Tekno / Gadget
Rabu, 01 Januari 2020 | 08:15 WIB
Samsung Galaxy M30s diluncurkan di Jakarta, Rabu (23/10/2019). [Suara.com/Tivan Rahmat]

Hanya saja, Samsung kurang berani bermain dengan harga murah. Lain halnya dengan kompetitor mereka dari China yang jor-joran menawarkan ponsel spek tinggi, namun dibanderol dengan harga yang relatif terjangkau.

"Mereka (ponsel China) berani membawa ponsel spek tinggi dengan harga murah. Sementara Samsung, dalam beberapa tahun terakhir, menempatkan diri sebagai ponsel kelas premium. Namun perlu dicatat, orang Indonesia itu sangat sensitif dengan harga," imbuhnya.

Alih-alih merespon tekanan China dengan membanjiri produk baru dari segmen menengah ke bawah, Risky justru melihat fenomena tersebut sebagai bumerang untuk Samsung.

"Samsung terlalu cepat meluncurkan ponsel baru yang speknya tidak terlalu jauh berbeda dengan ponsel sebelumnya. Awal tahun, Galaxy A dan Galaxy M banyak muncul, tapi nggak sampai setahun sudah ada versi barunya (Galaxy A10s, Galaxy M30s, dll)," terang Risky.

Jarak peluncuran ponsel baru yang terlalu cepat, namun speknya tidak terlalu jauh berbeda itulah yang dinilai Risky justru membingungkan konsumen.

Sementara di sisi lain, Oppo, Vivo, Xiaomi, dan Realme memang sering mengeluarkan ponsel baru, namun dengan perbadingan spek dan harga yang dikemas lebih menarik.

"Samsung berusaha memperbaiki situasi dengan menawarkan ponsel di segmen low end. Tapi soal harga, price to specs yang ditawarkan ponsel China lebih menarik," tutup Risky.

Load More