TANTRUM - Kasus tumor jinak ini terus bertambah terutama di negara berkembang. Ameloblastoma, nama lain dari tumor jinak yang biasanya muncul di sekitar gigi molar atau geraham, memerlukan penanganan segera.
Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Padjadjaran (Unpad), Dudi Aripin, mengatakan, jika tidak ditangani dalam waktu lama akan menjadi agresif, tumbuh, serta berpotensi merusak jaringan sekitar, terutama tulang rahang dan gigi molar tempat dia berada.
Menurutnya, meski kasus tumor rahang jinak terus meningkat di negara berkembang, sayangnya kasus ini belum mendapatkan perhatian yang cukup.
“Dalam penanganannya kita tidak hanya sekadar melakukan operasi, melainkan juga perlu memperhatikan aspek-aspek molekuler dan genetik agar memberikan hasil terbaik setelah pembedahan,” kata Dudi, dikutip dari FKG Unpad, Selasa (19/7/2022).
Dudi berbicara pada acara kuliah bertema “Molecular and Genetic Aspects in Pathogenesis of Ameloblastoma” yang digelar FKG Unpad melalui Kantor Unit Internasionalisasi serta Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial. Acara ini menghadirkan kuliah tamu dari Universiti Brunei Darussalam Sholachuddin J.A. Ichwan, DDS, PhD, untuk memberikan kuliah secara daring, Selasa (21/6/2022).
Sementara itu, Scholaduddin memaparkan, beberapa literatur menyebut bahwa kasus ameloblastoma hanya terjadi satu persen kemungkinan penduduk di dunia. Kebanyakan menyerang pada gigi molar.
“Satu-satunya cara untuk mengobatinya adalah operasi, dipotong mandibulanya tidak seperti kista. Banyak penelitian menyebutkan bahwa meskipun jinak, tumor ini agresif dan efeknya sangat parah sekali,” ujarnya.
Kasus ini kebanyakan terjadi di India, Cina, dan Nigeria. Sampai saat ini, etiologi faktor penyebab ameloblastoma masih belum jelas, baik dari etiologi secara fisik, kimia, maupun molekulernya.
Kendati demikian, ameloblastoma berhubungan dengan sisa-sisa epitel dari cervical loop. Namun, prosesnya masih dicari oleh peneliti. Biasanya, ameloblastoma berhubungan erat dengan pertumbuhan kista.
Baca Juga: Nama Bupati Kediri Dicatut Modus Penipuan Pemberian Sumbangan Panti Asuhan
Scholachuddin mengatakan, mekanisme molekuler ameloblastoma masih memerlukan pendalaman kajian dan riset dengan memperbanyak jumlah sampel dan area riset. Hal ini bisa dilakukan dimulai dari kawasan Asia Tenggara.
“Manfaatnya supaya nanti jika kita paham molekuler patogenesisnya, kita dapat menciptakan precision medicine untuk mengobati atau metode terapinya,” ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 SD Swasta Terbaik di Palembang dan Estimasi Biayanya, Panduan Lengkap Orang Tua 2026
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Aksi Kritik Gubernur Rudy Mas'ud 21 April, Massa Diminta Tak Tutup Jalan Umum
Pilihan
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
Terkini
-
5 Rekomendasi Bedak Padat Two Way Cake yang Murah tapi Bagus, Pori-Pori Tersamarkan
-
Bakso Lapangan Tembak Senayan: Legenda Kuliner yang Kini Hadir dengan Layanan Digital Lebih Praktis
-
KPK Batasi Masa Jabatan Ketua Umum Parpol 2 Periode, Siapa yang Paling Lama Menjabat?
-
UU PPRT Disahkan, Menko Cak Imin: Jaminan Sosial PRT Wajib, Bukan Lagi Pilihan!
-
The Drama: Sajikan Eksplorasi Hubungan Toksik dalam Balutan Komedi Gelap!
-
Wellness atau Flexing? Jangan-Jangan Kamu Bayar Mahal Cuma Demi Algoritma Tanpa Ada Hasilnya
-
Benteng Berlapis di GBLA: 3.000 Personel Siap Kawal Duel Klasik Persib Bandung vs Arema FC
-
ASUS ROG Rilis Zephyrus G14, Strix G16, dan TUF Gaming A14 dengan AMD Ryzen AI
-
Jangan Cari Kenyamanan Pribadi, Menhaj ke Petugas Haji: Kita Datang untuk Melayani, Bukan Dilayani!
-
Kolaborasi Lintas Instansi Jadi Kunci Sukses Transformasi Digital Pemerintah