Otomotif / Mobil
Minggu, 31 Mei 2026 | 15:48 WIB
Mobil listrik murah Chery QQ3. (Chery)
Baca 10 detik
  • BYD berekspansi ke pasar otomotif Jepang dengan meluncurkan mobil listrik mungil Racco hasil rekrutmen insinyur lokal berpengalaman.
  • Chery berencana memasuki pasar Jepang untuk menjaga pertumbuhan bisnis global di tengah persaingan ketat industri otomotif dunia.
  • Mobil listrik asal China menghadapi tantangan nilai jual kembali yang rendah akibat ketidakpastian dukungan purnajual dan perkembangan teknologi.

Suara.com - Setelah raksasa mobil listrik BYD secara terang-terangan meluncurkan strategi invasinya ke Jepang, kini perhatian mulai tertuju pada Chery yang juga diprediksi akan menyusul kesuksesan kompetitor senegaranya itu di pasar global.

Pasar otomotif Jepang yang selama ini didominasi oleh pabrikan lokal seperti Toyota, Nissan, dan Suzuki kini mulai kedatangan tamu agresif dari Negeri Tirai Bambu.

Ekspansi ini membuktikan bahwa brand China tidak lagi sekadar mengekor, melainkan siap bertarung di "kandang macan" industri otomotif dunia.

BYD "Buka Lahan"

BYD Racco. (Suara.com/Gemini AI)

BYD sendiri sudah mengambil langkah konkret dengan menyiapkan model Racco, sebuah mobil listrik mungil yang masuk dalam kategori K-Car, segmen paling populer di Jepang.

Tidak tanggung-tanggung, mereka merekrut Hirohide Tagawa, seorang insinyur veteran dari Nissan yang dikenal sebagai visioner di balik suksesnya model Nissan Sakura dan Dayz.

Strategi merekrut talenta lokal ini bertujuan agar desain dan spesifikasi mobil mereka benar-benar sesuai dengan regulasi ketat dan selera unik konsumen Jepang.

Racco sendiri dibekali baterai 20 kWh dengan jarak tempuh sekitar 180 km, yang sangat ideal untuk mobilitas perkotaan di jalanan Jepang yang sempit.

Tantangan Chery

Baca Juga: Muncul Ancaman 'Submarining', Fitur Kursi Mewah pada Mobil Listrik Bersiap Diharamkan?

Mobil listrik kompak Chery Q. (SUARA.COM/Manuel Jeghesta)

Lalu, bagaimana dengan Chery? Di pasar internasional, Chery melalui model seperti Chery Q terus menunjukkan taringnya dengan spesifikasi yang sangat kompetitif, bahkan sering kali membuat brand mapan seperti Wuling Air ev atau BYD Atto 1 harus waspada.

Dengan tren pasar otomotif China yang mulai memasuki tahap jenuh, ekspansi ke negara dengan standar kualitas tinggi seperti Jepang menjadi langkah logis bagi Chery untuk menjaga pertumbuhan mereka.

Kehadiran Chery di bursa mobil internasional juga memberikan alternatif bagi konsumen yang mencari teknologi canggih namun tetap dengan harga yang masuk akal.

Namun, di balik gempuran fitur dan harga murah yang ditawarkan mobil listrik China, ada sebuah catatan penting yang perlu diperhatikan oleh calon pembeli, terutama soal nilai jual kembali atau resale value.

Berdasarkan data terbaru dari Eropa, mobil listrik asal China mengalami depresiasi atau penurunan harga yang jauh lebih cepat, bahkan hingga dua kali lipat dibandingkan rata-rata industri otomotif lainnya.

Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian dukungan jangka panjang terkait suku cadang dan jaringan dealer di luar negara asalnya.

Selain itu, pesatnya perkembangan teknologi di China membuat model yang hari ini dianggap canggih bisa terasa ketinggalan zaman hanya dalam hitungan bulan, yang secara otomatis menjatuhkan harga bekasnya di pasar, menurut Carscoops.

Persaingan di Jepang dipastikan akan sangat ketat karena konsumen di sana sangat loyal terhadap brand domestik.

Meski begitu, kehadiran BYD dengan Racco seharga kurang lebih Rp277 juta (2,5 juta yen) serta potensi masuknya Chery memberikan dinamika baru yang menarik untuk disimak dalam beberapa tahun ke depan.

Load More