- Nissan berencana mengekspor hingga 300.000 unit mobil produksi Tiongkok untuk meningkatkan daya saing di pasar global.
- Perusahaan menargetkan pasar Kanada dan Amerika Latin dengan menyediakan kendaraan hybrid dan listrik yang lebih terjangkau.
- Nissan melakukan efisiensi biaya operasional di Eropa serta menjajaki kolaborasi dengan produsen lokal untuk pengembangan produk.
Suara.com - Usai gagal menyatukan kekuatan dengan Honda beberapa waktu silam, Nissan kini sedang berusaha keluar dari tekanan bisnis global.
Penjualan menurun, produk menua, dan persaingan makin ketat membuat produsen mobil "Godzilla" ini harus putar otak.
Untuk itu, manajemen baru menyiapkan sejumlah strategi agar bisa kembali kompetitif di pasar internasional.
Apa saja siasatnya? Begini menurut rangkuman Suara.com dikutip dari Carscoops.
1. Manfaatkan Produksi Murah di Tiongkok
Nissan melihat peluang besar dari pabrik hasil kerja sama dengan Dongfeng di Tiongkok. Biaya produksi lebih rendah dan kapasitas lebih fleksibel dibanding fasilitas di negara lain.
Rencananya, Nissan akan mengekspor 100.000 unit mobil buatan Tiongkok per tahun ke berbagai pasar, lalu meningkat hingga 300.000 unit.
Model yang disiapkan termasuk sedan listrik N7, SUV NX8, dan pickup Frontier Pro PHEV.
2. Fokus ke Pasar Kanada dan Amerika Latin
Baca Juga: Nissan Tertarik Gelontorkan Mobil Murah tapi Bukan EV
Kanada baru saja melonggarkan aturan impor mobil asal Tiongkok hingga 49.000 unit per tahun.
Nissan memanfaatkan celah ini dengan menyiapkan produk murah, bukan hanya EV murni, tetapi juga hybrid dan plug-in hybrid.
Pasar Amerika Latin juga jadi target awal, karena permintaan mobil terjangkau di sana masih tinggi.
Strategi ini diharapkan memberi ruang napas sebelum Nissan meluncurkan produk baru di pasar utama lain.
3. Efisiensi Biaya di Eropa
Selain ekspansi ke Kanada dan Amerika Latin, Nissan juga memangkas biaya di Eropa. Kapasitas produksi di pabrik Sunderland, Inggris, dikurangi.
Berita Terkait
-
Nissan Tertarik Gelontorkan Mobil Murah tapi Bukan EV
-
Jakarta-Bali Tanpa Pusing Isi BBM? Membedah Gila-gilaan Jarak Tempuh Teknologi Mobil BYD DM
-
Bukan Avanza atau Xpander, Low MPV Bekas Rp 100 Jutaan Ini Punya Bantingan Suspensi Khas Mobil Eropa
-
Berapa Harga dan Pajak BYD M6 di Indonesia?
-
Kecanggihan Baterai Blade BYD Dinilai Berpotensi Jadi Beban Biaya Perawatan Bagi Konsumen
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 6 Sunscreen Moisturizer Terbaik untuk Anti Aging, Kulit Kencang dan Bebas Kerutan
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Menanti Hasil Investigasi Kecelakaan Maut Taksi Green SM, VinFast Indonesia Berdalih Entitas Berbeda
-
Perpanjang Masa Pakai Baterai Kendaraan Listrik, Peneliti Kembangkan AI Mutakhir
-
Misi Pebalap Muda Indonesia Muhammad Kiandra Jelang Debut Moto3 Junior di Spanyol
-
Jakarta-Bali Tanpa Pusing Isi BBM? Membedah Gila-gilaan Jarak Tempuh Teknologi Mobil BYD DM
-
Nissan Tertarik Gelontorkan Mobil Murah tapi Bukan EV
-
Kecanggihan Baterai Blade BYD Dinilai Berpotensi Jadi Beban Biaya Perawatan Bagi Konsumen
-
Bukan Avanza atau Xpander, Low MPV Bekas Rp 100 Jutaan Ini Punya Bantingan Suspensi Khas Mobil Eropa
-
Strategi Toyota Perkuat Posisi di Pasar Otomotif dengan Suku Cadang Murah T-OPT
-
Berapa Harga dan Pajak BYD M6 di Indonesia?
-
Ikuti Jejak Toyota, Honda akan Jorjoran Gelontorkan 15 Mobil Hybrid