Suara.com - Hubungan Google dan Apple memanas. Kali ini sekelompok pengguna iPhone meminta kompensasi uang dari perusahaan mesin pencari itu.
Kelompok ini melihat, untuk beberapa waktu di 2011 dan 2012, Google dinilai telah menggunakan trik khusus untuk melihat bagaimana orang menggunakan ponsel mereka dan memberi umpan balik data ke jaringan iklannya. Hal ini disampaikan pemimpin kelompok, Richard Lloyd, mengklaim Google secara tidak sah memanen dari informasi itu.
Kelompok kampanye tersebut sekarang meluncurkan sebuah kampanye besar, yang dianggap sebagai yang pertama dari jenisnya, berharap bisa mendapatkan kompensasi minimal 1 miliar poundsterling atau sekitar Rp18 triliun kepada sekitar 5,4 juta pengguna perangkat tersebut.
Lloyd, yang memimpin kampanye tersebut, menuduh bahwa antara bulan Juni 2011 dan Februari 2012, Google menggunakan teknologi khusus untuk mendapatkan data yang tersimpan di Safari, browser default yang dibangun Apple pada iPhone-nya. Perusahaan mesin pencari itu dianggap bisa merencanakan cookies atau file kecil yang melacak orang di internet dan menggunakannya untuk mendapatkan data yang kemudian bisa digunakan untuk mempersonalisasi iklan di internet.
Google telah menolak kasus tersebut dan mengatakan bahwa mereka berniat banding dan memenangkannya di pengadilan.
Dia mengatakan bahwa orang sekarang harus bisa mendapatkan kompensasi untuk pengumpulan data dengan cara yang mudah. Dia berharap untuk membawa kasus ke pengadilan atas nama lima setengah juta orang yang menggunakan iPhone pada saat itu, dan mendapatkan uang kembali atas nama mereka semua.
"Apa yang kami minta pengadilan lakukan adalah mengizinkan saya mewakili lima setengah juta orang yang terkena dampak, semua dengan dasar yang sama bahwa hak data mereka dilanggar, dan Google harus bertanggung jawab. Pada saat ini ada perasaan bahwa Google dan raksasa teknologi serupa dari Silicon Valley bersikap seolah-olah berada di atas hukum, bahwa mereka tidak dapat diminta pertanggungjawabannya di pengadilan di negara ini," kata Llyod dalam kepada program Radio 4's Today.
Sementara itu, juru bicara Google mengatakan, hal seperti ini bukan lah hal baru.
"Kami telah menghadapi kasus serupa sebelumnya. Kami tidak percaya bahwa kali ini berbeda dan kami akan melawannya," katanya.
Baca Juga: Jelang Peluncuran iPhone X, Kantor Apple di Korsel Digrebek
Pada bulan Agustus 2012, Google setuju untuk membayar denda perdata sebesar 22,5 juta dolar AS (Rp304 miliar) untuk menyelesaikan tuntutan yang dibawa oleh Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat, yang salah mengartikan pengguna browser Safari bahwa mereka tidak akan melacak cookie atau layanan iklan yang ditargetkan untuk pengguna tersebut.
Hal ini dilaporkan sebagai klaim legal massal pertama dari jenisnya di Inggris. Perusahaan hukum Mishcon de Reya telah ditunjuk untuk mewakili grup Google You Owe Us.
Mitra James Oldnall, yang mewakili Lloyd mengatakan bahwa meskipun jumlah total yang dibuat oleh Google untuk menyalahgunakan data ini cenderung besar, kerusakan yang diderita masing-masing individu relatif kecil.
"Tindakan yang representatif seperti ini dapat diajukan atas nama semua konsumen dan menghilangkan kebutuhan individu untuk membawa tindakan, yang tidak mungkin mereka lakukan. Dengan cara ini Google dan perusahaan teknologi lainnya dapat dianggap bertanggung jawab atas dugaan pelanggaran hukum perlindungan data Inggris," katanya.
Dia mengatakan bahwa data telah menjadi mata uang baru yang penting dan sangat berharga bagi perusahaan besar. Oleh karena itu, konsumen memerlukan metode yang dapat secara efektif melindungi hak-hak yang diberikan kepada mereka. [Independent]
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 Pilihan Motor Anti Low Back Pain, Cocok Buat Touring di Akhir Pekan
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
Terkini
-
Samsung Galaxy A27 5G Tantang HP Mid-Range, Bawa AI Premium dan Garansi Update hingga 2032
-
Cara Baru Jaring Talenta Keamanan Siber lewat Turnamen Esports
-
Fosil Tyrannosaurus Rex Gus Jadi Rebutan Miliarder dan Ilmuwan, Harganya Tembus Jutaan Dolar AS
-
5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
-
ASUS Resmi Rilis Kontroler ROG Raikiri II Pro PC untuk Gamer Kompetitif
-
HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
-
Grand Finals FFNS 2026 Fall Digelar di Yogyakarta, Garena Padukan Esports dan Festival Rakyat
-
Bocoran Spesifikasi Gahar Xiaomi Redmi Note 17: Baterai 8000 mAh, Kapan Rilis di Indonesia?
-
Daftar HP Realme Harga Rp1 Jutaan per Juli 2026: RAM Besar higga Baterai Awet
-
30 Kode Redeem FF Terbaru 12 Juli 2026: Klaim Skin dan Voucher Langka Sebelum Hangus