/
Kamis, 20 April 2023 | 17:19 WIB
Ustaz Abdul Somad (Suara.com)

Suara Sumatera - Penetapan 1 Syawal 1444 hijriah kembali terjadi perbedaan antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun ini. Hal ini membuat pendakwah asal Sumatera, Ustaz Abdul Somad atau UAS buka suara.

Dia pun mencontohkan bagaimana negara Mesir melakukan upaya agar satu suara dalam penetapa 1 Syawal. Menurut pendakwah asal Sumatera Utara (Sumut) ini, dalam sidang isbat sebaiknya tidak dilakukan terbuka, melainkan tertutup.

Sementara bagaimana umat muslim menyikapi perbedaan 1 Syawal antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) tersebut.

Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan dan 1 Syawal lebih dahulu, ketimbang Nahdlatul Ulama (NU). Dalam tayangannya, UAS mengingatkan melalui sebuat kisah mengenai penetapan 1 Syawal 1444 Hijriah.

Di YouTube Goto Islam pada Sabtu, (15/4/2023), ia menggungkapkan soal ketaatan kepada Ulil Amri. Siapa sosok Ulil Amri yang dimaksud, tentu akan sesuai dengan pemikiran yang dirasa benar.

Dia pun kemudian menekankan jika Ulil Amri yang dimaksud bukan pemimpin melainkan ulama. 

"Datang dari kelompok ini 'ati'ullaha wa ati rasul wa ulil amri minkum' taatlah kepada Ulil Amri. Kemudian kata yang Muhammadiyah Ulil Amri itu Din Syamsuddin, bukan Jokowi. Karena ini kan tidak diangkat berdasarkan suroh, coba tengok tafsirnya, Ulil Amri itu ulama bukan pemimpin ini demokrasi kata dia, kata yang satu lagi kamu kalau engga mau ikut presiden bakar aja KTP-mu, pergi tinggal di hutan sana, akhirnya berkelahinya," ujar Ustaz Abdul Somad.

Di Mesir, dicontohkan UAS, juga terjadi perbedaan pandangan dalam menetapkan 1 Ramadhan atau 1 Syawal dilakukan dengan cara kombinasi dua sistem.

"Itu yang terjadi di Mesir, antara hisab ilmu astronomi dengan rukyat dikombinasikan, jadi keduanya bukan dikonfrontir ditabrakan, tapi dikombinasikan, jadi harusnya keluar satu suara," ungkapnya.

Baca Juga: 5 Film Terbaru Chun Woo Hee, Artis Korea yang Hari Ini Ulang Tahun ke-36

UAS pun menyarankan untuk meyakini apa yang dipikir benar.

"Saya pribadi menyarankan, ikutlah apa yang engkau yakini benar menurut engkau, walaupun seribu orang berfatwa memberikan fatwa kepadamu. Fatwa yang dikeluarin oleh Muhammadiyah benar. Fatwa yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) benar," papar UAS.

Perbedaan antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama terletak pada angka minimal.

"MUI dan NU menetapkan angka dua derajat, jika dua derajat dia dapat dikatakan hilal, bila kurang bukan hilal. Tapi Muhammadiyah dia mengatakan 0,5 derajat pun kalau sudah itu hilal, maka dia adalah hilal, maka boleh, di situ letak persimpangannya," tegas UAS melansir metro-jaringan Suara.com.

UAS pun menilai, pertentangan lebih terjadi Karena sidang isbatnya dibahas ke publik. Sidang isbat sebaiknya dilakukan di ruangan tertutup, sehingga jika NU sama Muhammadiyah kelahi, maka terjadi di ruang tertutup itu

"Tapi satu suara yang keluar," pungkas UAS-panggilan populer Ustaz Abdul Somad.

Load More