/
Sabtu, 04 Juni 2022 | 19:38 WIB
Doc. Semarang.suara.com

SUARA SEMARANG - Berikut profil kisah dari Guru Besar bidang Matematika Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Prof Drs Ahamad Mpd Phd atau dikenal Prof Ahmad.

Kisah Prof Ahmad punya jalan berliku penuh perjuangan hingga kini menjadi Guru Besar atau profesor pendidikan Matematika di UMP.

Siapa sangka, dari gagal ingin jadi prajurit atau tentara, justru menbawa Prof Ahmad seorang akademisi Guru Besar pendidikan Matematika.

Lahir di keluarga yang sederhana tak menyurutkan semangat Prof Ahmad untuk mengenyam pendidikan. 

Di ketahui, almarhum ayah dan ibu Prof Ahmad bekerja sebagai buruh tani di sebuah desa terpencil lereng Gunung Galunggung daerah Tasikmalaya, Jawa Barat. 

Sebagai anak terakhir dari 10 bersaudara pasangan dari Alm Ibu Oyah dan Alm Bapak Tarmedi, tidak mungkin mampu mengkuliahkan.

Lulus SMA, Ahmad pun memutuskan untuk menjadi tentara dengan ikut seleksi Angkatan Darat, lolos administrasi di Bandung dan masuk nominsi mewakili Jawa Barat.

Ia kemudian dikirm ke AKMIL di Magelang Jawa Tengah, namun nasib berkata lain, ia gagal saat tes Pantukir di tahun 1984.

Meratapi nasib yang gagal jadi tentara, Ahmad pantang pulang kampung sebelum sukses membanggakan orang tua.

Ia lantas banting setir, mengambil kuliah di IKIP Muhammadiyah sambil bekerja sampingan membiayai hidup sendiri di Kota Gudeg.

Ia bisa kuliah setelah mengajar sebagai guru dan jualan buku di Shooping Beringharjo. 

Saat kuliah, juga sempat jadi asisten dosen, hingga lulus. Kemudian diterima menjadi dosen di kampusnya selama dua tahun.

Orang tua Ahmad baru mengetahui sang anak jika menjadi akademisi bukan tentara, saat lulus kuliah di IKIP Muhammadiyah.

Kemudian ia menempuh Magister di UPI Bandung, serta memperdalam ilmu pendidikan Matematika dengan meraih gelar PhD dari UPSI Malaysia pada tahun 2018 silam.

Saat ini Prof Ahmad yang merupakan dosen senior pada Program Studi Matematika Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMP. 

"Keluarga baru tahu saya kuliah saat semester enam. Ini gara-gara saya dapat beasiswa harus minta tanda tangan orang tua. Awalnya saya mengajar di IKIP Muhammadiyah Yogyakarta (UAD) dua tahun, setelah lulus tes PNS dosen, saya ditempatkan di UMP sebagai dosen diperbantukan (PNS DPK)," kisahnya, dari rilis UMP.

Berbagai prestasi dan capaian yang telah diraih tidak lantas membuatnya berpuas diri. Tidak heran jika sejumlah penghargaan baik di tingkat nasional maupun internasional telah berhasil diraihnya. 

Adapun kegiatan atau jabatan yang pernah diikuti diataranya, kepala laboratorium workshop pendidikan matematika FKIP UMP, Ketua Program Studi pendidikan matematika FKIP UMP, sekretaris eksekutif BPH UMP, Sekretaris BPH UMP, Dekan FKIP UMP.

Belum cukup sampai disitu, Prof Ahmad juga pernah menjadi staf khusus rektor UMP, konsultan kelembagaan beberapa PTM, hibah beberapa PTM, asosiasi LPTK PTM Indonesia, Pengurus Forum PPG NASIONAL, Koordinator PPG FKIP UMP. 

Kegiatan lain, Prof Ahmad aktif di Indonesian Mathematics Educators' Society (I-MES), Indonesian Mathematical Society (INDOMS), Pengurus Cabang Muhammadiyah Kalibagor, assistensi majlis diktilitbang PP Muhammadiyah, Dosen Pakar, DETASER DIKTI KEMDIKBUD RISTEK, Asesor Kelembagaan DIKTI KEMDIKBUD RISTEK, Pengurus Asosiasi Muslim Asia Tenggara/AMCA, Dewan Pakar Reviewer Jurnal PGRI Kabupaten.* 

Load More