TANTRUM - Pertumbuhan dan kecerdasan anak akan sangat optimal dalam 1000 hari pertama kelahiran. Periode ini biasa juga disebut dengan window of oppurtunity atau periode emas.
Dengan mencukupi kebutuhan anak sejak masa kehamilan sampai usia anak 2 tahun, akan semakin banyak jaringan saraf yang tersambung dan makin cepat anak menangkap informasi. Proses perkembangan pun akan semakin sempurna dan anak akan tumbuh cerdas.
Dicuplik dari makalah berjudul Gizi dan Perkembangan Kecerdasan Anak milik Julistio Djais, dokter spesialis anak Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, bayi mungil yang baru lahir merupakan makhluk yang membutuhkan asuhan dan mempunyai hak untuk dapat tumbuh kembang dengan optimal. Sehingga, suatu ketika ia menjadi dewasa, ia akan menjadi manusia yang berkualitas.
“Tumbuh kembang yang dialaminya adalah suatu proses perubahan biologis, psikologis dan emosional yang terjadi sejak lahir sampai remaja. Berbagai faktor mempengaruhi proses ini, mencakup genetik, gizi, kesehatan dan stimulasi yang diberikan oleh lingkungan hidupnya,” jelas Djais ditulis Bandung, Selasa, 31 Mei 2022.
Djais menyampaikan bahwa ada beberapa pembagian periode usia perkembangan anak, antara lain bayi baru lahir (0 – 4 minggu), bayi (4 minggu – 1 tahun), toddler (1 – 3 tahun), prasekolah (4 – 6 tahun), anak usia sekolah (6 – 12 tahun), dan remaja (13 – 20 tahun).
Dalam perkembangan bayi, dikenal 3 kelompok perkembangan yang saling berkaitan, yaitu perkembangan fisik, perkembangan kognitif, dan perkembangan emosional.
Perkembangan kognitif ini kata Djais, yang dimaksud dengan perkembangan kecerdasan anak. Perkembangan kognitif yang mempengaruhi tingkat kecerdasan anak mempunyai beberapa tahap.
Yaitu sensorimotor stage atau periode sejak bayi lahir sampai usia 2 tahun, dimana pemahaman bayi mengenai lingkungan masih terbatas pada persepsi sensoris dan aktivitas motoriknya. Perilaku yang tampak merupakan respons motorik sederhana terhadap stimuli sensoris.
“Yang menarik ketika bayi mencapai usia 7 – 9 bulan, ia mulai mengembangkan yang dinamakan object permanence. Ia mulai mempunyai kemampuan untuk mengerti bahwa objek tetap ada walau tidak terlihat. Sebagai contoh bila mainan favoritnya disembunyikan di bawah selimut, meskipun dia tidak dapat melihat dia akan berusaha mencari di bawah selimut,” terang Djais.
Tahap selanjutnya sebut Djais, adalah preoperational stage atau periode antara usia 2 – 6 tahun dimana anak belajar menggunakan bahasa.
Pada tahap ini anak belum mengerti logika, belum dapat dimanipulasi dengan informasi dan belum dapat melihat dari sisi orang lain. Pada periode ini, anak mulai menganalisis simbol, khususnya kata dan bentuk atau gambar.
Disebut preoperasional karena saat ini anak belum mampu mengoperasikan aspek kognitif spesifik, seperti hitungan matematik. Sebagai tambahan untuk penggunaan simbol, anak suka berpura-pura memainkan peran seorang tokoh seperti superman, guru dan lain-lain.
"Kemudian, tahap concrete operational stage atau periode antara 7 – 11 tahun, dimana anak mulai memahami operasi kognitif, anak mulai berpikir logis tentang kejadian nyata, tapi masih susah memahami konsep abstrak atau yang berkaitan. Dalam analisis simbol, ia sudah mampu memahami arti beberapa simbol tokoh dan mampu berganti-ganti dalam aksi meniru berbagai simbol tokoh tokoh tersebut," lanjut Djais.
Terakhir ungkap Djais, tahap formal operational stage atau periode antara usia 12 tahun sampai dewasa, dimana anak mulai mengembangkan kemampuan berpikir tentang konsep abstrak, kemampuan berpikir logis, mencari alasan rasional, dan membuat rencana yang sistematis.
Tentu saja semuanya itu ucap Djais, harus terdapat peran gizi dalam perkembangan kecerdasan anak sangat penting khususnya dalam 1000 hari pertama kehidupan anak.
Berita Terkait
-
Denny Sumargo Tak Mau Biel Manja: Dibiasakan Hadapi Masalah Sendiri Sejak Kecil
-
Anak Muda Harus Melek Politik: Tiap Kebijakan Menentukan Nasib Warga Negara
-
Heboh Curhat Betrand Peto Bela Ruben Onsu, Singgung soal Tamparan
-
Novel Bandung Menjelang Pagi: Sisi Gelap Kota Kembang ala Brian Khrisna
-
Siksa Bocah di Taman Kramat Pulo hingga Tersengat Listrik, 2 Remaja Ditangkap Polisi
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
- PT Blueray Cargo Milik Siapa? Perusahaan Logistik yang Seret Raffi Ahmad dalam Kasus Suap Importasi
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Sengkarut Data Alamat di Hari Pertama SPMB Malang 2026
-
2 Oknum Perwira Polda Jatim Diduga Terlibat Jaringan Narkoba Internasional
-
Perempuan Tak Sekadar Belanja, Bazar Fesyen Bertransformasi Jadi Ruang Bertumbuh dan Berjejaring
-
Gus Thuba Kawal Santriwati Polisikan Oknum Pengasuh Yayasan Cabul
-
Tiyo Ardianto Respons Viral Aksi Penolakan di UGM, Singgung Kondisi Mahasiswa 'Terpaksa' Demo
-
Aksi Bersih & Penghijauan dalam Memperingati HLH 2026, NHM Ajak Masyarakat Jaga Lingkungan Bersama
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Sinopsis My Fiction, Drama Thriller Jepang yang Dibintangi Yuta Tamamori
-
Rahasia Skin Prep Jennifer Coppen Jelang Pernikahan, Kulit Glowing dari Siraman hingga Resepsi
-
Wamendagri Bima Arya Tekankan Penguatan Karakter Generasi Muda Berbasis Nilai Budaya