Suara.com - Naphat Warasin, pemain Arena of Valor yang dikenal dengan nama panggung “Tokyogurl”, resmi dikeluarkan dari kompetisi SEA Games ke-33 setelah terbukti melanggar aturan dengan menggunakan perangkat lunak tidak sah saat pertandingan berlangsung.
Kasus ini mencuat setelah laga tim putri Arena of Valor antara Thailand dan Vietnam pada Senin (15/12/2025). Dalam pertandingan tersebut, Naphat dinilai melakukan kecurangan pada game pertama. Delegasi teknis esports SEA Games menyatakan bahwa ia menggunakan perangkat lunak pihak ketiga atau modifikasi perangkat keras yang tidak diizinkan.
Setelah dilakukan penyelidikan lanjutan, bukti yang ditemukan dianggap cukup kuat untuk menjatuhkan sanksi tegas berupa diskualifikasi dari kompetisi. Keputusan itu disebut bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat.
Mengutip Channel News Asia (17/12/2025), insiden ini langsung memicu reaksi luas, baik dari komunitas esports maupun publik Thailand. Situasi semakin memanas karena Naphat sempat terekam kamera melakukan gestur tidak senonoh saat siaran langsung pertandingan. Aksi tersebut menuai kritik tajam di media sosial dan memperburuk citranya di mata penggemar.
Federasi Esports Thailand (Thailand Esports Federation/TESF) menyatakan menerima keputusan panitia SEA Games. Dalam pernyataan resminya, TESF menegaskan komitmen terhadap prinsip fair play dan menyebut akan melakukan evaluasi internal. Federasi juga berjanji memperketat standar etika dan teknis bagi atlet esports nasional agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Dampak dari kasus ini tidak berhenti di SEA Games. Mengutip The National Thailand (17/12/2025), developer Arena of Valor di Thailand, Garena, dilaporkan menjatuhkan sanksi larangan seumur hidup kepada Naphat dari seluruh kompetisi resmi game tersebut.
Selain itu, klub profesional yang menaunginya, Talon Esports, memutuskan kontrak kerja sama dengan sang atlet. Langkah ini menunjukkan betapa seriusnya pelanggaran yang dianggap mencoreng integritas kompetisi.
Menariknya, Naphat membantah tuduhan kecurangan tersebut. Sebelum menutup akun media sosialnya akibat banjir kritik, ia menyatakan bahwa dirinya bermain secara mandiri tanpa bantuan pihak lain. Ia bahkan berargumen bahwa jika benar melakukan kecurangan, seharusnya ia mampu memenangkan pertandingan. Menurut pengakuannya, kondisi gugup dan tekanan pertandingan membuat performanya menurun hingga berdampak pada kesehatan.
Namun, laporan The National Thailand (17/12/2025), menyebutkan adanya kecurigaan dari official pertandingan. Seorang wasit disebut memperhatikan ketidaksesuaian antara gerakan jari Naphat dengan aksi karakter di layar game. Dari situ, terungkap dugaan penggunaan perangkat lunak berbagi layar yang memungkinkan pihak lain memberikan arahan secara real time, praktik yang dikenal sebagai “ghost coaching” dan jelas dilarang dalam aturan esports internasional.
Baca Juga: 65 Kode Redeem FF Terbaru 18 Desember: Ada Diamond, Banner Dreamspace, dan Bundle Gratis
Situasi ini turut berdampak pada tim nasional Thailand. Demi menjaga tanggung jawab dan integritas, seluruh tim putri Arena of Valor Thailand memutuskan mundur dari kompetisi, meski saat itu mereka masih memiliki peluang meraih medali. Keputusan ini disebut sebagai bentuk solidaritas sekaligus penyesalan atas insiden yang mencoreng nama negara.
Kapten tim Thailand menyampaikan rasa kecewa dan sedih atas kejadian tersebut. Ia menegaskan bahwa seluruh pemain telah berlatih keras demi SEA Games dan tidak mengetahui adanya dugaan kecurangan. Permintaan maaf pun disampaikan kepada masyarakat Thailand yang merasa dikecewakan.
Kasus Naphat Warasin menjadi sorotan besar karena Arena of Valor, atau dikenal sebagai Realm of Valor (RoV) di Thailand, bukan sekadar game hiburan. Sejak dirilis pada 2016, RoV telah berkembang menjadi fenomena budaya dengan liga profesional yang popularitasnya menyaingi olahraga konvensional. Bahkan, esports RoV diakui sebagai cabang olahraga profesional oleh pemerintah Thailand.
Kontributor : Gradciano Madomi Jawa
Berita Terkait
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Nadiem Makarim Tantang Audit BPKP di Sidang Banding, Minta Hakim Periksa Ulang Bukti
-
Prabowo dan PM Thailand Sepakati Kemitraan Strategis Baru, Fokus Pangan hingga Energi
-
Jangan Korbankan Nyawa Demi Target! BGN Didesak Usut Tuntas Keracunan Massal MBG di Semarang
-
Trauma Kolektif: Pagar Tinggi Mal Ingatkan Warga pada Kerusuhan Agustus
-
Kasus Bayi Dijual Rp20 Juta Belum Tuntas, Polisi Didesak Usut Sosok Pemberi Uang
-
Dipukul Balok Kayu, Wanita di Palembang Gagalkan Aksi Begal hingga Pelaku Ditangkap
-
Dua Kata Tijjani Reijnders Usai Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3
-
Ingin Rumah Terasa Lebih Elegan? Tren Interior Kini Mengandalkan Permainan Cahaya dari Keramik
-
Haykal Ungkap Hal yang Bikin Tak Nyaman di Palembang, Pengemis hingga Sungai Jadi Sorotan
-
Kreativitas Generasi Muda Indonesia Berbuah Manis, Ribuan Pelajar Sukses Bangun Bisnis