/
Selasa, 20 Desember 2022 | 20:36 WIB
Ilustrasi Anies Baswedan. Pilpres 2024 akan ditentukan 4 king maker. (ANTARA)

Jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, situasi politik mulai menghangat dengan adanya sejumlah partai politik (parpol) yang mendeklarasikan calon presiden (capres).

Sejauh ini baru ada dua partai politik yang mendeklarasikan capresnya. Mereka ialah Gerindra yang mengusung Ketua Umumnya Prabowo Subianto sebagai capres dan Nasdem mengusung Anies Baswedan

Siapa lagi para capres dan cawapres yang akan muncul sebenarnya sudah terlihat. Setidaknya pada Pilpres 2024 kali ini ada empat tokoh sebagai king maker yang menentukan capres-cawapres. 

"Pada bulan Desember 2022, LSI Denny JA mencatat tumbuhnya empat 'king maker' yang akan menentukan maksimal tiga pasangan capres-cawapres," kata peneliti LSI Denny JA Fitri Hari dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (20/12/2022).

Empat "king maker" itu, yakni Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, dan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh.

Hanya saja, empat king maker ini dihadapi sejumlah dilema dalam menentukan pasangan capres-cawapres mendatang.

Surya Paloh misalnya. Menurut Fitri, NasDem kuat di basis suara yang beroposisi dengan Jokowi, namun mereka masih menjadi bagian dari pemerintahan Jokowi.

"Dilemanya Surya Paloh, Partai NasDem tetap di pemerintahan atau keluar dari pemerintahan agar tegas bahwa Anies Baswedan yang diusung membawa isu perubahan. Kemudian dalam mengusung Anies Baswedan akan membawa slogan penerus Jokowi atau antitesa Jokowi," tutur dia.

Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum partai terbesar pun tak lepas dari dilema dalam menentukan capres-cawapres.

Baca Juga: Sejarah Colomadu, Daerah Lokasi Bakal Rumah dari Negara untuk Jokowi

Elektabilitas dua kader PDIP dan Prabowo jika diurut, peringkat pertama ada Ganjar dengan elektabilitas sebesar 25,8 persen, Prabowo dengan 23,9 persen, dan Puan Maharani sebesar 2,9 persen.

Menurut dia, dilema Megawati membuat kader PDIP menjadi cawapres Prabowo (bagi Puan atau Ganjar) atau meninggalkan Prabowo, dan kader PDIP maju sebagai capres.

"Jika menyerahkan Puan sebagai cawapres Prabowo, Ganjar akan dipinang partai lain sebagai capres. Sementara jika menyerahkan Ganjar menjadi cawapres Prabowo, bukankah elektabilitas Ganjar lebih tinggi dan PDIP partai lebih besar dibandingkan Gerindra," papar Fitri.

Ketiga, Airlangga Hartarto dilema karena jika maju sebagai capres atau cawapres, elektabilitasnya masih rendah.

"Jika Airlangga memilih cawapres dari Ganjar, bagaimana jika Ganjar dijodohkan dengan cawapres lain, Airlangga harus hidupkan kartu alternatif. Data menunjukkan jika tidak dengan Ganjar, maka berpasangan dengan Anies Baswedan menjadi pilihan kedua," ucap Fitri.

Airlangga juga dilema jika berpasangan dengan Anies akan membuatnya keluar dari gerbong Jokowi karena Anies lebih membawa suara perubahan.

Keempat, dilema Prabowo Subianto di mana tingkat popularitasnya sudah maksimal mencapai angka 96 persen. Namun elektabilitas Prabowo jauh menurun dibanding Pilpres 2019.

"Pada saat Pilpres 2019, elektabilitas Prabowo – Sandi mencapai 44,5 persen. Saat ini elektabilitas Prabowo berada di angka 23,9 persen," tuturnya.

Dia menilai hampir mustahil jika Prabowo maju sebagai cawapres. Namun dilemanya dia sudah sulit menang pada Pilpres 2024 karena elektabilitasnya sudah berada di puncak, tapi masih bisa dikalahkan Ganjar Pranowo.

Dilema lain yang dialami Prabowo kesulitan mencari cawapres di luar PKB. Sementara PKB bersikukuh harus Cak Imin cawapresnya.

"(Dilema) Prabowo, pilihan pertama Prabowo mendapat cawapres dari PDIP (Ganjar atau Puan). Tapi pasangan dari PDIP semakin sulit didapat karena PDIP sebagai partai terbesar jika memungkinkan tetap akan memilih capres dari partainya sendiri," ucapnya.

Data dan analisa itu didasarkan pada survei nasional pada tanggal 10 - 19 Oktober 2022 dan riset kualitatif. Survei nasional menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi di Indonesia.

Wawancara dilaksanakan secara tatap muka ("face to face interview"). "Margin of error" survei ini adalah sebesar +/- 2,9 persen.

Survei nasional itu dilengkapi dengan riset kualitatif terbaru pada bulan Desember 2022. Riset kualitatif dilakukan dengan analis media, "focus group discussion" (FGD), dan "indepth interview". (ANTARA)

Load More