Tekno / Tekno
Sabtu, 21 Februari 2026 | 21:35 WIB
Ilustrasi Meta. [Pixabay]
Baca 10 detik
  • Meta resmi mengalihkan prioritas strategis dari realitas virtual (VR) menuju fokus pada pengguna dan ekosistem seluler.
  • Platform Horizon Worlds kini bertransformasi menjadi aplikasi yang hampir sepenuhnya berorientasi pada perangkat seluler, bukan VR.
  • Pertumbuhan signifikan pengguna seluler Horizon mendorong Meta memperluas alat pengembangan dan model monetisasi untuk menantang Roblox.

Siap Tantang Roblox dan Fortnite?

Ilustrasi Roblox. (Roblox Corporation)

Langkah ini menempatkan Meta langsung berhadapan dengan raksasa dunia game sosial seperti Roblox dan Fortnite.

Keduanya telah lebih dulu menguasai pasar dunia virtual berbasis komunitas dengan ekosistem kreator yang matang dan model bisnis yang kuat.

Pertanyaannya: mampukah Meta mengejar ketertinggalan?

Restrukturisasi ini memang masuk akal secara bisnis. Mobile memiliki basis pengguna jauh lebih luas dibanding VR headset. Namun, di balik strategi baru tersebut, ada konsekuensi pahit.

Divisi Reality Labs dilaporkan memangkas sekitar 10 persen tenaga kerjanya, sebuah langkah efisiensi yang menandakan tekanan internal.

Dari Ambisi VR ke Realita Mobile

Ketika Meta mengganti namanya pada 2021, dunia melihatnya sebagai deklarasi perang terhadap masa depan internet berbasis VR. Namun lima tahun berselang, realitas pasar berbicara lain. Alih-alih headset VR, justru smartphone yang kembali menjadi pusat gravitasi metaverse.

Apakah ini tanda Meta menyerah pada mimpi VR? Atau justru strategi cerdas untuk tetap relevan di tengah kompetisi sengit ekonomi kreator digital?

Baca Juga: Meta Siapkan Smartwatch Baru 2026, Tantang Apple Watch dan Galaxy Watch?

Satu hal yang pasti, pertarungan metaverse kini tak lagi terjadi di headset mahal, melainkan di layar ponsel yang ada di genggaman miliaran orang.

Load More