/
Kamis, 20 April 2023 | 19:18 WIB
Ustaz Abdul Somad ([Suara.com])

Suara Sumatera - Pada tahun 1444 hijriah terjadi perbedaan penetapan 1 Syawal. Baik Muhammadiyah dan NU terjadi perbedaan menetapkan 1 Syawal 1444 hijiriah.

Jika Muhammadiyah, menetapkan 1 Syawal 1444 hijriah pada 21 April 2023, sedangkan Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan 1 Syawal pada 22 hijriah. Perbedaan ini pun dinilai pendakwa asal Sumatera, Ustaz Abdul Somad atau UAS karena ada penyebabnya.

Dia pun mencontohkan bagaimana negara Mesir melakukan upaya agar satu suara dalam penetapan 1 Syawal. Sementara bagaimana umat muslim menyikapi perbedaan 1 Syawal antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) tersebut?

Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan dan 1 Syawal lebih dahulu, ketimbang Nahdlatul Ulama (NU). Dalam tayangannya, UAS mengingatkan melalui sebuat kisah mengenai penetapan 1 Syawal 1444 Hijriah.

Di YouTube Goto Islam pada Sabtu, (15/4/2023), ia menggungkapkan soal ketaatan kepada Ulil Amri. Siapa sosok Ulil Amri yang dimaksud, tentu akan sesuai dengan pemikiran yang dirasa benar.

Dia pun kemudian menekankan jika Ulil Amri yang dimaksud bukan pemimpin melainkan ulama. 

"Datang dari kelompok ini 'ati'ullaha wa ati rasul wa ulil amri minkum' taatlah kepada Ulil Amri. Kemudian kata yang Muhammadiyah Ulil Amri itu Din Syamsuddin, bukan Jokowi. Karena ini kan tidak diangkat berdasarkan suroh, coba tengok tafsirnya, Ulil Amri itu ulama bukan pemimpin ini demokrasi kata dia, kata yang satu lagi kamu kalau engga mau ikut presiden bakar aja KTP-mu, pergi tinggal di hutan sana, akhirnya berkelahinya," ujar Ustaz Abdul Somad.

Di Mesir, dicontohkan UAS, juga terjadi perbedaan pandangan dalam menetapkan 1 Ramadhan atau 1 Syawal dilakukan dengan cara kombinasi dua sistem.

"Itu yang terjadi di Mesir, antara hisab ilmu astronomi dengan rukyat dikombinasikan, jadi keduanya bukan dikonfrontir ditabrakan, tapi dikombinasikan, jadi harusnya keluar satu suara," ungkapnya.

Baca Juga: Ariel NOAH Bagikan Momen Mudik Naik Motor Bebek, Warganet: Hati-hati Ayangku

UAS pun menyarankan untuk meyakini apa yang dipikir benar.

"Saya pribadi menyarankan, ikutlah apa yang engkau yakini benar menurut engkau, walaupun seribu orang berfatwa memberikan fatwa kepadamu. Fatwa yang dikeluarin oleh Muhammadiyah benar. Fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) benar," papar UAS.

Perbedaan antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama terletak pada angka minimal.

"MUI dan NU menetapkan angka dua derajat, jika dua derajat dia dapat dikatakan hilal, bila kurang bukan hilal. Tapi Muhammadiyah dia mengatakan 0,5 derajat pun kalau sudah itu hilal, maka dia adalah hilal, maka boleh, di situ letak persimpangannya," ungkap UAS yang menjelaskan mengapa Muhammadiyah dan NU berbeda menetapkan 1 Syawal 1444 hijriah.

UAS pun menilai, pertentangan lebih terjadi karena sidang isbatnya dibahas ke publik. Sidang isbat sebaiknya dilakukan di ruangan tertutup, sehingga jika NU sama Muhammadiyah kelahi, maka terjadi di ruang tertutup itu

"Tapi satu suara yang keluar," pungkas UAS-panggilan populer Ustaz Abdul Somad.

Load More