/
Sabtu, 05 November 2022 | 07:31 WIB
Google Doodle hari ini menampilkan tokoh bernama Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad (Google)

Selebtek.suara.com - Google Doodle hari ini menampilkan tokoh bernama Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad. Dia adalah sastrawan besar melayu yang terkenal dengan karangannya, Gurindam dua belas pada tahun 1847.

Raja Haji Ali bernama lengkap Raja Ali al-Hajj ibni Raja Ahmad al-Hajj ibni Raja Haji Fisabilillah bin Opu Daeng Celak alias Engku Haji Ali ibni Engku Haji Ahmad Riau. Ia lahir sebagai pangeran Bugis-Melayu pada tahun 1808 di pusat Kesultanan Riau-Lingga di Pulau Penyengat.

Melansir Google, Raja Haji Ali adalah seorang sejarawan, cendekiawan, dan penulis terkenal yang memimpin kebangkitan sastra dan budaya Melayu pada abad ke-19 sekaligus peletak sejarah bahasa Indonesia.

Ia merupakan tokoh besar dan berpengaruh di Indonesia. Raja Haji Ali secara anumerta dihormati sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 5 November 2004 atas kontribusinya pada bahasa, sastra, budaya Melayu, dan sejarah Indonesia.

Saat masih muda, keluarganya pindah ke Pulau Penyengat. Dia belajar dengan ulama terkenal Kesultanan Riau-Lingga dan diakui sebagai siswa yang berbakat.

Ia dikenal sebagai pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa. Buku inilah yang kemudian menjadi standar bahasa melayu.

Sebagai seorang remaja, Raja Haji Ali menemani ayahnya dalam misi ke Jakarta, serta ziarah ke Mekah. Keduanya merupakan bangsawan Riau pertama yang mencapai prestasi ini.

Ketika berusia 32 tahun, Raja Haji Ali menjadi bupati bersama Sultan  muda, dan akhirnya dipromosikan menjadi penasehat agama. Ia mulai menulis tentang bahasa, budaya, dan sastra orang Melayu.

Karya-karyanya meliputi kamus Melayu, teks pendidikan tentang tugas raja, silsilah Melayu dan Bugis, antologi puisi dan masih banyak lagi.

Baca Juga: Tak Disangka! 7 Artis Ini Bongkar Urusan Ranjang ke Publik, Ada yang Kepergok Atlet Paralayang dan Rekor 10 Kali Orgasme

Karyanya yang paling terkenal adalah Tuhfat Al-Nafis, atau Hadiah Berharga, yang dianggap sebagai sumber tidak ternilai tentang sejarah Semenanjung Melayu.

Karya tersebut sekarang diukir di batu nisannya untuk dibaca oleh orang-orang saat berkunjung ke makamnya.(*)

Sumber: Berbagai Sumber

Load More