Poptren.suara.com - Elon Musk pendiri Tesla dan sosok di balik terciptanya teknologi kecerdasan buatan (AI) ChatGPT, memperingatkan bahwa AI adalah 'salah satu risiko terbesar' bagi peradaban.
Meski ChatGPT menunjukkan bahwa kecerdasan buatan telah menjadi sangat canggih, ini adalah sesuatu yang harus kita khawatirkan, demikian miliarder teknologi itu.
"Salah satu risiko terbesar bagi masa depan peradaban adalah AI," kata Musk kepada para peserta World Government Summit di Dubai, Uni Emirat Arab, mengutip CNBC.
"Hal ini bisa positif atau negatif dan memiliki potensi yang besar, janji yang besar, dan kemampuan yang besar," kata Musk. Namun, ia menekankan bahwa "dengan itu ada bahaya besar," tandasnya.
Bos Tesla, SpaceX, dan Twitter ini pun ditanyai soal bagaimana ia melihat perkembangan teknologi 10 tahun ke depan.
Seperti kita tahu, Musk adalah salah satu pendiri OpenAI, sebuah perusahaan rintisan di Amerika Serikat yang mengembangkan ChatGPT sejak 2015, sebuah alat yang diprogram untuk memahami bahasa manusia dan menghasilkan respons berdasarkan data dalam jumlah besar.
"ChatGPT telah mengilustrasikan kepada orang-orang betapa canggihnya AI," menurut Musk.
"AI telah maju untuk sementara waktu. Hanya saja, saat itu belum ada antarmuka pengguna yang dapat diakses oleh kebanyakan orang."
Ia juga menambahkan, bahwa AI belum memiliki aturan atau regulasi yang menjaga perkembangannya tetap terkendali, seperti pada industri mobil, pesawat terbang, dan obat-obatan, yang harus mematuhi standar keamanan yang telah ditetapkan.
Baca Juga: Kisah Ojol yang Kini Jadi Mentor AI di AWS: Bangga Bisa Diapresiasi Pak Ilham Babibie
"Saya pikir kita perlu mengatur keamanan AI, sejujurnya," kata Musk.
"Menurut saya, ini adalah risiko yang lebih besar bagi masyarakat ketimbang mobil atau pesawat atau obat-obatan."
Miliarder ini memang telah lama memperingatkan soal bahaya pengembangan AI yang tak terkendali. Dia pernah mengatakan bahwa kecerdasan buatan "jauh lebih berbahaya" ketimbang hulu ledak nuklir.
Meski tak pernah disebutkan penyebabkan, Musk memang telah meninggalkan dewan direksi OpenAI pada tahun 2018, dan tidak lagi memiliki saham di perusahaan tersebut.
"Awalnya dibuat sebagai nirlaba sumber terbuka. Sekarang sudah menjadi sumber tertutup dan untuk mencari keuntungan. Saya tidak memiliki saham terbuka di OpenAI, saya juga tidak duduk di dewan direksi, dan saya juga tidak mengendalikannya dengan cara apa pun."
Salah satu alasan Musk memutuskan untuk mendirikan OpenAI--saat itu--adalah karena "Google tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap keamanan AI," katanya.
Kehadiran ChatGPT bahkan telah menyebabkan pertarungan sengit antara Google dengan Microsoft. Seperti kita tahu, Microsoft adalah perusahaan yang telah berinvestasi di OpenAI dan mengintegrasikan perangkat lunaknya ke dalam peramban web, Bing.
Google membalas ChatGPT dengan alat saingannya sendiri, yang disebut Bard. Perusahaan ini sedang mengejar ketertinggalan, karena para investor mempertanyakan apakah ChatGPT akan menjadi ancaman bagi dominasinya dalam peramban web.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik
-
Kebakaran Desa Adat Sade, Gubernur NTB Ungkap Dugaan Awal: Masalah Listrik
-
BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tak Saling Salahkan soal Asap Karhutla
-
Ratu Tisha: Sepak Bola dan Pendidikan Dapat Berjalan Beriringan