Konsumen Eropa Beralih Beli Mobil Listrik Bekas Asal China Akibat Aturan Impor

Senin, 02 November 2026 | 19:35 WIB
Ilustrasi Mobil Listrik. [Freepik]
BACA 10 DETIK
  • Konsumen Eropa mengalihkan pembelian ke mobil hibrida baru dan listrik bekas akibat tarif impor.
  • Uni Eropa menerapkan kuota impor hibrida baru yang memicu lonjakan penjualan mobil bekas sebesar 280 persen.
  • China EV Marketplace menjual ribuan mobil listrik bekas dengan harga jauh lebih rendah dari harga resmi.

Suara.com - Konsumen Eropa yang ingin mengimpor mobil dari China beralih ke mobil hibrida plug-in (PHEV) baru dan mobil listrik berbasis baterai (BEV) bekas selama dua tahun terakhir. Langkah ini menyusul kenaikan tarif impor BEV dari China hingga 45,3 persen pada 2024.

Mengutip informasi China EV Marketplace (CEVM) sebagaimana dilansir dari CarNewsChina menyebutkan, peralihan terjadi karena kendaraan model PHEV baru dan BEV bekas tidak dikenai bea masuk imbalan. Namun, tren kembali berubah setelah Uni Eropa memberlakukan batas kuota impor baru sebanyak 350 ribu unit untuk kendaraan hibrida dari China.

Kebijakan tersebut mendorong konsumen beralih ke mobil bekas yang tidak dikenai bea masuk imbalan 45,3 persen maupun pembatasan kuota impor. Menurut data CEVM, penjualan kendaraan bekas kepada konsumen di Uni Eropa selama Januari hingga September 2026 meningkat 280 persen secara tahunan menjadi 7.900 unit, sedangkan penjualan kendaraan barunya turun 44 persen.

"Tarif telah melemahkan permintaan konsumen Eropa kami terhadap BEV baru asal China. Kami memperkirakan pembatasan kuota impor hibrida juga akan menekan penjualan PHEV baru," kata Chief Operating Officer EV Marketplace, Jakub Gersl.

"Mobil bekas dikecualikan dari tarif tambahan BEV dan kuota baru untuk kendaraan hibrida (PHEV). Itulah sebabnya kami menjadikan kendaraan bekas sebagai fokus utama bisnis kami di Eropa," katanya.

CEVM saat ini menawarkan lebih dari 2.600 unit mobil listrik bekas melalui situs webnya. Daftar yang diperbarui setiap hari mencakup merek seperti Xiaomi, BYD, iCar, Denza, Lynk&Co, dan Avatr. Menurut CEVM, harga kendaraan tersebut jauh di bawah harga eceran yang disarankan produsen akibat persaingan ketat di China.

"Harga mobil baru yang lebih rendah turut menekan harga mobil bekas," kata Geršl.

"Tim kami yang berbasis di Shanghai mencari peluang-peluang tersebut. Kami sering menemukan mobil dengan jarak tempuh sekitar 6.000 km yang dijual dengan harga 40 persen lebih rendah dari harga daftar resmi di China," katanya.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com