- CEO Ford Jim Farley memperingatkan ancaman besar produsen mobil China terhadap stabilitas ekonomi dan manufaktur Amerika Serikat.
- Kehadiran pabrikan China di Meksiko dan Kanada memicu kekhawatiran persaingan tidak sehat akibat dukungan subsidi pemerintah mereka.
- Farley mewaspadai potensi spionase melalui teknologi kamera canggih pada kendaraan listrik yang mengancam privasi dan keamanan data nasional.
Suara.com - Industri otomotif Amerika Serikat tengah diguncang kecemasan hebat. CEO Ford Jim Farley secara terbuka menyuarakan peringatan keras mengenai ancaman nyata dari produsen mobil China yang dinilai semakin nyata.
Farley menegaskan bahwa kehadiran mobil China bukan hanya sekadar kompetisi biasa namun ancaman bagi stabilitas nasional.
"Kita seharusnya tidak membiarkan mereka masuk ke negara kita," kata Farley saat memberikan pernyataan tegas mengenai potensi dampak negatif yang bisa merusak sektor manufaktur, dikutip Rabu (15/4/2026).
Menurutnya jika perusahaan seperti BYD atau Xiaomi dibiarkan bersaing bebas maka hal itu akan menghancurkan negara dengan dampak ekonominya yang masif.
Kekhawatiran ini muncul seiring semakin dekatnya basis produksi mobil China ke wilayah Amerika Serikat seperti di Meksiko dan Kanada. Farley berpendapat bahwa persaingan ini tidak sehat karena dukungan subsidi pemerintah China yang sangat besar kepada para produsen mereka.
"Ini sama sekali bukan pertarungan yang adil. Ketidakseimbangan biaya produksi dapat menggerus merek lokal Amerika dalam waktu singkat," tegas Farley.
Selain faktor ekonomi aspek keamanan data dan privasi juga menjadi sorotan utama bagi bos raksasa otomotif tersebut. Kendaraan listrik modern saat ini sudah dilengkapi dengan teknologi canggih yang sangat sensitif.
"Semua kendaraan ini memiliki 10 kamera. Mereka dapat mengumpulkan banyak data yang bisa berakhir pada pihak yang tidak diinginkan," ungkap Farley mencurigai adanya praktek spionase dari pemerintah China.
Menutup pernyataannya, Farley kembali menegaskan harapannya agar regulator Amerika Serikat tetap menutup pintu bagi ekspansi mobil China ke Amerika Serikat demi melindungi industri dalam negeri.
Baca Juga: Penjualan Jaecoo Salip BYD di Maret 2026, SUV J5 EV Jadi Bintang Utama
"Saya sangat berharap kita tidak mengizinkan mereka melewati perbatasan," pungkasnya.
Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa perang dagang di sektor otomotif masih jauh dari kata usai.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
Terkini
-
KPK Siap Usut Tuntas Alasan BGN Menangkan Vendor Minim Dealer untuk Motor Listrik Emmo
-
Pesona Danau Toba dan Samosir Jadi Pembuka Etape Perdana MAXI Tour Boemi Nusantara 2026
-
Ironi LCGC: Penjualan Anjlok 29 Persen di Kuartal Pertama 2026, Daya Tarik Mulai Memudar?
-
BYD Kalah Gugatan Merek Denza di Mahkamah Agung Indonesia dan Harus Bayar Perkara
-
Duo Mobil China Masuk 10 Besar Merek Terlaris di Indonesia, Jepang dan Korea Terancam
-
Isuzu Kantongi Pesanan 354 unit Kendaraan Niaga Selama GIICOMVEC 2026
-
5 Fakta Bahlil Borong Minyak Rusia untuk Indonesia, Sinyal Harga BBM Turun?
-
Inilah 10 Merek Mobil Terlaris Januari hingga Maret 2026, Honda Dapat Rapor Merah
-
Motor Matic Honda Terbaru Apa Saja? Ini 8 Tipe Paling Dicari
-
4 Mobil Listrik dengan Ground Clearance Tinggi, Gak Takut Jalan Rusak