Bisnis / Energi
Jum'at, 17 April 2026 | 11:38 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia di Istana Kepresidenan, Jakarta yang dikutip pada Jumat (17/4/2026). [Suara.com/Novian]
Baca 10 detik
  • Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan Indonesia tetap menjalin kerja sama impor migas dengan Amerika Serikat dan Rusia.
  • Pemerintah menargetkan pemenuhan kebutuhan minyak mentah nasional sebesar 300 juta barel per tahun melalui berbagai mitra internasional.
  • Kesepakatan dengan Rusia mencakup impor migas, pengembangan kilang, serta teknologi energi melalui skema kerja sama G2G dan B2B.

Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan penjelasan mengenai kelanjutan rencana pembelian minyak dan gas dari Amerika Serikat (AS) setelah tercapainya kesepakatan impor serupa dengan Rusia.

Bahlil menjelaskan bahwa kebutuhan minyak mentah nasional mencapai 300 juta barel per tahun. Dengan kebutuhan sebesar itu, pemerintah akan mengoptimalkan pasokan dari setiap negara mitra di tengah ketidakpastian situasi geopolitik saat ini.

"Pasti pertanyaan kemudian adalah apakah dengan kita membeli crude dari Rusia kemudian bagaimana perjanjian kita dengan negara lain termasuk dengan Amerika?" kata Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta yang dikutip pada Jumat (17/4/2026).

"Saya katakan bahwa kebutuhan crude kita setiap tahun itu kurang lebih sekitar 300 juta barel. Jadi semuanya kita ambil mana yang menguntungkan untuk negara kita, harus kita lakukan," tambahnya.

Bahlil menegaskan bahwa Indonesia menganut prinsip politik bebas aktif, sehingga memiliki kebebasan untuk menjalin kerja sama perdagangan internasional dengan negara manapun.

"Jadi kita boleh belanja di mana saja selama kita komitmen dengan orang-orang atau negara-negara yang telah kita melakukan ajak kerja sama, termasuk Rusia kemudian Afrika, Nigeria. Dan lebih khusus yang kita hargai juga adalah termasuk dengan perjanjian kita dengan Amerika," jelas dia.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri Energi Rusia, Sergey Tsivilev di Moskow. [Kementerian ESDM]

Sebagaimana diketahui, Indonesia secara resmi akan mengimpor migas dari Rusia. Kesepakatan tersebut tercapai setelah pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan residen Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskow, Rusia, Senin (13/4/2026).

Selain rencana pembelian migas, kerja sama antar kedua negara juga mencakup pengembangan kilang minyak, dan peningkatan pemanfaatan teknologi energi.

Adapun kerja sama antara kedua negara dijajaki melalui skema Government to Government atau G2G) maupun business-to-business (B2B).

Baca Juga: Tertekan Data AS dan Sentimen Domestik, Kurs Rupiah Hari Ini Tembus Rp17.180

Melalui kedua skema itu diharapkan memberikan kepastian terhadap ketersediaan cadangan energi nasional, khususnya untuk minyak mentah dan LPG di Indonesia.

Load More