Tekno / Internet
Kamis, 08 Januari 2026 | 11:42 WIB
Ilustrasi chip. [Freepik]
Baca 10 detik
    • Industri semikonduktor 2026 diprediksi pulih di sektor otomotif dan industri.
    • Steve Sanghi nilai ambisi kemandirian chip lokal sulit karena biaya tinggi.
    • Krisis minat bidang STEM jadi tantangan terbesar bagi inovasi teknologi masa depan.

Suara.com - Tahun 2025 dikenang sebagai tahun di mana kecerdasan buatan (AI) dan pusat data (data center) menjadi primadona tunggal dalam panggung teknologi global. Namun, menyongsong tahun 2026, lanskap industri semikonduktor diprediksi akan mengalami pergeseran fundamental yang lebih inklusif.

Tidak lagi hanya berkutat pada chip canggih untuk AI, sektor-sektor konvensional mulai menunjukkan sinyal pemulihan yang kuat.

Steve Sanghi, CEO dan Presiden Microchip Technology, memberikan pandangan komprehensif mengenai transisi ini.

Menurutnya, koreksi inventori yang telah berlangsung lama di segmen teknologi trailing-edge seperti komponen analog dan mikrokontroler kini mendekati garis akhir. Hal ini membuka jalan bagi pemulihan kinerja industri secara menyeluruh di tahun mendatang.

"Meskipun pasar AI dan pusat data telah memimpin pertumbuhan di tahun 2025, kami memperkirakan akan terjadi pemulihan yang kuat pada teknologi trailing-edge," ungkap Sanghi.

Ia menambahkan bahwa peluang tahun 2026 akan meluas melampaui pusat data, dengan pemulihan signifikan terlihat di sektor otomotif dan industri.

Kemandirian Semikonduktor

Salah satu isu paling panas dalam beberapa tahun terakhir adalah dorongan berbagai negara untuk mencapai "kedaulatan semikonduktor".

Ketegangan geopolitik, terutama antara Amerika Serikat dan Tiongkok, memicu pemerintah di berbagai belahan dunia untuk menggelontorkan subsidi besar-besaran demi membangun pabrik chip lokal.

Baca Juga: Konten Berbasis AI Bakal Makin Dominan di Medsos Tahun 2026

Namun, Sanghi memberikan pandangan yang realistis dan cukup menohok terhadap ambisi ini. Menurutnya, gagasan untuk membangun rantai pasok yang sepenuhnya mandiri di setiap blok geopolitik adalah hal yang tidak praktis.

Hambatannya meliputi biaya yang astronomis, kapasitas manufaktur yang terbatas, dan kompleksitas teknis yang sulit diduplikasi.

"Saat ini, yang justru terlihat adalah terbentuknya dua ekosistem rantai pasok utama, satu yang berpusat di Tiongkok dan satu lagi di luar Tiongkok," jelas Sanghi.

Ia menegaskan bahwa meskipun pemerintah mendorong lokalisasi, pelanggan pada akhirnya tetap memprioritaskan kualitas dan ketersediaan produk di atas segalanya.

Hingga kini, belum ada permintaan pasar yang signifikan untuk manufaktur yang eksklusif dibuat di satu kawasan tertentu.

Strategi yang lebih masuk akal di tengah ketidakpastian ini adalah diversifikasi geografis, bukan isolasi total.

Load More