/
Jum'at, 16 Desember 2022 | 11:33 WIB
Kolase foto dokumen Dedi Mulyadi dan Anne Ratna Mustika Bupati Purwakarta. (tasikmalaya.suara.com | suara network jabar)

SuaraTasikmalaya– Perseteruan antara Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika dan anggota DPR-RI  Dedi Mulyadi mulai mereda. Anne Ratna Mustika enggan lagi mengompori Dedi dengan pernyataan-pernyataan kontroversialnya.

Sebaliknya Dedi Mulyadi malah sibuk ngurus Ryan Dono dan  Yessi. Dua pasangan yang gagal nikah.

Ketegangan, sensitifitas dan sindiran-sindiran pedas secara tidak langsung sampai memanas, para pendukung kedua kubu saling tuding saling berargumen mencari pembenaran atas kedua tokoh idola tersebut.

Dedi Mulyadi dan Anne Ratna sadar kalau keduanya memanas bakal  berdampak pada masyarakat. Birokrasipun akan dibuat bingung, kebanyakan mereka cenderung tiarap mencari aman daripada ikut berkomentar dari kedua tokoh yang tengah berseteru perang dingin.

Masyarakat bingung, atas kondisi tersebut dan hanya bisa mengelus dada, atas kondisi yang tengah terjadi. Masyarakat tidak ingin terus berlarut – larut, karena pastinya sedikit banyak akan mengganggu roda pemerintahan.

Namun, perlahan tapi pasti perseteruan kedua tokoh panutan masyarakat itu akhirnya sedikit mereda, hal itu membuat masyarakat sedikit lega dan berharap semuanya akan berakhir.

Seperti pepatah yang mengatakan ‘Badai Pasti Berlalu, Laut Kembali Tenang, Bahtera akan Sampai Tujuan’, itu semua harapan masyarakat yang memiliki hati dan fikiran betapa cintanya mereka ke Purwakarta.

Baik secara sadar maupun tidak sadar, para penunggang gelap yang memanfaatkan momen perseteruan antara Anne dan Dedi sepertinya hingga kini masih ingin memperuncing dan terus mempertajam perseteruan keduanya.

Mereka para penunggang gelap ini tidak rela bila Anne dan Dedi bersatu kembali, karena resikonya bila itu terjadi maka peta politik dan perebutan kekuasaan di Purwakarta akan sulit mereka raih.

Baca Juga: Nama Bupati Purwakarta dan Dedi Mulyadi Kian Populer Jelang Pemilu 2024

Bukan sehari dua hari, sebulan dua bulab, setahun dua tahun mereka menunggu moment yang tepat untuk bergerak, saat ada kesempatan mereka langsung menjalankan aksinya sebagai penunggang gelap.

Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika yang murni dari Ibu rumah tangga belajar politik dengan melakukan pengamatan baik secara langsung maupun tidak langsung dari suaminya Dedi Mulyadi dan belajar secara otodidak, perlahan mulai ikut tergerus permainan para penunggang gelap.

Sementara Dedi Mulyadi sendiri masih tampak tenang menghadapi semuanya, dirinya tetap berusaha berfikir secara jernih agar tidak ikut terjebak dalam permainan peta konflik yang tengah dimainkan lawan-lawan politiknya.

Namun, tidak bisa dipungkiri sebagai seorang suami pasti Dedi Mulyadi mengkhawatirkan istrinya (Anne Ratna Mustika), bila sampai kebablasan ikut tergerus kedalam permainan para penunggang gelap yang memainkan peran mereka diberbagai lini dan sektor dengan meminjam tangan-tangan yang bisa diperalatnya dengan apik.

Karena, bagaimanapun pastinya Dedi Mulyadi masih berfikir secara jernih bahwa Bupati Anne Ratna Mustika merupakan ibu dari para putra dan putrinya, sehingga tidak mungkin Dedi menggulingkan kekuasaan istrinya walaupun dirinya mampu dengan kekuatannya.

Dari konflik dan perseteruan yang saat ini terjadi antara Anne dan Dedi, kini sudah terlihat dengan jelas mana lawan mana kawan dari semua aspek. Baik lawan di pemerintahan (birokrasi) mapun lawan secara politis, begitupun sebaliknya mana kawan yang sesungguhnya.

Load More