Otomotif / Mobil
Senin, 25 Mei 2026 | 07:59 WIB
BYD. [Foto: SUARA.COM/Michele Alessandra]
Baca 10 detik
  • BYD sedang menegosiasikan penggunaan fasilitas produksi milik Volkswagen di Jerman untuk memproduksi mobil listrik secara lokal di Eropa.
  • Strategi ini bertujuan menghindari kebijakan pajak impor Uni Eropa serta memperoleh label kualitas Made in Germany yang prestisius.
  • BYD juga membidik fasilitas milik Stellantis di Italia untuk mempercepat ekspansi produksi mandiri tanpa melalui skema usaha patungan.

Suara.com - BYD, raksasa EV asal China yang kini memegang predikat penjual mobil listrik terbesar di dunia, tidak lagi hanya mengandalkan ekspor lewat jalur laut yang memakan waktu dan biaya besar.

Strategi terbaru mereka jauh lebih agresif: "menjajah" tanah Eropa dengan membangun pusat produksi lokal. Menariknya, BYD tidak selalu membangun pabrik dari nol, melainkan mulai melirik fasilitas milik para pesaingnya yang sedang menganggur.

Menurut Arena EV, kabar yang paling mencuri perhatian adalah manuver BYD yang sedang mengincar sebagian area di pabrik legendaris milik Volkswagen (VW) di Dresden, Jerman.

Fasilitas yang dikenal dengan sebutan "Transparent Factory" atau Gläserne Manufaktur ini adalah ikon kemewahan teknik Jerman dengan dinding-dinding kaca yang megah.

Pabrik ini dulunya menjadi tempat lahirnya mobil-mobil prestisius seperti VW Phaeton hingga mobil listrik ID.3. Namun, seiring langkah efisiensi VW untuk memangkas produksi global, pabrik yang hanya mempekerjakan sekitar 205 orang ini menjadi terlalu sunyi.

BYD dikabarkan sedang dalam tahap negosiasi untuk mengisi setengah dari area gedung kaca tersebut guna menyulapnya menjadi jalur produksi mobil listrik mereka.

Bagi Volkswagen, menyewakan atau berbagi ruang dengan rival asal China dianggap sebagai langkah cerdas untuk menekan biaya operasional di saat mereka sedang berusaha menyusutkan kapasitas produksi global dari 12 juta menjadi 9 juta unit per tahun.

Ilustrasi mobil Volkswagen. (Suara.com x Gemini AI)

Sementara bagi BYD, masuk ke Dresden bukan sekadar soal menambah kapasitas, tapi soal memburu label prestisius "Made in Germany" yang selama ini menjadi simbol kepercayaan kualitas di mata dunia.

Selain Jerman, radar BYD juga tertuju pada Italia dan pabrik-pabrik di bawah payung grup Stellantis. Stellantis yang membawahi brand seperti Fiat dan Peugeot memiliki banyak fasilitas produksi yang sedang tidak terpakai dan mereka terbuka untuk menjual atau berbagi jalur produksi demi efisiensi biaya.

Baca Juga: Apa Beda Lis Biru di Bawah vs Samping pada Pelat Mobil Listrik? Berikut Faktanya

BYD memilih jalur ini karena jauh lebih cepat dibandingkan harus melakukan konstruksi dari awal di lahan kosong.

Ada alasan kuat di balik "gerak cepat" BYD ini. Uni Eropa sedang memperketat aturan dengan mengenakan pajak impor 10% ditambah tarif tambahan hingga 17% untuk kendaraan listrik asal China guna menangkal isu subsidi.

Dengan memproduksi mobil langsung di dalam wilayah Eropa, BYD bisa menghindari tembok pajak tersebut sekaligus mengubah citra mereka dari sekadar "pendatang asing" menjadi pemain lokal.

BYD Seal 2026. (BYD)

BYD juga tercatat sudah mulai membangun pabrik di Hungaria dan merencanakan pusat produksi kedua di Turki.

Uniknya, meskipun bekerja sama dalam hal penyediaan lahan, BYD tetap memegang teguh prinsip independensi. Stella Li, Executive Vice President BYD, menegaskan bahwa perusahaan ingin mengelola fasilitas produksi tersebut secara mandiri tanpa struktur joint venture tradisional yang sering kali melibatkan campur tangan manajemen lokal.

Mereka ingin memastikan standar dan cara kerja khas BYD tetap terjaga tanpa terpengaruh tradisi korporat Eropa.

Langkah ekspansi ini sejalan dengan dominasi pasar mereka yang luar biasa. Hanya dalam empat bulan pertama tahun 2026, grup BYD berhasil menjual lebih dari satu juta unit kendaraan, dengan angka penjualan luar negeri yang terus memecahkan rekor.

Di tengah tren pasar Eropa yang mulai meninggalkan mesin bensin—dengan kenaikan registrasi EV sebesar 27% pada April lalu—BYD siap menangkap peluang tersebut dengan memanfaatkan sisa-sisa kejayaan pabrik otomotif lama Eropa.

Load More