/
Selasa, 08 November 2022 | 09:30 WIB
(iStock.com)

PURWOKETO.SUARA.COM – Gawai yang  terhubung  sistem  daring  dengan  berbagai  fitur  ibarat  pisau  bermata  dua. yang bisa bermanfaat, tetapi juga bisa membahayakan kehidupan anak-anak. Sejumlah anak mengalami "gangguan jiwa" akibat kecanduan gawai.

Selain  menjadi  alat  komunikasi  dan sumber  informasi,  gawai  yang  dilengkapi  berbagai fitur juga menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengakses media sosial, gim, dan fitur lainnya secara daring yang belum sesuai untuk usianya.

Bahkan, penggunaan gawai yang terus-menerus tanpa mengenal waktu berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak serta membuat anak kecanduan atau adiksi gawai. Fenomena  anak-anak  yang  kecanduan  gawai  setidaknya  semakin  terlihat  dalam  lima tahun  terakhir. 

Meskipun  belum  ada  angka  pasti  berapa  persentase  dan  jumlah  anak yang  mengalami  gejala  kecanduan  atau  kecanduan  gawai,  dari  sejumlah  kasus  yang terungkap   di   publik,   hasil   kajian,   survei,   dan   penelitian   menunjukkan   fenomena kecanduan  gawai  pada  anak.

Bahkan jika dilihat  saat  ini  berada  pada  situasi  mengkhawatirkan.  Tak  hanya menjadi  korban, anak-anak  juga  terlibat  dalam  sejumlah  kasus  yang  masuk  kategori tindak pidana. Memang bermain gawai tidak hanya digemari oleh kalangan dewasa saja. Akan tetapi saat ini anak-anak apalagi yang masih balita suka bermain gadget. Meskipun hanya sekedar nonton kartun lewat youtube. 

Hal ini jika dibiarkan secara terus menerus maka akan berdampak buruk terhadap tumbuh kembang anak. Namun, hal tersebut bisa diatasi jika anak maupun balita diberikan beberapa permainan yang membuat anak semakin aktif dan tidak mengandalkan permainan yang ada dalam smartphone saja.

Seperti yang dilansir Antara Psikolog klinis anak dan remaja Adisti Fathimah Soegoto M.Psi, Psikolog, BFRP merekomendasikan beberapa ide permainan yang dapat orangtua mainkan bersama anak tanpa harus menggunakan gawai, salah satunya memecahkan gelembung.

Bach Flower Practitioner itu melalui siaran persnya awal pekan lalu juga mengatakan bahwa saat melakukan permainan ini, orangtua dapat meniup gelembung busa (bubble) dan meminta anak untuk memecahkannya dengan anggota tubuh tertentu.

Menurut Adisti dari permainan yang sederhana ini, anak belajar mengenai bagaimana mengikuti aturan. Ide kedua yakni bermain masak-masakan. Orangtua dapat mengajak anak melakukan kegiatan memasak dalam lingkungan yang aman dengan main masak-masakan bersama.

Baca Juga: BRIN Sebut Saat Puncak Gerhana Bulan TotalPasang Naik Air Laut Bakal Lebih Tinggi

Beberapa permainan tersebut bisa diterapkan bagi anak maupun remaja yang sangat sulit lepas dari gadget. Agar nantinya dalam pertumbuhan anak tidak terganggu. Anak jadi lebih produktif dalam mengambil pelajaran saat bermain dengan permainan tradisional.*(ANIK AS)

Load More