Gerhana Matahari Cincin terjadi pada 21 Juni 2020. Sayangnya, jalur gerhana Matahari Cincin ini hanya melewati beberapa negara seperti Taiwan, China, India, Pakistan, Oman, Arab Saudi, Yaman, Eritrea, Ethiopia, Sudan, Republik Afrika tengah, Republik Demokratik Kongi, dan Republik Kongo.
Sedangkan, tidak semua wilayah di Indonesia memiliki kesempatan mengamati Gerhana ini. Wilayah di Indonesia yang beruntung hanya Indonesia bagian utara seperti Aceh hingga Papua.
Tak hanya itu, porsi Gerhana Matahari Cincin di Indonesia pun tidak besar, paling besar hanya 33 persen di Maluku utara dan Papua barat.
Gerhana Matahari sendiri dapat diklasifikasikan sebagai Total dan Cincin. Menurut Ensiklopedia Britania, Gerhana ini terjadi ketika posisi Bulan terletak antara Bumi dan Matahari sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari.
Jenis Gerhana Matahari akan menjadi Total atau Cincin tergantung pada jarak antara tiga objek langit tersebut. Karena orbit Bulan mengelilingi Bumi serta orbit Bumi mengelilingi Matahari berbentuk elips, jarak keduanya berubah-ubah sehingga ukuran tampak Matahari dan Bulan pun berubah-ubah.
Jika posisi Bulan cukup jauh dari Bumi, Bulan akan terlihat sedikit lebih kecil sehingga tidak dapat menutupi seluruh permukaan Matahari dan terjadi gerhana matahari cincin.
Sebaliknya, jika Bulan berjarak cukup dekat dengan Bumi, maka akan menutupi seluruh permukaan Matahari sehingga terjadi Gerhana Matahari Total.
5. Aphelion Bumi
Aphelion merupakan jarak terjauh Bumi dengan Matahari. Aphelion tahun ini terjadi pada 4 Juli. Jarak Bumi dari Matahari pada saat itu mencapai sekitar 1,02 AU atau sekitar 152,1 juta kilometer.
Baca Juga: Kaleidoskop 2020, Daftar Smartphone Ini Hadir dengan Fitur Fast Charging
Jarak terdekat (perihelion) dan jarak terjauh (aphelion) dapat terjadi karena jarak Bumi dan Matahari beragam sekitar 3 persen, sepanjang tahun yang disebabkan orbitnya yang sedikit berbentuk oval, mengikuti jalur yang disebut elips.
Secara teknis, ini akan membuat Matahari tampak lebih kecil di langit daripada hari-hari lainnya dalam setahun dan Bumi hanya akan menerima radiasi paling sedikit dari Matahari.
Tetapi, perbedaan ukuran diameter Matahari hanya berubah sebesar 3 persen membuatnya hampir tidak berdampak pada apapun, terutama cuaca.
6. Bulan Biru
Bulan Biru (blue moon) terjadi pada 31 Oktober 2020. Meskipun disebut Bulan Biru, namun fenomena ini merupakan Bulan Purnama kedua yang terjadi pada satu bulan kalender.
Dikarenakan pada 2 Oktober sudah terjadi Bulan Purnama, maka purnama pada 31 Oktober disebut Bulan Biru.
Bulan Biru terakhir terjadi pada 31 Maret 2018, sedangkan Bulan Biru musiman berikutnya akan terjadi pada 22 Agustus 2021. Dua Bulan Purnama relatif jarang terjadi dalam bulan kalender yang sama karena rata-rata sekali setiap 2,7 tahun.
Pada saat Bulan mencapai fase penuh, Bulan berada di konstelasi Aries dan muncul paling tinggi di belahan Bumi utara. Bulan mulai terlihat pada pukul 21.49 WIB dan berjarak 406.000 kilometer dari Bumi.
Penggunaan istilah Bulan biru sendiri merupakan inovasi abad ke-20 yang awalnya berasal dari kesalahan cetak di majalah Sky & Telescope yang terbit pada Maret 1946.
7. Berburu Pleiades
Pleiades merupakan gugus bintang paling terang dan paling jelas yang dapat dilihat dengan mata telanjang di rasi bintang Taurus serta salah satu yang terdekat dengan Bumi.
Bintang ini juga dikenal sebagai Messier 45 atau M45. Para pengamat di Bumi dapat berburu Pleiades pada 17 November karena itu adalah waktu terbaik untuk melihatnya.
Pleiades mulai diamati pada pukul 19:58 WIB saat mencapai ketinggian 11 derajat di atas ufuk timur laut, kemudian akan mencapai titik tertinggi di langit pada pukul 00:55 WIB dengan ketinggian 59 derajat di atas ufuk utara.
Pleiades kemudian menghilang saat fajar sekitar pukul 04:52 WIB saat mencapai ketinggian 25 derajat di atas cakrawala barat laut.
8. Konjungsi terdekat Jupiter dan Saturnus
Jupiter dan Saturnus melakukan pendekatan yang sangat dekat dengan jarak hanya 0 (nol) derajat 06' pada 21 Desember.
Dengan kata lain, kedua planet raksasa ini hanya terpisah sejauh 6 menit busur satu sama lain dan tampak seperti satu bintang tunggal yang bercahaya terang.
Fenomena yang cukup langka ini terlihat sekitar pukul 18:20 WIB di atas ufuk barat dan tenggelam menuju cakrawala pada pukul 20:14 WIB.
Langkanya fenomena ini akibat dari gerak lambat Jupiter dan Saturnus dalam melintasi langit. Mengingat Jupiter lebih cepat dalam mengitari Matahari, planet raksasa itu akan menyusul Saturnus dan menyebabkan konjungsi seperti ini yang terjadi rata-rata setiap 19,6 tahun sekali.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Snapdragon C Resmi Diumumkan, Prosesor Baru Qualcomm untuk Laptop Murah, Baterai Tahan Seharian
-
Viral Game Simulasi Kereta Buatan Indonesia Banjir Pujian di Jepang, Grafis Menawan!
-
Deretan Fitur Ugreen EchoBuds Magic, Lengkap dengan Kelebihan dan Kekurangannya
-
Asus TUF Gaming F16 dan A16 Resmi Pakai RTX 50-Series, Tangguh Berstandar Militer
-
Tablet Apa yang Cocok untuk Pelajar? 5 Pilihan Tab Rp1 Jutaan dengan Spek Dewa dan Baterai Badak
-
India 'Buang Muka' dari Sawit Indonesia, Harga Referensi CPO Juni 2026 Terkoreksi 1,91 Persen
-
Redmi Headphones Neo Lolos Sertifikasi Komdigi, Usung Hi-Res dan Baterai Tahan Lama
-
Hacker Gunakan Kode QR Teks untuk Kelabuhi Email Security, Ini Cara Kerjanya
-
Gunakan Snapdragon X2, Baterai Acer Swift Spin 14 AI Diklaim Tahan Seharian
-
Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED