Suara Ponorogo - Masyarakat Dusun Nguncup, Desa Bekiring, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo semakin dilanda kekhawatiran yang mendalam seiring dengan meningkatnya intensitas tanah gerak di daerah mereka.
Menurut laporan terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo, tanah gerak telah menyebabkan 14 rumah terdampak, memaksa 14 kepala keluarga atau sekitar 36 jiwa untuk mengungsi. Dari rumah-rumah yang terdampak, empat di antaranya mengalami kerusakan parah.
Suparmi, salah satu warga yang terpaksa mengungsi, berbagi kisah pahitnya tentang kehidupan sehari-hari yang dipenuhi ketakutan dan kecemasan.
"Karena tanah gerak saya sudah Mengungsi 2 bulan lamanya akibat rumah saya hancur dan takut untuk kembali menempati rumah” ujarnya dengan suara tertekan. Satu-satunya rumah yang dimiliki oleh Suparmi telah hancur retak-retak dan tidak lagi memiliki bentuk yang layak huni. Setiap hari, dia hidup dalam ketakutan mendalam dan kekhawatiran akan runtuhnya rumah yang selalu bergerak.
Kepala Desa Bekiring, Agus Santoso, mengungkapkan bahwa permasalahan tanah gerak ini telah terjadi sejak tahun 2017, namun kondisinya semakin memburuk pada tahun 2023.
"Kali ini, ada 14 kepala keluarga dengan total 36 jiwa yang terpaksa mengungsi. Masyarakat sangat traumatik dengan keadaan ini. Mereka meminta adanya relokasi karena setiap hari mereka mendengar gemuruh di sekitar mereka," paparnya.
Agus Santoso juga telah mengajukan permohonan relokasi kepada pihak berwenang. Dia menyampaikan bahwa masyarakat berharap dapat direlokasi ke tanah yang dimiliki oleh Perhutani.
"Masyarakat sangat takut karena tanah terus bergerak dan berbunyi, meskipun tidak ada hujan. Akibatnya, beberapa warga mengalami kerusakan. Mereka berharap untuk segera direlokasi," tambahnya dengan nada prihatin.
Sebelumnya, kekhawatiran mengenai tanah gerak di Dukuh Nguncup, Desa Bekiring, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo sudah menjadi perhatian serius. Pada bulan Maret 2023, warga hanya mengungsi pada malam hari atau saat hujan. Namun, situasinya semakin memburuk sehingga mereka sekarang memilih untuk mengungsi secara permanen karena keparahan tanah gerak.
Baca Juga: Prabowo Nyapres Lagi di 2024, Gerindra Dianggap Gagal Kaderisasi Bibit-bibit di Internal Partai
Saat ini, puluhan warga telah mengungsi di tenda-tenda yang didirikan oleh BPBD Ponorogo dan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A). Tindakan tanggap dan bantuan dari pemerintah daerah ini merupakan langkah penting untuk memberikan perlindungan sementara bagi mereka yang terdampak.
Peristiwa ini menunjukkan perlunya respons yang humanis dan kritis terhadap tantangan bencana alam. Selain menangani pengungsian, perlu upaya yang berkelanjutan untuk memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi, termasuk pelayanan kesehatan, sanitasi, air bersih, dan dukungan psikososial.
Pemerintah daerah perlu bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), untuk mengidentifikasi dan menganalisis penyebab serta risiko tanah gerak ini secara mendalam. Langkah-langkah preventif dan mitigasi yang tepat harus segera diambil untuk melindungi masyarakat dan lingkungan dari ancaman yang semakin memprihatinkan ini.
Dalam situasi seperti ini, solidaritas dan empati dari masyarakat luas juga sangat dibutuhkan. Bantuan dan dukungan moral kepada para pengungsi serta keluarga yang terdampak dapat memberikan harapan dan kekuatan bagi mereka yang sedang menghadapi cobaan berat ini.
Kami berharap pemerintah daerah, otoritas terkait, dan masyarakat secara bersama-sama dapat menghadapi tantangan ini dengan kepedulian, kemanusiaan, dan kebijaksanaan.
Semoga solusi yang komprehensif dan berkelanjutan dapat ditemukan untuk mengatasi permasalahan tanah gerak di Dusun Nguncup dan memberikan masa depan yang lebih aman bagi masyarakat yang terdampak.
Berita Terkait
-
Ponorogo Creative Festival: Menumbuhkan Kreativitas dan Menggugah Generasi Muda di Ponorogo
-
Anies Baswedan Mempererat Ikatan Spiritual dengan Ponorogo: Jejak Warisan Spiritual dan Pertemuan dengan Peninggalan Leluhur
-
Bayi Tanpa Tempurung Kepala di Ponorogo Meninggal, Keluarga Mengungkap Kronologi yang Mengharukan
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Bangkit Lagi? Cek Perkiraan Harga HP Midrange Vivo S2 yang Dirumorkan Comeback Tahun Ini
-
Mortal Kombat 2 Raup Puluhan Miliar Sebelum Tayang, Siap Ikuti Kesuksesan Super Mario?
-
Upaya Duda Lina Jubaedah Jadikan Bintang Ahli Waris Berakhir Tragis, Hakim Nilai Cacat Formil
-
Kembalinya Mahkota Raja Pajajaran, Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda Pukau Warga Bogor
-
Ketika Bantuan Pendidikan Tidak Selalu Sampai pada Kebutuhan Anak
-
Sinopsis Film Backrooms: Teror Ruangan Kosong yang Penuh Gore dan Misteri
-
Realita Kehidupan Dewasa yang Tidak Selalu Indah di Buku Rapijali 3
-
Ini Program Wali Kota Solo untuk Mengentaskan Angka Pengangguran dan Kemiskinan
-
Sampah Hari Ini, Ancaman Masa Depan: Gen Z Tak Boleh Acuh pada Lingkungan
-
Tangisan Driver Ojol Penghasilannya Turun Drastis, Dulu Bisa Rp300 Ribu Per Hari, Sekarang Sulit