Suara.com - Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan, kali ini terkait kebijakan efisiensi anggaran yang tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025.
Kebijakan ini mengatur penghematan dalam APBN dan APBD Tahun Anggaran 2025, namun justru menuai polemik karena dinilai bertolak belakang dengan struktur kabinet yang dinilai gemuk.
Di media sosial, khususnya Twitter (X), beredar foto suasana rapat kabinet Merah Putih yang penuh sesak dengan peserta. Salah satu pengguna, @FayaAtika, mengunggah foto tersebut dengan sindiran, "Rapat kabinet @prabowo membahas efisiensi anggaran. Ada yang aneh gak?".
Unggahan itu memicu beragam komentar dari publik yang mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam menerapkan efisiensi.
Beberapa di antaranya menyoroti jumlah menteri dan pejabat yang dianggap terlalu banyak, sementara yang lain menyinggung kebijakan pengurangan anggaran tetapi tetap mempertahankan posisi wakil menteri dan staf khusus.
"Hadeeeh, sulit dipahami logikanya. Sen kiri belok kanan, Mau efisiensi pak mantri kebanyakan. Menteri kok kayak barisan pinguin," tulis akun @PakuB******.
Beberapa warganet bahkan mengusulkan agar efisiensi dilakukan dengan memangkas posisi wakil menteri dan lembaga yang dianggap tidak produktif. "Semoga setelah efisiensi anggaran, akan ada efisiensi struktural dengan meniadakan wakil menteri dan staf khususnya. Untuk apa mereka jika sudah ada Dirjen?" tulis @AslamMo********.
Tak hanya itu, pengguna lain juga menyindir efisiensi anggaran yang diterapkan secara simbolis, seperti pengurangan suguhan dalam rapat kabinet. "Pak Prab, kalau mau efisien, rapat nggak usah disediakan minum khusus. Suruh peserta bawa tumbler, cukup galon isi ulang. Cemilan nggak usah, makan bayar sendiri," sindir akun @tan********.
Selain itu, kebijakan efisiensi ini juga dikaitkan dengan kondisi politik pasca-Pilpres 2024. "Dimaklumi... mereka semua peserta Pilpres yang menciptakan angka 58%. Pantas aja ada daerah di Papua menolak MBG," tulis akun @fi*****.**
Polemik ini menunjukkan bahwa publik masih skeptis terhadap kebijakan efisiensi yang diterapkan oleh pemerintahan Prabowo-Gibran, terutama jika tidak diikuti dengan langkah konkret dalam merampingkan struktur birokrasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
32 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 22 Februari 2026, Klaim Hadiah Ramadan dan Imlek
-
51 Kode Redeem FF Terbaru 22 Februari 2026, Klaim Hadiah Gratis di Event Ramadan
-
Penjualan Konsol Menurun di Awal 2026: PS5 Mampu Ungguli Nintendo Switch 2
-
Bocoran Harga iQOO 15R Beredar, Siap Debut di India dan Indonesia Pekan Ini
-
5 Rekomendasi HP Kamera ZEISS Termurah Februari 2026, Tawarkan Fitur Fotografi Menawan!
-
7 HP Kamera Boba Kembaran iPhone Terbaru 2026, Harga Rp2 Jutaan Rasa Ponsel Flagship!
-
Siap-siap! Harga PC dan Laptop Lenovo Diprediksi Makin Naik Bulan Depan
-
HP Murah Infinix Smart 20 dan Hot 70 Bersiap ke Indonesia, Bawa Spek Ciamik
-
Motorola Edge 70 Fusion Segera Debut, Usung Snapdragon Anyar dan Kamera Sony
-
Bocoran Samsung One UI 9, Hadirkan Fitur Ask AI Berbasis Android 17