Roehana Koeddoes (ejaan lama) - Ruhana Kudus (ejaan baru) dengan nama Siti Roehana, lahir pada 20 Desember 1884 di Kotogadang, anak seorang jaksa Mohamad Rasjad, sebapak dengan Sutan Sjarir.
Ia menyuarakan ketidakadilan pada perempuan di Minangkabau terutama yang dirasakannya di Kotogadang melalui surat kabar (koran). Gagasan dan pesan yang dia sampaikan bermuara pada perjuangan persamaan.
Ruhana merasa, menyampaikan buah pikirannya tentang perempuan tidak cukup hanya dengan mengajar kepada murid-muridnya di Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS), tapi lebih tepat melalui medium koran.
Terlebih, koran-koran yang beredar di masa itu, lebih banyak memuat perempuan yang teraniaya. Hal yang membuat Ruhana semakin pilu bercampur geram.
“Menulis… ya… menulis, dengan menulis di surat kabar dia bisa berbuat banyak. Bisa mengamalkan ilmunya dan mengabarkan bahwa perempuan juga bisa berbuat sesuatu untuk membela nasibnya agar lebih baik, bangkit dari keterpurakan yang menyedihkan,” tulis Fitriyanti, dalam buku Roehana Koeddoes: Perempuan Sumatera Barat.
Tulisan Ruhana yang beredar melalui Sunting Melayu cukup kritis untuk tidak mengatakan keras. Dia menyinggung soal sistem Matriakat di Minangkabau, Ruhana berpandangan, sistem matriakat secara warisan mungkin baik, tapi dari segi kasih sayang hendaknya tidak boleh ada diskriminasi.
Sebagai perempuan yang terlahir dari kungkungan adat yang masih kaku, Ruhana nyatanya berpikir terbuka. Tidak primordial. Bukan hanya Minangkabau, untuk isu perempuan, Ruhana juga berbicara nasib perempuan di Jawa, bagaimana perempuan diperlakukan buruk di perkebunan Deli.
Bahkan, melalui bacaannya yang luas, Ruhana juga menyoroti kondisi perempuan di Hindustan dan belahan dunia ketiga lainnya.
Mari simak buah pikiran Ruhana dengan mengutip Sunting Melayu, 23 Mei 1913. Tulisan dengan judul Setia Gerakan Perempuan di Zaman Ini, Ruhana melihat perempuan jauh terbelakang dari laki-laki bila dilihat dari gerakan-gerakan seperti pendirian organisasi atau perkumpulan.
Dia mendorong kaum perempuan untuk berani minta pembelaan atau pun mendirikan perkumpulan agar terlepas dari kegelapan. Dia cukup merasa bangga, karena di Minangkabau masa itu, sudah muncul beberapa perserikatan.
Di akhir tulisan itu, Ruhana mengingatkan bangsa Melayu untuk terus belajar untuk kemajuan dan keselamatan negeri, bangsa dan tanah air.
Emansipasi wanita yang lebih kongkret di Minangkabau juga ditunjukan Rahma el Yunusiah pada tahun 1923. Wanita kelahiran Padang Panjang tahun 1900 ini, mendirikan Diniyah School Putri, sekolah khusus perempuan.
Sekolah tersebut masih berdiri tegak hingga sekarang. Alumninya tak hanya berasal dari Nusantara, tapi juga Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam.
Siti Fatimah mengatakan, kepedulian Rahma terhadap pendidikan bagi perempuan, tak terlepas dari kebijakan Diniyah School, sekolah yang didirikan kakaknya Zaenuddin Labay. Di sekolah tersebut, siswi perempuan kurang diberi keterbukaan segala hal menyangkut keperempuan.
“Beberapa murid Rahma menjadi wanita berpengaruh dan terlibat dalam kemerdekaan Malaysia,” tukas Siti Fatimah.
Tag
Berita Terkait
-
Hari Perempuan Internasional: Saatnya Berhenti Membeli Narasi Kesempurnaan
-
Ketua Baleg DPR RI Pastikan RUU PPRT Disahkan Tahun Ini, Rieke Pitaloka Usul Momentum Hari Kartini
-
Fenomena IRT Jadi Affiliator: Emansipasi atau Eksploitasi Tersembunyi?
-
Kartini Masa Kini: Kolaborasi Lintas Generasi Lahirkan KebayaKekinian yang Unik!
-
Pertamina Hadirkan Tiga Perempuan Inspiratif, Inilah Cahaya Kartini
Terpopuler
- Promo Indomaret 12-18 Maret: Sirup Mulai Rp7 Ribuan, Biskuit Kaleng Rp15 Ribuan Jelang Lebaran
- Media Israel Jawab Kabar Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia saat Melarikan Diri
- Netanyahu Siap Gunakan Bom Nuklir? Eks Kolonel AS Lawrence Wilkerson Bongkar Skenario Kiamat Iran
- 10 Singkatan THR Lucu yang Bikin Ngakak, Bukan Tunjangan Hari Raya!
- 35 Kode Redeem FF Max Terbaru Aktif 11 Maret 2026: Klaim MP40, Diamond, dan Sayap Ungu
Pilihan
-
KPK OTT Bupati Cilacap, Masih Berlangsung!
-
Detik-Detik Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast di YLBHI
-
Indonesia Beli Rudal Supersonik Brahmos Rp 5,9 Triliun! Terancam Sanksi Donald Trump
-
Kronologi Lengkap Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast Militerisme
-
Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast di YLBHI
Terkini
-
Sholat Idulfitri 2026 Jam Berapa? Ini Bacaan Niat, Tata Cara hingga Ketentuannya
-
Pegadaian Championship: Jaga Atmosfer Kompetisi, Kendal Tornado FC Jamu Persibangga
-
Selisih Harganya Fantastis! Drone Shahed Iran Rp320 Juta vs Robot Anjing Polri Rp3 Miliar
-
Jelang Lebaran, Prabowo Larang Keras Menteri dan Pejabat Gelar Open House Mewah
-
YLBHI: Negara Wajib Ungkap Pelaku Teror Andrie Yunus dan Tanggung Seluruh Biaya Pengobatan
-
Alami Patah Kaki, Riwayat Cedera Ole Romeny Bikin Timnas Indonesia Was-was
-
BYD Siapkan SPKLU Fast Charging di Posko Mudik Lebaran, Eksklusif untuk Konsumen
-
5 Rekomendasi Tempat Bukber Bersama Alumni Sekolah di Puncak Bogor untuk Ramadan 2026
-
K-Pop Bertemu Koplo, Uniknya Akulturasi Budaya di Film Terbaru Sheryl Jesslyn
-
Program MBG Genjot Produksi Keripik Tempe di Kampung Tempe Ngawi, Pelaku Usaha Senang!