Tekno / Tekno
Senin, 23 Agustus 2021 | 21:34 WIB
Mural berwajah mirip Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertuliskan '404:Not Found' berada di bawah jembatan layang Jalan Pembangunan 1, Kelurahan Batujaya, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang. [Ist]

Contoh lain adalah poster ikonik yang berjudul “ballerina and the bull” (sang balerina dan banteng).

Karya tersebut, yang diciptakan oleh Micah White dari majalah anti-konsumerisme bernama Adbusters, memainkan peran yang signifikan dalam gerakan Occupy Wall Street (Duduki Wall Street); Wall Street adalah sebuah area keuangan penting di New York. Gerakan demonstrasi politik tersebut berupaya melawan ketimpangan ekonomi di AS.

Poster tersebut mengontraskan antara citra patung banteng Wall Street – sebagai simbol dari dinamika kapitalisme – dengan “ketenangan jiwa” dari seorang penari balet.

Berbagai detail tersebut, bersamaan dengan sosok-sosok misterius di latar belakang poster membantu menanamkan rasa ketakutan maupun urgensi terkait kondisi ketimpangan ekonomi di AS. Ini mendorong banyak orang untuk berpartisipasi, atau setidaknya menjadi sadar tentang adanya gerakan #OccupyWallStreet.

Surat kabar The New York Times menyebutkan dalam suatu artikel bahwa meskipun poster yang dimuat dalam majalah tersebut tidak sepenuhnya menyebabkan timbulnya rasa frustrasi yang dirasakan para demonstran, namun ikut berperan besar membentuk citra estetis dari gerakan tersebut.

Mempertahankan kompleksitas dari performa teatrikal

Pandemi COVID-19 telah menyebabkan banyak gerakan seni untuk bermigrasi ke ruang digital.

Salah satu contohnya adalah pameran “Conexion: Art and Activism in Oaxaca” yang diselenggarakan pada akhir 2020. Conexion Oaxaca adalah pameran digital yang interaktif dari sekumpulan mahasiswa program studi Amerika Latin. Awalnya, pameran itu direncanakan sebagai salah satu pertunjukan di Museum Seni Newcomb di Louisiana, AS.

Pameran digital ini mengangkat isu-isu seputar kekerasan berbasis gender, akses untuk pendidikan, keadilan migrasi, serta ketimpangan ekonomi.

Baca Juga: Banyak Mural Kritis Dihapus, Muncul Mural: Urus Saja Moralmu, Jangan Muralku

Akibat pandemi, pameran ini berubah bentuk menjadi situs web yang sepenuhnya interaktif dan memandu audiens menjelajahi beberapa tema berbeda yang berbentuk karya majalah, seni tenun, dan film dokumenter.

Tetapi, mengadakan pameran digital seperti ini secara umum bukanlah hal yang mudah.

Praktik menyelenggarakan pameran seni secara online pernah dikritik karena gagal membawa apa yang disebut filsuf Jerman bernama Walter Benjamin sebagai “aura seni yang autentik” – suatu pengalaman sensoris yang muncul saat suatu karya seni benar-benar ditunjukkan dalam ruang dan waktu yang secara nyata kita rasakan.

Meskipun demikian, pertumbuhan media sosial telah membantu pameran online untuk memenuhi beberapa prinsip mendasar dari seni; yakni harus nampak secara visual, adaptif, serta membawa suatu gagasan yang bisa ditangkap dan disebarkan oleh audiens.

Bahkan, saya berpendapat bahwa pengalaman dari menghadiri pameran digital justru semakin kaya karena dengan demikian karya seni bisa diputar ulang dan dipelajari secara mendalam, kapan pun kita inginkan, serta oleh beragam jenis audiens.

Ajarkan aktivisme berbasis seni pada mahasiswa

Suatu cara yang efektif untuk mempopulerkan aktvisme berbasis karya seni digital di antara mahasiswa dan anak muda adalah dengan menanamkannnya dalam sistem pendidikan tinggi.

Sayangnya, di berbagai negara berkembang, seni masih menjadi mata kuliah atau program studi yang masih sangat terpusat pada jurusan tertentu. Sementara itu, gerakan aktivisme juga kebanyakan baru diajarkan di fakultas yang mengajarkan ilmu sosial atau humaniora.

Untuk melengkapi metodologi ilmiah yang kini banyak dipakai di universitas, kampus perlu melembagakan pelajaran terkait seni ke dalam kurikulum berbagai departemen agar menjadi suatu tradisi keilmuan yang penting dalam pendidikan tinggi.

King’s College London di Inggris, misalnya, telah mengembangkan modul interdisipliner berjudul “Seni dan Aktivisme di Era Digtal” untuk diterapkan di seluruh program studi.

Kampus tersebut juga berkolaborasi dengan seniman lokal serta memberikan dana hibah untuk proyek seni digital yang bisa digunakan bahkan oleh mahasiswa di luar Fakultas Humaniora.

Jika kita ingin pendidikan tinggi untuk memiliki dampak sosial sebesar-besarnya, mahasiswa perlu berlajar bagaimana menyerap dan mengekspresikan pengalaman dari berbagai kejadian di sekitar mereka. Aktivisme berbasis seni adalah strategi sekaligus praktik kreatif untuk menyalurkan gagasan-gagasan kritis mereka agar lebih bermakna dan membawa perubahan.

Artikel ini sebelumnya tayang di The Conversation.

Load More