Selasa, 08 Agustus 2023 | 18:55 WIB
Ilustrasi pemeriksaan Prostate Health Index. (Dok: Istimewa)

Suara.com - Kanker prostat merupakan kanker kedua yang paling banyak terjadi pada pria di dunia, dan lebih sering terjadi pada pria berusia 60 tahun ke atas.

Namun seiring dengan bertambahnya usia, risiko kanker prostat semakin tinggi. Saat ini banyak kasus kanker prostat yang terjadi pada pria berusia lebih muda, yaitu di bawah 40 tahun.

The American Cancer Society’s memperkirakan, sekitar 288.300 kasus kanker prostat baru dan sekitar 34.700 kematian disebabkan oleh kanker prostat di Amerika Serikat pada 2023. Di Indonesia, Global Cancer Statistics menunjukkan bahwa kanker prostat adalah kanker kelima yang paling umum terjadi pada pria, dengan jumlah kasus baru sebanyak 13.563 pada 2020.

Sebanyak 70% pria yang terdiagnosa dengan kanker prostat baru mencari pengobatan medis ketika sudah terlambat. Oleh karena itu, deteksi dini kanker prostat sangat diperlukan untuk pria dimulai pada usia 40 tahun.

RS Grha Kedoya (RSGK), sebagai salah satu rumah sakit swasta yang berlokasi di Jakarta Barat, berusaha mewujudkan visinya menjadi rumah sakit swasta yang selalu melakukan terobosan baru di bidang pelayanan medis.

Dr. Henry Andrean, MHS (HA), MARS, Direktur RS Grha Kedoya menjelaskan bahwa Rumah Sakit Grha Kedoya selalu melakukan inovasi di bidang pelayanan medis.

Inovasi PHI
Saat ini, RS Grha Kedoya menyuguhkan pemeriksaan Prostate Health Index (PHI), yang merupakan salah satu pemeriksaan darah, yang bersifat non-invasive, dengan kemampuan 2.5 kali lebih spesifik dalam mendeteksi adanya kanker prostat, dibandingkan dengan pemeriksaan Prostate Specific Antigen (PSA). Pemeriksaan PHI yang selama ini dilakukan terbukti menurunkan keperluan biopsi prostat yang bersifat invasif.

PSA adalah jenis pemeriksaan darah yang mengukur level antigen untuk mendeteksi secara dini kanker prostat yang paling sering digunakan saat ini di Indonesia. Sel kanker cenderung memproduksi PSA lebih banyak, sehingga pada pasien dengan kanker prostat terdapat lonjakan level PSA ketika pemeriksaan dilakukan.

Namun penggunaan PSA sebagai skrining, seringkali menyebabkan over-diagnosis dan meningkatkan biopsi yang tidak perlu. Hal ini disebabkan karena beberapa penyakit juga meningkatkan kadar PSA selain kanker, antara lain Benign Prostatic Hyperplasia (BPH), inflamasi, faktor usia, dan penggunaan obat-obatan tertentu.

Baca Juga: Waspada Serangan Jantung Saat Tidur, Begini Cara Pencegahannya!

Keputusan biopsi pada pasien dengan kriteria klinis mengarah pada kanker prostat tidak mudah. Lebih dari 2/3 pria dengan hasil pemeriksaan rektal digital tanpa kelainan dan hasil tPSA berkisar 4 sampai 10 ng/mL, memberikan hasil bukan kanker.

Sedangkan tindakan biopsi sendiri merupakan tindakan invasif yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi pada pasien seperti perdarahan, nyeri dan infeksi.

“Biopsi merupakan suatu prosedur medis untuk mengangkat sampel jaringan tubuh, lalu diamati di bawah mikroskop. Sampai saat ini, biopsi prostat masih menjadi teknik diagnostik (gold standard) dalam mendeteksi kanker prostat. Biopsi prostat dilakukan jika didapatkan tiga indikasi umum, yaitu kelainan pada pemeriksaan rektal digital, peningkatan kadar PSA, dan kecurigaan klinis kanker prostat," ujar Dr. Johanes W. Sulistyo, Sp.U dokter spesialis Urologi RS Grha Kedoya.

PHI merupakan pemeriksaan kombinasi dari tiga hasil kuantitatif pemeriksaan total PSA (tPSA), free PSA (fPSA), dan [-2]proPSA (p2PSA) yang diterjemahkan ke dalam suatu skor numerik tunggal (phi score): (p2PSA/fPSA x tPSA).

PHI telah diakui oleh Food and Drug Administration (FDA) sejak 2012 sebagai pemeriksaan yang bertujuan untuk membedakan kanker prostat dengan kondisi pembesaran prostat jinak lainnya pada pasien-pasien pria yang hasil pemeriksaan rektal digitalnya tidak menunjukkan kelainan dan hasil serum tPSA berkisar 4 sampai 10 ng/mL.

PHI diharapkan dapat memberi angin segar kepada pasien, terutama pada pasien dengan hasil skrining PSA total berada di angka 4-10 ng/mL.

Load More