/
Kamis, 23 Februari 2023 | 11:18 WIB
Mario Dandy Satriyo. [Twitter]

Suara Sumatera - Kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan Mario Dandy Satriyo terhadap seorang santri menjadi sorotan publik hari ini.

Bagaimana tidak, Mario Dandy Satriyo rupanya anak seorang pejabat pajak. Mario disebut kerap memamerkan kekayaannya di media sosial.

Kasus penganiayaan itu juga mendapat sorotan dari politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Umar Hasibuan alias Gus Umar dengan memberikan kritikan pedas kepada Mario Dandy Satriyo.

Gus Umar merasa geram kepada Mario yang tak hanya karena telah melakukan tindakan penganiayaan terhadap seorang santri, namun juga karena perilaku buruknya.

Diketahui, Mario Dandy Satriyo menggunakan mobil mewahnya dengan plat nomor gantung alias palsu hingga pajak kendaraan tak dibayarkan.

Gus Umar mengatakan bahwa hal ini jelas sangat mengesalkan apalagi mengingat Mario adalah seorang anak pejabat pajak.

"Kita yang bayar pajak yang nikmati anak ini dan bapaknya. Enak bangat hidup kalian sekeluarga," ujar tokoh NU tersebut dikutip dari unggahan twitternya, @Umar_Hasubuan__ (22/2/2023).

Mario diketahui melakukan penganiayaan terhadap santri yang juga merupakan anak pengurus GP Ansor hingga koma. 

Gus Umar pun berharap agar tersangka tersebut dihukum berat dan ayahnya ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Baca Juga: Fuji Kepanasan Gegara Masih Dijodohkan dengan El Rumi, Takut Dihujat Hingga Tak Selevel

"Gaya selangit sampai bikin anak orang koma. Semoga kau dihukum berat dan ayahmu ditangkap KPK," tegasnya.

Kekinian, Mario Dandy Satriyo sudah ditangkap pihak Polres Jakarta Selatan dan langsung ditetapkan sebagai tersangka kasus penganiayaan CDO, anak seorang pengurus GP Ansor. 

Saat ini CDO alias David dikabarkan masih dalam kondisi koma dan di rawat di ruang ICU RS Medika Jakarta Selatan.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Suara.com dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.

Load More