Ketika anak-anak tenggelam dalam dunia maya, mereka rentan terhadap sejumlah bahaya, baik di Web maupun di dunia nyata.
Mulailah dengan menekankan bahwa mereka tidak boleh menatap ponsel saat menyeberang jalan atau berjalan naik atau turun tangga.
Selanjutnya adalah keamanan online termasuk ancaman Internet seperti penipuan, pencurian data pribadi, virus, dan masih banyak lagi.
Beri tahu anak-anak Anda untuk tidak mengunjungi situs web yang mencurigakan (dan mengajari mereka apa artinya), memasukkan kata sandi atau informasi pribadi apa pun di sana.
Termasuk, membuka tautan yang mencurigakan atau mengunduh aplikasi dari mana pun kecuali dari toko aplikasi resmi.
Tekankan bahwa mereka tidak boleh membagikan dokumen pribadi, informasi kartu kredit, atau foto
yang dapat menempatkan mereka atau teman mereka dalam keadaan yang membahayakan.
Mungkin anak-anak tidak dapat mengingat dan mengikuti semua aturan tersebut secara langsung.
Untuk mendapatkan bantuan, Anda dapat beralih ke solusi keamanan yang andal. Misalnya, Kaspersky Internet Security yang melindungi perangkat dari virus, phishing, dan penipuan online, dan
4. Batasi notifikasi berlebihan
Baca Juga: Masuk ke Esports, Kaspersky Gandeng FDA Esports Ferrari
Saat perangkat kita terus-menerus mengirimkan notifikasi, kita dapat dengan mudah kewalahan dan
kehilangan konsentrasi.
Batasi peringatan di ponsel anak-anak Anda sehingga mereka tidak teralihkan dari tugas sekolah atau tugas lainnya.
Sayangnya, Anda tidak dapat menghilangkan notifikasi dari semua aplikasi di semua perangkat
sekaligus.
Anda perlu mengonfigurasinya secara terpisah di ponsel dan laptop, dan setiap sistem operasi memiliki fitur khusus dan alat bawaan untuk melakukannya.
Kami memiliki beberapa pos yang dapat membantu Anda mengelola notifikasi:
- Cara mematikan notifikasi di iOS dan iPadOS
- Cara mengonfigurasi notifikasi di Android
- Menyingkirkan notifikasi browser
5. Mengikuti tata cara dalam dunia digital
Sama seperti di dunia nyata, aturan tidak tertulis mengatur perilaku Internet.
Anak-anak membutuhkan bantuan untuk menghindari situasi yang membingungkan, jadi Anda harus mendiskusikan beberapa hal yang mungkin mereka hadapi secara online.
Misalnya, diskusikan perbedaan antara berkomunikasi melalui email, di jejaring sosial, dan di aplikasi perpesanan.
Penting juga untuk menjelaskan perilaku yang dapat diterima. Satu aturan praktis adalah bertanya
sebelum memosting.
6. Menata dan mengelola informasi dengan baik
Ada yang mengatakan telepon atau komputer yang terorganisir mencerminkan pikiran yang terorganisir.
Anak-anak harus belajar mengelola informasi sejak usia dini.
Lebih baik lagi, mereka harus membiasakan membuat salinan cadangan informasi yang paling penting.
Maksimalkan drive eksternal — flash drive atau hard drive — atau penyimpanan cloud.
Cloud adalah sumber daya yang hebat, tetapi anak-anak harus berhati-hati dengannya.
Terutama, mereka perlu berhati-hati untuk tidak mengizinkan sembarang orang mengakses file penting.
7. Jadwalkan detoks digital reguler
Anak-anak harus dapat menjauh dan menjadikan Internet sebagai bagian yang bukan prioritas dari kehidupan mereka.
Pertama dan terpenting, batasi penggunaan jejaring sosial. Cara yang lebih efektif, meskipun juga lebih rumit, untuk memerangi kelebihan informasi adalah detoks digital, disaat Anda menyimpan perangkat dan tidak menggunakannya dalam jangka waktu tertentu.
Untuk hasil terbaik, lakukan ini secara rutin. Anda dapat menggabungkan detoks dengan wisata alam, olahraga, atau aktivitas bersama teman dengan tidak ada perangkat yang diizinkan.
Era digital telah memaksa orang tua untuk menghadapi tantangan baru.
Saat menghadapinya, ingatlah bahwa Anda dapat menjadi contoh terbaik bagi anak-anak Anda.
Berita Terkait
-
Waspadai Keamanan Data Kartu Kredit saat Belanja Online
-
Kaspersky: 61% Orang Tua Masih Lalai IkutiAturan Penggunaan Gadget untuk Anak
-
Kaspersky: Beban Kerja Meningkat, Karyawan Lebih Nyaman Bekerja dari Rumah
-
Awas! Malware Berkedok Squid Game Mengancam di Dunia Maya
-
Waspada, Ada Mobus Penipuan Siber dan Malware Catut Nama Squid Game
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Jadi Destinasi Baru Bulan Agustus, Styles Land Ajak Pengunjung Eksplorasi Dunia Kreatif di Jakarta
-
6 Weton Tibo Pati: Harus Rasakan Kesulitan Rezeki Sebelum Akhirnya Sukses Bergelimang Harta
-
Tanggal Kembar 8.8, Saatnya Lengkapi Kebutuhan Skincare hingga Vitamin dengan Lebih Hemat
-
Fenomena AI Slop: Mengapa Poster UMKM Makin Seragam dan Bikin Kita Bosan?
-
Akal-akalan Peredaran Tramadol Ilegal di Jatim, Dijual di Marketplace Jadi Sparepart
-
140 Sekolah SMA/SMK di Lampung Bersolek Total Tahun Ini
-
Kanwil Imigrasi Sumut Perkuat Sinergi dengan Pemkab Simalungun
-
Timnas Indonesia Tersingkir di AFF! Alarm Keras Menuju Piala Asia 2027: Masih Layakkah John Herdman?
-
Jangan Salahkan Attitude! Ini Alasan Logis Kenapa Gen Z Susah Cari Kerja
-
Stres, Cemas, atau Butuh Teman Cerita di Makassar? Ini Lokasi 'Pojok Curhat' Bisa Anda Kunjungi