Suara Sumatera - Istana Maimun yang terletak di Jalan Brigjen Katamso, Medan, menyimpan banyak kisah bersejarah. Salah satunya adalah meriam puntung yang menjadi saksi lahirnya kerajaan Islam, Kesultanan Deli di Medan.
Istana Maimun berjarak kurang lebih 650 meter dari Masjid Raya Al Mashun Medan. Dengan jarak yang dekat itu, sampai sekarang masih ada wisatawan yang mengunjungi Istana Maimun.
Salah seorang pemandu wisata bernama Syarida mengaku meriam puntung adalah peninggalan perang antara Kerajaan Haru dan Kerajaan Aceh, yang pecah pada tahun 1612 M di Delitua (Sumatera Utara).
"Dulu kerajaan yang lebih awal, namanya Kerajaan Haru. Letaknya di Delitua. Memiliki dua pria dan wanita, namanya Putri Hijau," katanya melansir SuaraSumut.id, Selasa (1/8/2023).
Sultan Aceh hendak mempersunting Putri Hijau. Namun, ia menolak permintaan itu.
"Karena berbagai hal menolak, diserang Aceh kerajaan putri," ungkapnya.
Peperangan antara kedua kerajaan ini terjadi di Delitua. Dalam peperangan itu, kerajaan putri mengalami kekalahan.
"Bersumpahlah adik putri yang bungsu, seorang pangeran namanya Sri Paduka Mambang Khayali atau Mambang Sakti. Dengan kesaktiannya menyatulah sukma atau kekuatannya ke meriam ini. Ditembakanlah meriam ini ke pasukan Aceh yang menyerang," ucap Syarida.
"Tembak terus menerus akhirnya panas, merah, patah, puntung, patahannya terpental ke dataran tinggi Suka Nalu, Kabupaten, Karo," sambungnya.
Patahan meriam yang berada di Kabupaten Karo, hingga kini juga masih bisa ditemukan.
"Di sana dibuat juga rumah seperti ini, rumah Karo. Bedanya kalau di sini kelambunya kuning atau hijau ciri khas Melayu, kalau di sana warna putih," cetusnya.
Singkat cerita, Kerajaan Haru kalah dalam peperangan melawan Kerajaan Aceh.
"Dibawa si Putri, namun minta tiga syarat, yaitu bertih, telur, dan kerenda kaca, dapatlah terpenuhi syarat dibawalah Putri Hijau ini pergi," ujarnya.
Sesampainya di perairan Aceh Utara, kata Syarida, ditebarkan syarat bertih dan telur tadi ke laut.
"Datanglah si Naga, abangnya yang sulung, di situ diambil si Putri Hijau, maka hilang Putri Hijau di laut Aceh sana," ungkapnya.
Tag
Berita Terkait
-
Sejarah Girlfriend Day yang Diperingati Setiap 1 Agustus
-
Bendera Merah Putih: Sejarah dan Makna yang Mendalam
-
Antara Gizi dan Nutrisi, Mana Pengucapan yang Benar?
-
Sejarah Proklamasi Indonesia Sejak Bom Hiroshima Nagasaki
-
Bubur Suro di Palembang, Tradisi Muharram Ratusan Tahun Dikenal Lebaran Anak Yatim
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Terpopuler: 5 HP Samsung RAM 8 GB Termurah, Sinyal Xiaomi 17T Series Masuk Indonesia
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- 4 Seri MacBook yang Harganya Terjun Bebas di Awal 2026, Mulai Rp8 Jutaan
- Promo Indomaret 26 Februari Sampai 1 Maret 2026, Diskon Besar Minyak Goreng dan Pampers
Pilihan
-
Iran Bombardir Kantor Benjamin Netanyahu Pakai Rudal Hipersonik, Kondisinya Belum Diketahui
-
Istri Ayatollah Ali Khamenei Juga Gugur Sehari Setelah Sang Suami, Dibom Israel-AS
-
Istri Ali Khamenei Meninggal Dunia Akibat Luka Serangan AS-Israel ke Iran
-
Bakal Gelap Gulita! Pemkot Solo Stop Sementara Pembayaran Listrik Keraton Surakarta ke PLN
-
Imbas Perang Iran, Pemerintah Cari Minyak dari AS demi Cegah Harga BBM Naik
Terkini
-
Iran Bombardir Kantor Benjamin Netanyahu Pakai Rudal Hipersonik, Kondisinya Belum Diketahui
-
Jadwal Imsak dan Subuh Hari Ini 3 Maret 2026 untuk Jakarta, Jogja, hingga Jawa Timur
-
3.243 Kasus Kriminal Terungkap dalam Operasi Pekat Musi 2026, Apa yang Terjadi di Sumsel?
-
Rapor Merah Setahun Untuk Kepemimpinan Bupati Lebak Hasbi Asyidiki Jayabaya
-
Jadwal Imsak Jakarta 3 Maret 2026: Catat Jam Sahur Sebelum Terlambat, Lengkap dengan Doa
-
Imbas Serangan AS-Israel ke Iran, Kontingen Anggar Arab Saudi dan Qatar Tak Bisa Pulang dari Jakarta
-
Catat! Jadwal Imsak dan Waktu Puasa Bandar Lampung Selasa, 3 Maret 2026
-
Warga Palembang Wajib Tahu! Jadwal Imsak 3 Maret 2026 dan Waktu Maghribnya
-
Konflik Timur Tengah Memanas, Pemkab Cianjur Berjuang Pulangkan Ratusan Buruh Migran
-
45 Tahun PTBA: Dari Jantung Tanjung Enim, Transformasi Energi dan Sinergi untuk Negeri Terus Menguat