas: Ini 4 Opsi Mobil 1500cc Termurah tapi Berkelas
-
Update Harga BBM Pertalite, Solar hingga Pertamax di Berbagai Wilayah Indonesia 1 April 2026
-
Harga Toyota Agya Bekas: Di Bawah Rp100 Juta Dapat Unit Buatan Tahun Berapa?
-
Toyota Innova Vs Rush, Mana yang Lebih Irit? Cek Beda Konsumsi BBM, Performa, Harga, dan Pajaknya