- Kementerian PU menguji coba pengaliran air DI Jambo Aye, Aceh Utara, pada 31 Januari 2026 untuk menghidupkan pertanian pascabencana.
- Bencana hidrometeorologi pada November 2025 merusak irigasi seluas 19.473 hektare yang bersumber dari Sungai Jambo Aye.
- Pemulihan bertahap menargetkan 7.046 hektare irigasi berfungsi penuh pada akhir Maret 2026 guna jaga ketahanan pangan.
Suara.com - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mulai menghidupkan pertanian di Aceh Utara pascabencana hidrometeorologi. Salah satu langkah yang ditempuh yakni melakukan uji coba pengaliran air Daerah Irigasi (DI) Jambo Aye di Kabupaten Aceh Utara pada 31 Januari 2026.
Uji coba tersebut dilakukan sebagai bagian dari percepatan pemulihan layanan irigasi bagi lahan pertanian masyarakat yang sempat terhenti akibat bencana. Pemerintah menargetkan pemulihan irigasi bisa segera dirasakan petani agar aktivitas tanam tidak tertunda lebih lama.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, keberlanjutan layanan irigasi menjadi fokus utama kementeriannya, terutama di wilayah sentra produksi pangan. Menurut dia, fungsi irigasi memiliki kaitan langsung dengan ketahanan pangan dan penghidupan petani.
“Irigasi adalah tulang punggung pertanian. Begitu terjadi gangguan, harus segera cepat ditangani agar saluran kembali berfungsi,” kata Dody kepada wartawan, Jumat (6/2/2026).
DI Jambo Aye yang berada di Kecamatan Langkahan diketahui memiliki luas layanan sekitar 19.473 hektare. Sumber air utama irigasi ini berasal dari Sungai Jambo Aye atau Arakundo yang selama ini menopang ribuan hektare sawah masyarakat.
Namun, operasional sistem irigasi tersebut sempat terhenti akibat bencana hidrometeorologi pada 26 November 2025. Bencana itu menyebabkan kerusakan pada bangunan utama bendung, jaringan irigasi, serta sejumlah sarana dan prasarana pendukung.
Sejak masa tanggap darurat, Kementerian PU melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I Aceh langsung melakukan penanganan awal. Langkah yang dilakukan antara lain pembersihan sedimen dan material banjir di bangunan bendung, kantong lumpur, serta saluran irigasi.
Upaya tersebut ditujukan untuk memulihkan kembali fungsi layanan air ke areal persawahan masyarakat. Setelah tahapan darurat, pemulihan dilanjutkan dengan uji coba pengaliran air pascabencana.
Dalam uji coba tersebut, air dialirkan melalui saluran primer BJA 0 hingga BJA 5 sepanjang kurang lebih 15 kilometer. Untuk mendukung kelancaran pekerjaan di lapangan, Kementerian PU mengerahkan sembilan unit alat berat di sejumlah titik jaringan irigasi.
Baca Juga: Begini Spesifikasi Huntara di Aceh Tamiang untuk Korban Bencana
Pemulihan DI Jambo Aye dilakukan secara bertahap. Sub DI Panton Labu dengan luas layanan sekitar 2.700 hektare ditargetkan kembali beroperasi pada akhir Februari 2026.
Sementara itu, Sub DI Lhoksukon seluas sekitar 1.381 hektare, Sub DI Monsukon sekitar 590 hektare, dan Sub DI Arakundo sekitar 2.375 hektare ditargetkan dapat difungsionalkan pada akhir Maret 2026.
Dengan target tersebut, total luas areal irigasi yang diperkirakan kembali berfungsi hingga akhir Maret 2026 mencapai sekitar 7.046 hektare. Pemerintah berharap pemulihan ini dapat menjaga keberlanjutan aktivitas pertanian dan meningkatkan produktivitas lahan sawah.
Selain itu, percepatan pemulihan DI Jambo Aye diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan masyarakat Aceh Utara di tengah proses pemulihan pascabencana.
Berita Terkait
-
Kementerian PU Angkut 698 Ton Sampah dari Aceh
-
PU Kebut Normalisasi Sungai Aek Doras, Upaya Redam Ancaman Banjir di Sibolga
-
Kementerian PU Mulai Tambal Lubang Jalan Nasional di Aceh Tamiang Pascabencana
-
Kekeringan Landa Padang, Kementerian PU Respon Cepat Krisis Air di Padang
-
Tinjau Banjir Aek Garoga, Menteri PU Dorong Normalisasi Sungai hingga Sabo Dam
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Tak Turun Kasta, MSCI Tetap Pertahankan Pasar Saham RI di Emerging Market
-
ESDM Akui Tahan Ekspor Batu Bara Demi PLN, Masalah Pasokan PLTU Terungkap di Tengah Pemadaman
-
Wujud Nyata Komitmen ESG, Pegadaian Gelar Khitanan Massal 2026 Bagi 500 Anak
-
Marak Transaksi Palsu di Tokopedia, Pemerintah Gregetan!
-
Soal Laporan ke KPK, ITDC Klaim Tak Punya Wewenang Atur Dana Relokasi Mandalika
-
Menkeu Purbaya Legalkan Pencucian Uang Lewat Patriot Bond?
-
Investor Asing Masih Asik Jual Saham di RI, BMRI dan DSSA Jadi Incaran
-
Lahan Meikarta Bakal jadi Aset Negara? Maruarar Segera Urus Legalitas
-
Terungkap! Dua PLTU Raksasa di Cilacap Sempat Bermasalah, Jadi Pemicu Pemadaman Bergilir di Jawa
-
Listrik Pulau Jawa Gelap Gulita, Siapa yang Bertanggung Jawab?