TANTRUM - Harga barang-barang kebutuhan berpotensi naik karena nilai Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat.
Posisi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terpantau masih bergerak di batas tipis di dekat Rp 15.000 per dolar AS.
Rupiah diramal akan terus melemah seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang tidak dapat dibendung.
Dolar AS diperkirakan bisa menembus level Rp 15.200. Penguatan dolar AS disebabkan oleh agresifnya Bank Sentral AS menaikkan suku bunga acuan demi meredam lonjakan inflasi yang kini sudah mencapai 9,1 persen.
"Ruang penguatan dolar masih ada dan rupiah bisa tergerus 15.100 dan 15.200 per akhir tahun hingga kuartal I tahun depan," ungkap Enrico Tanuwidjaja, Head Economic and Research UOB Indonesia, dicuplik dari CNBC Indonesia TV, Jumat, 29 Juli 2022.
Pelemahan Rupiah terhadap dolar AS ini berdampak pada kenaikan harga berbagai produk impor atau yang memiliki bahan baku mayoritas dari impor.
Barang impor ini biasanya dibanderol dengan dolar AS. Ini yang menyebabkan biaya barang-barang akan semakin mahal.
Ada pun beberapa produk yang akan mengalami kenaikan harga seperti kendaraan bermotor. Ini karena komponen-komponen untuk merakit motor atau mobil sebagian harus diimpor.
Selain itu, barang-barang elektronik konsumen seperti laptop, handphone, hingga kulkas. Saat Rupiah melemah, harganya akan makin mahal Sebab bahan baku seperti sirkuit elektronik dan chips harus diimpor.
Baca Juga: Belum Berani Telepon, Sang Ibunda Nangis Tak Bisa Temani Ria Ricis Lahiran
Tak hanya barang elektronik, produk tekstil seperti baju dan celana pun harganya bisa makin mahal. Karena Indonesia masih mengimpor katun sebagai bahan baku pakaiannya.
Sektor farmasi juga akan terkena dampak dari pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Alasannya sebab porsi bahan bakunya yang mayoritas berasal dari luar negeri.
Akan tetapi, sebenarnya, ada sektor yang paling besar terdampak. Yakni adalah harga pangan.
Pengaruh kenaikan harga pangan yang naik adalah inflasi yang makin panas. Per Juni, laju inflasi Indonesia mencapai 4,35% year-on-year/yoy.
Makanan pokok Indonesia seperti beras, jagung, gandum, kedelai, cabai, hingga bawang diimpor.
Hal ini juga akan membuat harga bahan baku untuk makanan olahan pun makin mahal dan membuat harga jual ke konsumen semakin naik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Jalur Tanker Alternatif Terbuka, Harga Minyak Dunia Mulai Melandai
-
Diskon Tiket Kereta hingga Kapal Laris Manis, Serapan Stimulus Tembus 98%
-
Duit Asing Keluar dari Indonesia Tembus Rp74 Triliun,OJK Nilai Masih Bagian Dinamika Pasar
-
BAIC T1 Resmi Meluncur di GIIAS 2026 dengan Harga Spesial Mulai Rp 373 Juta
-
5 Sepatu Lari Wanita Paling Nyaman dan Empuk, Cocok untuk Jogging hingga Maraton
-
Kembali ke Bentuk Asli 1914, Prabowo akan Resmikan Renovasi Cagar Budaya Stasiun Tawang
-
4 Zodiak Paling Beruntung 30 Juli 2026, Peluang dan Rezeki Menanti di Akhir Bulan
-
BRI Percepat Transformasi Demi Perkuat Fundamental dan Value Creation
-
Fakta Baru Kasus Kebakaran Maut Tewaskan Santri di NTB, Polisi Tambah Pasal untuk Tersangka
-
BRI dan Danantara Perkuat Transformasi untuk Pertumbuhan Perekonomian Rakyat yang Berkelanjutan