- BYD berekspansi ke pasar otomotif Jepang dengan meluncurkan mobil listrik mungil Racco hasil rekrutmen insinyur lokal berpengalaman.
- Chery berencana memasuki pasar Jepang untuk menjaga pertumbuhan bisnis global di tengah persaingan ketat industri otomotif dunia.
- Mobil listrik asal China menghadapi tantangan nilai jual kembali yang rendah akibat ketidakpastian dukungan purnajual dan perkembangan teknologi.
Suara.com - Setelah raksasa mobil listrik BYD secara terang-terangan meluncurkan strategi invasinya ke Jepang, kini perhatian mulai tertuju pada Chery yang juga diprediksi akan menyusul kesuksesan kompetitor senegaranya itu di pasar global.
Pasar otomotif Jepang yang selama ini didominasi oleh pabrikan lokal seperti Toyota, Nissan, dan Suzuki kini mulai kedatangan tamu agresif dari Negeri Tirai Bambu.
Ekspansi ini membuktikan bahwa brand China tidak lagi sekadar mengekor, melainkan siap bertarung di "kandang macan" industri otomotif dunia.
BYD "Buka Lahan"
BYD sendiri sudah mengambil langkah konkret dengan menyiapkan model Racco, sebuah mobil listrik mungil yang masuk dalam kategori K-Car, segmen paling populer di Jepang.
Tidak tanggung-tanggung, mereka merekrut Hirohide Tagawa, seorang insinyur veteran dari Nissan yang dikenal sebagai visioner di balik suksesnya model Nissan Sakura dan Dayz.
Strategi merekrut talenta lokal ini bertujuan agar desain dan spesifikasi mobil mereka benar-benar sesuai dengan regulasi ketat dan selera unik konsumen Jepang.
Racco sendiri dibekali baterai 20 kWh dengan jarak tempuh sekitar 180 km, yang sangat ideal untuk mobilitas perkotaan di jalanan Jepang yang sempit.
Tantangan Chery
Baca Juga: Muncul Ancaman 'Submarining', Fitur Kursi Mewah pada Mobil Listrik Bersiap Diharamkan?
Lalu, bagaimana dengan Chery? Di pasar internasional, Chery melalui model seperti Chery Q terus menunjukkan taringnya dengan spesifikasi yang sangat kompetitif, bahkan sering kali membuat brand mapan seperti Wuling Air ev atau BYD Atto 1 harus waspada.
Dengan tren pasar otomotif China yang mulai memasuki tahap jenuh, ekspansi ke negara dengan standar kualitas tinggi seperti Jepang menjadi langkah logis bagi Chery untuk menjaga pertumbuhan mereka.
Kehadiran Chery di bursa mobil internasional juga memberikan alternatif bagi konsumen yang mencari teknologi canggih namun tetap dengan harga yang masuk akal.
Namun, di balik gempuran fitur dan harga murah yang ditawarkan mobil listrik China, ada sebuah catatan penting yang perlu diperhatikan oleh calon pembeli, terutama soal nilai jual kembali atau resale value.
Berdasarkan data terbaru dari Eropa, mobil listrik asal China mengalami depresiasi atau penurunan harga yang jauh lebih cepat, bahkan hingga dua kali lipat dibandingkan rata-rata industri otomotif lainnya.
Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian dukungan jangka panjang terkait suku cadang dan jaringan dealer di luar negara asalnya.
Selain itu, pesatnya perkembangan teknologi di China membuat model yang hari ini dianggap canggih bisa terasa ketinggalan zaman hanya dalam hitungan bulan, yang secara otomatis menjatuhkan harga bekasnya di pasar, menurut Carscoops.
Persaingan di Jepang dipastikan akan sangat ketat karena konsumen di sana sangat loyal terhadap brand domestik.
Meski begitu, kehadiran BYD dengan Racco seharga kurang lebih Rp277 juta (2,5 juta yen) serta potensi masuknya Chery memberikan dinamika baru yang menarik untuk disimak dalam beberapa tahun ke depan.
Berita Terkait
-
Muncul Ancaman 'Submarining', Fitur Kursi Mewah pada Mobil Listrik Bersiap Diharamkan?
-
Mengenal Tiga Tipe iCAR V23 SUV Listrik Modern Bergaya Klasik
-
Sinyal Bahaya dari China Saat Pasar Otomotif Mulai Masuki Tahap Jenuh
-
Teknologi Hybrid Jadi Solusi Perjalanan Irit Tanpa Repot Antre Charge
-
Mobil Listrik Ferrari Panen Hujatan Setelah Umumkan Harga Resmi
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
Terkini
-
Suzuki Jimny Versi Mini Meluncur, Harga Cuma Rp200 Jutaan
-
Muncul Ancaman 'Submarining', Fitur Kursi Mewah pada Mobil Listrik Bersiap Diharamkan?
-
Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
-
Sinyal Kuat Suzuki Rilis Jimny 'Upgrade Nyata' dengan Iming-iming Harga Tetap
-
Jadwal Lengkap Moto3 Italia: Mampukah Veda Ega Harumkan Indonesia di Sirkuit Mugello?
-
Bobot Ringan Bak Diet Ketat, Tapi Bagasinya Kalahkan NMAX! Kok Bisa Yamaha Bikin Skutik Seperti Ini?
-
Plus Minus Pinang Honda Scoopy di 2026, Kenapa Skutik Ini Tetap Jadi Favorit Pengendara Wanita?
-
6 Masalah Klasik Toyota Agya Bekas, Ketahui sebelum Membeli
-
Update Harga BBM SPBU Swasta Terbaru per Akhir Mei 2026, Shell hingga BP-AKR
-
Mengenal Tiga Tipe iCAR V23 SUV Listrik Modern Bergaya Klasik