SUARAPURWOKERTO. ID, Hari Kebebasan Pers se Dunia (World Press Fredom Day) yang diperingati tanggal 3 Mei menjadi ajang refleksi tentang isu kebebasan pers dan etika. Dalam menjalankan tugasnya yang mulia, jurnalis dituntut tetap menjunjung independensi dan profesionalitas.
Profesionalisme jurnalis tidak boleh diganggu gugat, bahkan oleh perusahaan pers tempat dia bekerja. Sayangnya, profesionalisme dan independensi jurnalis kerap diuji ketika dihadapkan pada kepentingan pengusaha atau pemilik media.
Jurnalis kerap dipaksa menuruti syahwat ekonomi pengusaha yang memerkerjakannya.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Sasmito Madrim mengatakan, intervensi pengusaha yang bisa mereduksi profesionalisme jurnalis sebenarnya bisa dicegah melalui Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang meripakan pedoman kerja sama pekerja dengan perusahaan.
Di dalam PKB itu, perlu diatur agar jurnalis bisa bekerja dengan tetap menjunjung kebebasan dan etika pers.
“Profesionalisme bisa diatur di PKB, sehingga pengusaha gak memaksa. Misal manajemen tidak boleh mencampuri urusan redaksi,”katanya saat Webinar Tantangan Profesionalisme dan Kesejahteraan Jurnalis di Era Digital yang diselenggarakan AJI Indonesia bersama AJI Purwokerto, Sabtu (14/5/2022)
Di sisi lain ia menilai penting jurnalis bergabung dalam serikat pekerja atau organisasi profesi agar hak-haknya terlindungi, termasuk soal kesejahteraan. AJI sendiri kerap mengadvokasi jurnalis yang bersengketa dengan perusahaannya sehingga hak mereka terpenuhi.
Mantan Pemimpin Redaksi Media Indonesia Djadjat Sudradjat menilai, aspek kesejahteraan dengan profesionalisme pers mestinya menjadi bagian integral. Terlebih profesionalitas sangat erat kaitannya dengan kompetensi.
Wartawan yang profesional, pastinya juga kompeten. Sementara kompetensi dalam setiap profesi, tak kecuali jurnalis, harusnya diapresiasi dengan kesejahteraan yang layak.
Karenanya, ia menilai terjadi paradoks jika jurnalis sudah bekerja secara profesional, namun tak dibarengi dengan pemberian gaji yang layak.
“Kalau kesejahteraan bermasalah, berarti di situ ada paradoks. Sudah bekerja profesional, kok kesejahteraan gak mengikuti,”katanya
Tantangan pers di era digital saat ini memang semakin berat. Termasuk masalah kesejahteraan jurnalis yang tak pernah selesai diperbahaskan hingga saat ini. Padahal pers mengemban tugas dan tanggung jawab berat dalam memerjuangkan kepentingan publik. Termasuk melakukan kontrol sosial terhadap pemerintah.
Ia membandingkan dengan lembaga politik semisal DPR yang diberi tugas mengontrol dan mengkritisi kinerja pemerintah, namun kesejahteraannya dijamin negara.
Ini berbeda dengan pers yang harus menghidupi diri sendiri agar tetap bisa menjalankan tugas mulianya. Pers bekerja untuk publik, namun publik tak membayar mereka.
“Pers punya fungsi tanggung jawab berat. Tapi kalau habis menulis mengkritisi, kontrol sosial kemudian memikirkan apa yang dimakan besok, celaka sekali. Negara harus hadir bagaimana caranya (fasilitasi). Tapi jangan dipakai untuk mendukung pemerintah,”katanya
Berita Terkait
-
Era Digital Banjiri Keinginan, Pengamat Ingatkan Pentingnya Mengelola Hasrat
-
GKR Hemas Ajak Generasi Muda Bangun Kepemimpinan Berbasis Nilai Budaya
-
Warkop DKI: Petualangan Kocak Trio Legend Berburu Cuan di Era Digital
-
Bijak Berbagi Data, Cara Sederhana Melindungi Diri di Era Digital
-
Butuh atau Cuma Incar Promo? Realita Belanja Tanggal Kembar di Era Digital
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Kelangkaan Pertalite Meluas, ESDM Turunkan Tim Usut Masalah Distribusi BBM
-
Babak Baru Kasus Ijazah Jokowi: Jaksa Minta Hakim Abaikan Keberatan Dokter Tifa, Ini Alasannya
-
Mimpi Jadi Raksasa Semikonduktor: Mampukah Indonesia Lepas dari Candu Batu Bara?
-
ITSEC Asia Luncurkan Bronyx AI, AI Lokal yang Pangkas Penetration Testing Jadi Hitungan Jam
-
Kenapa Moisturizer Bikin Wajah Kusam? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
-
Dari Atas Kursi Roda, Yuda Tak Lelah Berburu Mimpi di Job Fair Yogyakarta
-
Pemuda Standing Motor Ditemukan Meninggal Mengapung di Sungai Kampar
-
Respons Lonjakan Trafik Data, Indosat Targetkan 1.100 Titik 5G di Bali-Nusra pada Akhir 2026
-
Sampai Kapan Pun Iran Tolak Tunduk ke Amerika, Selat Hormuz Tetap Ditutup
-
Appi: Saya Masih Tetap Kader Partai Golkar