Tekno / Sains
Senin, 02 Maret 2026 | 10:38 WIB
senjata perang drone Shahed-136 buatan Iran VS drone LUCAS buatan Amerika [Ilustrasi oleh AI]

Suara.com - Ketika konflik di Timur Tengah terus memanas, adu canggih drone tempur Shahed-136 buatan Iran vs LUCAS buatan Amerika menjadi sorotan publik.

Shahed-136 dikenal sebagai drone kamikaze sederhana namun mematikan yang sukses digunakan dalam berbagai konflik, sementara Amerika Serikat merespons ancaman tersebut dengan menghadirkan LUCAS, drone satu arah murah yang terinspirasi langsung dari desain Iran.

Berikut ini ulasan lengkap terkait spesifikasi, keunggulan, serta perbandingan Shahed-136 dan LUCAS untuk mengetahui drone tempur mana yang sebenarnya lebih unggul, dikutip dari berbagai sumber.

Spesifikasi Drone Shahed-136 Buatan Iran

Shahed-136 adalah drone kamikaze atau drone bunuh diri yang dirancang untuk sekali pakai. Setelah diluncurkan, drone ini akan terbang menuju area target dan menghantam sasaran bersama hulu ledaknya. Tidak ada misi kembali, tidak ada pendaratan ulang.

Dari segi desain, Shahed-136 sangat sederhana. Bentuknya menyerupai segitiga dengan sayap delta, tanpa roda pendarat, tanpa kamera canggih, dan tanpa sistem aerodinamis rumit.

Drone ini ditenagai mesin bensin 2-tak kecil dengan baling-baling, yang menghasilkan suara khas seperti mesin pemotong rumput. Meski terkesan “kasar”, desain ini justru membuatnya ringan dan mudah diproduksi massal.

Kemampuan jelajah Shahed-136 tergolong luar biasa untuk kelasnya. Drone ini mampu terbang hingga sekitar 2.000 kilometer dengan waktu terbang mencapai 12 jam.

Drone ini bisa terbang sangat rendah untuk menghindari radar, namun juga mampu naik ke ketinggian beberapa kilometer.

Baca Juga: Apa Itu Drone LUCAS yang Dipakai AS dan Israel Menyerang Iran?

Dengan hulu ledak sekitar 20-40 kilogram, Shahed-136 cukup kuat untuk merusak pembangkit listrik, gudang logistik, hingga fasilitas militer penting.

Spesifikasi Drone LUCAS Buatan Amerika

LUCAS merupakan singkatan dari Low-cost Unmanned Combat Attack System. Drone ini dikembangkan Amerika Serikat sebagai senjata serang murah yang bisa diproduksi dalam jumlah besar, sekaligus sebagai jawaban atas keberhasilan Shahed-136 di berbagai medan perang.

Secara visual dan konsep, LUCAS memang sangat mirip dengan Shahed-136. Amerika secara terbuka mengakui bahwa desain dasarnya berasal dari hasil mempelajari dan merekayasa balik drone Iran tersebut. Namun, LUCAS tidak berhenti pada peniruan bentuk saja.

Keunggulan LUCAS terletak pada sistemnya. Drone ini dirancang dengan arsitektur terbuka dan modular, sehingga bisa digunakan untuk berbagai misi, seperti serangan, pengintaian, komunikasi, bahkan sebagai drone target latihan.

Selain itu, LUCAS juga memiliki kemampuan koordinasi otonom, yang memungkinkannya beroperasi dalam formasi swarm secara lebih cerdas dan terhubung jaringan.

Dari sisi biaya, LUCAS diperkirakan seharga sekitar USD 35.000 per unit. Memang lebih mahal dari Shahed-136, tetapi tetap jauh lebih murah dibandingkan rudal jelajah atau drone tempur konvensional Amerika lainnya.

Shahed-136 vs LUCAS: Lebih Canggih Mana?

Jika dilihat dari sisi kesederhanaan dan biaya, Shahed-136 memang lebih unggul. Harganya yang murah dan desainnya yang sederhana membuat Iran mampu memproduksi drone ini dalam jumlah besar dan meluncurkannya secara bersamaan.

Cara ini terbukti efektif untuk membuat sistem pertahanan udara lawan kewalahan, sekaligus menimbulkan efek takut dan tekanan mental karena serangan bisa datang bertubi-tubi dari berbagai arah.

Sebaliknya, LUCAS menawarkan keunggulan dari sisi teknologi. Drone buatan Amerika ini dibekali kemampuan koordinasi otomatis, sistem berbasis jaringan, serta desain yang fleksibel, sehingga lebih mudah disesuaikan dengan berbagai kebutuhan di medan perang.

Dengan kata lain, LUCAS tidak hanya mengandalkan jumlah, tetapi juga kecerdasan sistemnya.

Demikianlah penjelasan lengkap terkait adu canggih drone tempur Shahed-136 buatan Iran vs LUCAS buatan Amerika.Adu Canggih Drone Tempur Shahed-136 Buatan Iran vs LUCAS Buatan Amerika.

Kontributor : Dini Sukmaningtyas

Load More