/
Kamis, 26 Mei 2022 | 17:51 WIB
suara.com

Selebtek.suara.com - Ada 70.000 video terkait konflik Rusia-Ukraina sejak terjadinya invasi pada akhir Februari lalu yang dihapus oleh pihak Youtube.

Perusahaan asal Amerika itu mengatakan alasan menghapus video karena melanggar kebijakan utama yakni peristiwa kekerasan yang melarang kreator menyangkal atau meremehkan invasi tersebut. Namun, Youtube tak menjelaskan secara detail mengenai kebijakan tersebut.

Dilansir Suara.com, Kamis (22/5/2022), mereka mengaku menangguhkan sekitar 9.000 channel YouTube, termasuk video dari jurnalis pro Kremlin (pendukung pemerintah Rusia), Vladimir Solovyov.

"Kami memiliki kebijakan peristiwa kekerasan besar dan itu berlaku untuk hal-hal seperti penolakan insiden besar: mulai dari Holocaust hingga Sandy Hook," kata Chief Product Officer YouTube, Neal Mohan, dikutip dari Engadget, Kamis (26/5/2022).

"Dan tentu saja apa yang terjadi di Ukraina adalah peristiwa kekerasan besar. Jadi kami menggunakan kebijakan itu untuk mengambil tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya," sambung dia.

Selain itu, Youtube melihat terdapat peningkatan yang signifikan terkait jumlah penonton dari Ukraina, Polandia, dan Rusia yang mengonsumsi konten otoritatif dalam konflik tersebut.

Misalnya di Ukraina. Konten berita yang terkait invasi telah ditonton lebih dari 40 juta kali.

"Tanggung jawab pertama dan mungkin yang paling penting adalah memastikan bahwa pengguna yang mencari informasi terkait ini dapat memperoleh informasi yang akurat, berkualitas tinggi, dan kredibel di YouTube," papar Mohan.

Langkah tersebut adalah upaya penting platform seperti YouTube guna mencegah penyebaran misinformasi di online. Misalnya di Rusia. YouTube mempunyai lebih dari 90 juta pengguna, sehingga menjadikannya platform video terbesar di negara tersebut. (*)

Load More