PURWOKERTO.SUARA.COM – Di Jawa Tengah tidak hanya Megelang saja yang menyimpan jejak peninggalan Kolonial Belanda. Jauh di pesisir selatan Jawa Tengah memiliki banyak peninggalan kolonial yang beberapa tempat masih bisa dijumpai utamanya di Kabupaten Kebumen.
Meski diakui beragam literatur menuliskan jika Kota-kota Jawa bagian selatan memang memiliki kontradiksi perkembangan jika dibandingkan Kota di utara Jawa. Namun bukan berarti di sana tanpa ada peninggalan yang digunakan oleh pihak kolonial Belanda. Sebab pada masa itu, tanaman-tanaman yang memiliki nilai jual tinggi.
Sebut saja tembakau, tebu, dan kelapa menjadi incaran Bangsa Kolonial banyak dipusatkan di pesisir utara Jawa dan tengah Kota Jawa macam Temanggung, Kota Semarang dan Kendal.
Pun hal itu tidak membuat di sisi selatan tanpa peninggalan, sebab jika kalian berkunjung ke Kabupaten Kebumen beberapa peninggala sejarah kolonial bakal kalian temui dan bisa kalian nikmati.
Perlu diketahui Kabupaten Kebumen merupakan wilayah di Provinsi Jawa Tengah yang di sisi utara berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara. Sementara di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Purworejo.
Di sisi selatan wilayah ini memiliki garis pantai panjang yang menghadap ke Samudra Hindia. Sedangkan di sebelah barat wilayah ini berbatasan dengan Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Banyumas.
Pada masa Hindia Belanda wilayah Kebumen masuk dalam Keresidenan Kedoo (Baca. Kedu) yang mencakup Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Wonosobo.
Sehingga jangan heran jika dbeberapa wilayah ini menyimpan jejak kolonial Belanda. Bahkan di Kabupaten Kebumen peninggalan kolonial hingga saat ini menjadi jujukan wisata sejarah.
Lokasi ini beralamat di Desa Sidayu, Kecamatan Gombong, dimana peninggalannya berupa Benteng. Benteng ini memiliki sejarah panjang jika dikaitkan dengan jejak Belanda yang kala itu menduduki wilayah Jawa.
Baca Juga: Kasus Covid-19 Meningkat, Kapasitas Kuota Konser Musik Dikurangi Hingga 30 persen
Di Kebumen bangunan ini bernama Benteng Van Der Wijck, tidak sedikit juga warga yang menyebut Benteng Merah lantaran memiliki ke khas-an warna merah yang mencolok yang berasal dari bahan batu bata merah yang digunakan.
Dilihat dari arsitekturnya bangunan ini memiliki ciri paling khas dengan delapan segi oktagonal dengan luas mencapai 7.168 meter persegi. Dilansir dari laman Pemkab Kebumen, bangunan Benteng yang memiliki dua lantai itu masing-masing terdiri dari 16 ruangan berukuran besar.
Sementara ruang kecil di lantai satu berbagai dengan bermacam ukuran total terdapat 27 ruangan, sementara di lantai dua terdapat 25 ruangan. Pun pada lantai satu terdapat juga empat pintu gerbang, 72 jendela, 63 pintu antar ruangan maupun pintu keluar benteng, 8 anak tangga ke lantai dua serta dua anak tangga darurat.
Sedangkan di lantai dua, terdapat 84 jendela, 70 pintu penghubung dan empat anak tangga ke bagian atap. Atap Benteng itu pun terbuat dari batu bata merah yang sangat kuat dan kokoh.
Jika dilihat dari sisi sejarah, awal mula pendirian bangunan ini merupakan benteng pertahanan Hindia-Belanda yang dibangun sekitar abad ke 19 atau tahun 1818, atas prakarsa Jenderal Van den Bosch.
Seperti tulisanya, Nama Van Der Wijck sendiri diambil dari nama komandan pada saat itu yang karirnya cukup cemerlang seperti halnya nama Kapal yang yang sempat tenggelam di pesisir utara Jawa yang sempat diabadikan dalam novel Buya Hamka.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
5 HP Mid-Range dengan Kamera Telephoto Terbaik, Cocok untuk Konser
-
Nama Baiknya Terlanjur Rusak, Erin eks Andre Taulany Ancam ART dan Dalang Kasus dengan Denda Rp4 M
-
6 Cara Mengamankan Akun Instagram agar Tidak Diretas seperti Ahmad Dhani
-
Anomali Wisatawan RI, Kini Incar Tanggal Kembar Demi Tiket Murah
-
PERADI Profesional Dikukuhkan, Bawa Standar Baru Profesi Advokat
-
Tinggal di Kawasan Industri, Warga Pasirranji Justru Sulit Dapat Air Layak Konsumsi
-
Megawati Terima Utusan Presiden Korsel, Bahas Perdamaian Semenanjung Korea?
-
Ketika Gaji Hanya Singgah, Anak Muda Makin Belajar Menjaga Nilai Uang
-
Mantan Ketua KPPU Soroti Denda Rp 755 Miliar untuk Pinjol, Sebut Ada Kekeliruan Fundamental
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?