- Enam puluh terdakwa kasus demonstrasi Agustus 2025 membacakan nota pembelaan di PN Jakarta Utara pada Kamis, 15 Januari 2026.
- Terdakwa Galih Dimas Aliandra menyatakan hanya melihat kejadian dan mengalami kekerasan saat diamankan serta diperiksa.
- Galih memohon keringanan hukuman kurungan satu tahun karena ia merupakan tulang punggung keluarga yang tidak bersalah.
Suara.com - Sebanyak 60 terdakwa kasus demonstrasi pada Agustus 2025 lalu membacakan nota pembelaan atau pleidoi di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (15/1/2026).
Salah seorang terdakwa, Galih Dimas Aliandra, diberikan kesempatan untuk membacakan sendiri nota pembelaannya meski telah didampingi oleh kuasa hukum.
“Saya ingin menyampaikan nota pembelaan ini dengan jujur dan apa adanya,” kata Galih di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (15/1/2026).
Saat peristiwa kerusuhan, Galih mengatakan bahwa dirinya berada di lokasi hanya untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Tidak ada niat sedikit pun dalam hati Galih untuk melakukan provokasi, perusakan, bahkan penyerangan terhadap siapa pun.
“Rasa penasaran dan ingin tahu membawa saya bergabung dan berdiri di tengah orang-orang yang berkerumun, melihat dan mendengar apa yang terjadi di sekitar saya,” ujarnya.
Dalam situasi yang sangat ramai dan penuh teriakan, Galih mengaku tidak mendengar adanya imbauan dari petugas.
Terlebih, Galih berada di lokasi dalam waktu yang singkat. Ia tidak mengambil peran apa pun dalam kerusuhan tersebut. Namun, nasib berkata lain, ia ditangkap oleh aparat saat hendak menjemput temannya.
“Saya mengalami berbagai macam bentuk kekerasan pada saat diamankan,” ucapnya.
Baca Juga: Said Iqbal Kritik Keras Dedi Mulyadi: Jangan Jawab Kebijakan Upah Buruh dengan Konten Medsos!
“Tidak hanya itu, pada saat dibawa ke ruang pemeriksaan, saya kembali mengalami berbagai macam bentuk kekerasan dan saya dipaksa untuk mengakui beberapa perbuatan yang bahkan tidak pernah saya lakukan,” imbuhnya.
Galih menyampaikan bahwa kesehariannya saat mendekam di balik jeruji besi merupakan hal yang paling berat baginya.
Selain kehilangan kebebasan, Galih melihat orang tuanya sangat tertekan melihat anaknya menjadi terdakwa.
Terlebih, Galih merupakan tulang punggung keluarga. Ia harus mengemban tanggung jawab setelah ayahnya tidak lagi bekerja.
“Selama ini saya berusaha membantu keluarga sebisa saya. Penahanan dan tuntutan ini bukan hanya menghukum saya, tetapi juga menghukum orang tua saya yang tidak bersalah.”
Ia meminta agar majelis hakim mempertimbangkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) berupa kurungan penjara selama satu tahun.
“Saya memohon agar Yang Mulia Majelis Hakim mempertimbangkan bahwa hukuman tersebut terlalu berat bagi seorang rakyat kecil yang tidak pernah melakukan perbuatan kekerasan dan tidak memiliki niat jahat,” ujarnya.
Galih juga menyesal karena saat itu ia berada di tempat dan waktu yang salah. Sejauh ini, kurungan penjara yang dialaminya telah menjadi pembelajaran hidup agar ia bisa menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya.
“Saya memohon kepada Yang Mulia Majelis Hakim agar memberikan putusan yang seadil-adilnya dan seringan-ringannya bagi saya,” pungkasnya.
Berita Terkait
-
Said Iqbal Kritik Keras Dedi Mulyadi: Jangan Jawab Kebijakan Upah Buruh dengan Konten Medsos!
-
Buruh Kecewa, Agenda Audiensi di DPR Batal karena Anggota Dewan Sudah Pulang
-
Bebas dari Tahanan dan Divonis Pengawasan, Laras Faizati: Keadilan Belum Sepenuhnya Ditegakkan!
-
Tok! Laras Faizati Bebas dari Penjara, Hakim Jatuhkan Pidana Pengawasan 1 Tahun
-
Sidang Vonis Laras Faizati Digelar Hari Ini, Harapan Bebas Menguat Jelang Ulang Tahun Ke-27
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Marak Kepala Daerah Kena OTT, Tito: Integritas Tak Bisa Dijamin Meski Dipilih Rakyat
-
Transformasi Digital Sukses, Bisnis Madu Asal Lampung Manfaatkan QRIS dan Pembiayaan BRI
-
Lionel Scaloni Menyebut Argentina Bangkit Akibat Kesalahan Fatal Pelatih Inggris
-
Bukan Cuma Tubuh, Ini 5 Alasan Fermentasi Makanan Ramah untuk Lingkungan
-
5 Clarifying Toner yang Bantu Kulit Wajah Lebih Halus dan Sehat
-
Hina Kapolda NTB, WNA Asal Prancis Dihukum 3 Bulan Penjara
-
Arab Saudi Ubah Tarif Bea Masuk 51 Komoditas, Kemendag Minta Eksportir RI Tangkap Peluang
-
Prancis Tersingkir, Taktik Individualis Didier Deschamps Resmi Gagal Total?
-
Peneliti ITB Ungkap Potensi Sawit, Ternyata Bisa Diolah Jadi Bensin
-
Banyak Kepala Daerah Kena OTT, Tito: Biaya Pilkada Tinggi, Akhirnya Cari Jalan Tak Benar