/
Senin, 14 Agustus 2023 | 09:34 WIB
Ilustrasi twibbon hari Pramuka. ((Freepik))

Berbagai gerakan kepanduan yang muncul membuat bidang kepanduan berkembang pesat di Indonesia. Bahkan, sampai menarik perhatian dari Bapak Pandu Dunia Lord Baden-Powell.

Kala itu, Powell sempat mengunjungi beberapa organisasi kepanduan di Batavia, Semarang, dan Surabaya pada 1934.

Bahkan, perwakilan gerakan kepanduan Indonesia sempat mengikuti Jambore Kepanduan Dunia di Belanda pada 1937.

Kemudian, Indonesia juga mendirikan Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem (All Indonesia Jambore) di Yogyakarta pada 19-23 Juli 1941.

Lahirnya Pandu Rakyat Indonesia
Keikutsertaan Indonesia dalam Jambore Kepanduan Dunia dan pendirian Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem menjadi cikal bakal terlaksananya Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia di Surakarta, Jawa Tengah pada 29 Desember 1945.

Hasilnya, terbentuklah Pandu Rakyat Indonesia. Namun, Pandu Rakyat Indonesia sempat dilarang berdiri di daerah yang dikuasai Belanda pada masa Agresmi Militer 1948.

Hal ini membuat masyarakat mendirikan beberapa organisasi kepanduan baru seperti Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), dan Kepanduan Indonesia Muda (KIM).

Totalnya, ada sekitar 100 organisasi kepanduan pada masa itu dan semuanya tergabung dalam wadah besar bernama Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo).

Sayangnya, jumlah organisasi ini tidak sebanding dengan jumlah anggota perkumpulannya dan masih terpecah-pecah.

Baca Juga: Teaser NCT 2023 CONNECTION: Taeyong Mencari Inspirasi Musik di New York

Sejarah Hari Pramuka Indonesia

Sejarah Hari Pramuka Indonesia 14 Agustus berlanjut pada munculnya gagasan untuk membentuk wadah kepanduan nasional bernama Pramuka.

Gagasan itu muncul dari Presiden Soekarno dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang merupakan Pandu Agung. Mereka ingin ada peleburan berbagai organisasi kepanduan di Indonesia.

Soekarno mengungkapkan gagasan itu ketika mengunjungi Perkemahan Besar Persatuan Kepanduan Putri Indonesia di Desa Semanggi, Ciputat, Tangerang pada Oktober 1959.

Setelah itu, Presiden Soekarno menunjuk Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prijono, Azis Saleh, Achmadi, dan Muljadi Djojo Martono untuk menjadi panitia Gerakan Pramuka dalam rangka mempersiapkan organisasi tersebut.

Selanjutnya, Pramuka sebagai wadah gerakan kepanduan di Indonesia diresmikan pada 9 Maret 1961. Momen penting ini kini diperingati sebagai Hari Tunas Gerakan Pramuka.

Kemudian, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka pada 20 Mei 1961. Momen tersebut dikenal sebagai Hari Permulaan Tahun Kerja.

Pada 20 Juli 1961, para wakil organisasi kepanduan di Indonesia mengeluarkan pernyataan untuk meleburkan diri ke Gerakan Pramuka di Istana Olahraga Senayan.

Barulah pada 14 Agustus 1961, Gerakan Pramuka diperkenalkan ke publik secara resmi dalam upacara di halaman Istana Negara.

Pada momen tersebut, Presiden Soekarno sekaligus menyerahkan Panji Gerakan Pramuka kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang menjadi Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka periode pertama.

Maka dari itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia. Sejak saat itu pula, 14 Agustus diperingati sebagai Hari Pramuka Indonesia dan dirayakan setiap tahunnya.***

Load More