/
Minggu, 25 Juni 2023 | 10:30 WIB
Kampanye AMDK di Tiktok (Tangkapan layar)

TANTRUM - Kampanye pemasaran yang tidak sehat dalam industri produk air minum dalam kemasan (AMDK) ditunjukkan oleh pemimpin pasar (market leader) terhadap kompetitornya. Mereka gencar melakukan upaya kampanye negatif dengan mendiskreditkan produk baru yang cepat diterima masyarakat melalui media massa serta media sosial lewat konten berbayar.

Pembahasan fenomena tersebut yang mencuat dalam diskusi media Klub Jurnalis Ekonomi Jakarta (KJEJ) bertema 'Menyikapi Hoax dan Negative Campaign Dalam Persaingan Bisnis AMDK' di Jakarta, Kamis (15/6/2023).

Dalam dialog yang menghadirkan sejumlah praktisi media tersebut, terungkap bahwa brand Le Minerale kerap diserang berbagai isu yang menyesatkan.

Salah satu pembahasan yang mencuat yakni terkait artikel yang dipublikasikan portal media Sukabumi, disebutkan bahwa Le Minerale berbahaya terhadap kesehatan, serta Galon Le Minerale juga acap kali dicap 'tidak peduli lingkungan'.

Meskipun akhirnya media berjejaring tersebut menghapus beberapa artikelnya dan menyampaikan permintaan maaf. Namun, hoaks tersebut sudah terlanjur merugikan pihak yang menjadi objek berita bohong tersebut.

Tidak hanya di portal media online, penyebaran hoaks ini juga dilakukan di media sosial. Informasi fitnah atas Le Minerale terus bermunculan masif di media sosial dengan budget yang bombastis.

Terbaru, sejumlah influencer mendadak tampil menyiarkan konten yang mendiskreditkan Le Minerale dan sejumlah brand lainnya. Konten-konten berbayar di medsos ini dipakai sebagai ajang promosi dengan memuji produk market leader, tetapi sekaligus mendiskreditkan kompetitor, salah satunya Le Minerale.

Salah satunya konten Tiktok dengan jelas dan nyata menjatuhkan sejumlah brand yang digambarkan berasa pahit dan lain sebagainya. Anehnya, konten yang dilabeli 'kerjasama berbayar' itu, hanya memuji satu brand, yakni brand yang menguasai pasar terbesar AMDK. Tak berhenti sampai di situ, terlihat pula angka penonton yang jauh melebihi rata- rata konten pada akun ini. Pengamatan terakhir mencapai hingga 300 juta penonton. Angka bombastis yang secara angka melebihi jumlah penduduk Indonesia saat ini. Angka yang jauh berbeda dari konten lainnya, mengindikasikan adanya suntikan iklan untuk memperoleh jumlah jangkauan yang lebih banyak.

Redaktur Pelaksana Validnews.id Faisal Rachman, mengakui banyak kasus kampanye pemasaran negatif yang tidak sehat dengan menggunakan media massa sebagai arena tempur. Salah satu kasus yang cukup mencuat ke publik adalah persaingan antara Aqua sebagai market leader dengan Le Minerale.

Baca Juga: Konser Perdana Aespa di Indonesia Sukses Besar, Intip Keseruannya

“Persaingan usaha yang tak sehat yang menggunakan media massa sebagai arena berperang tentunya lebih 'panas' lagi karena adanya media massa yang kurang jelas identitasnya,” katanya.

Menurut Faisal, dari 47.000 media massa per Januari 2023, hampir 80% di antaranya merupakan media "abal-abal", yang beritanya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.  

Media Massa, lanjut Faishal, semestinya memberikan informasi yang akurat, komprehensif dan berimbang dengan berpegang teguh pada kode etik jurnalistik, pedoman media siber dan undang-undang Nomor 40/199 tentang Pers, sehingga tidak memberikan informasi yang menyesatkan kepada publik.

"Jangan sampai media massa yang harusnya memliki tanggungjawab untuk mengedukasi publik, malah dimanfaatkan untuk sekedar kepentingan bisnis pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab," tutur Faishal.

Ancaman ITE

Burhan Abe, jurnalis senior sekaligus pemimpin redaksi media online Sorogan.id memberikan pandangan bahwa konten media sosial yang mediskreditkan semacam ini jelas menyesatkan bagi publik, karena 'bias' kepentingan.

Load More