Tekno / Internet
Sabtu, 07 Maret 2026 | 15:28 WIB
Profesor Jiang mengungkap berbagai teori perang AS, Arab Saudi, Israel vs Iran. (YouTube/ Prof Jiang Clips)
Baca 10 detik

Profesor Jiang memprediksi Amerika Serikat kalah dalam perang melawan Iran.

Teori The Iran Trap menyebut kondisi geografis Iran menyulitkan militer Amerika.

Israel dan Arab Saudi dinilai mendapat keuntungan besar jika perang terjadi.

Suara.com - Seseorang bernama Profesor Jiang Xueqin baru-baru ini viral di media sosial mengingat dua prediksi besarnya cukup akurat. Profesor Jiang ternyata pernah mengungkap 10 skenario utama dari perang Amerika Serikat vs Iran.

Perang AS vs Iran itu diprediksi bakal menyeret Arab Saudi serta beberapa negara Eropa di kubu Amerika serta Rusia di kubu Iran.

Melalui teorinya 'The Iran Trap' yang diunggah 2024 lalu, peneliti di Harvard Graduate School of Education itu meyakini bahwa AS akan mengalami kerugian besar apabila melakukan invasi darat ke Iran.

Sebagai informasi, Jiang Xueqin, seorang guru dari Moonshot Academy yang dijuluki "Profesor" oleh netizen, viral di media sosial setelah prediksi geopolitiknya terbukti akurat.

Melalui video Mei 2024, Jiang mengungkap tiga ramalan utama yaitu "Donald Trump memenangkan Pemilu Amerika, AS memulai perang melawan Iran, dan terakhir, AS akhirnya kalah".

Keberhasilan dua dari tiga ramalan utama membuat konten lawas Jiang meledak dan ditonton jutaan kali.

Ia dianggap sangat presisi meski disampaikan jauh sebelum peristiwa terjadi.

Jiang memprediksi bahwa invasi darat masif yang melibatkan koalisi AS, Israel, dan Arab Saudi akan mencapai puncaknya pada 2027.

Namun, ia memperingatkan bahwa strategi ini adalah sebuah jebakan bagi Amerika Serikat karena kondisi geografis Iran yang ekstrem dan kurangnya jumlah personel militer.

Baca Juga: Ekspresi Tak Biasa Lionel Messi Saat Donald Trump Ancam Pemerintah Kuba

Menurut analisa Profesor Jiang, pasukan AS justru akan terkepung dan berubah status dari penyerang menjadi "sandera" di wilayah tersebut.

Itu pada akhirnya akan membawa AS pada kekalahan. Profesor Jiang Xueqin meyakini bahwa perang AS vs Iran justru menguntungkan Arab Saudi dan Israel.

Meski begitu, negara yang paling diuntungkan setelah AS kalah menurut Jiang adalah Israel.

"Apa yang terjadi jika Amerika Serikat dan Iran sama-sama kalah perang? Artinya Iran hancur sebagai sebuah negara dan Amerika Serikat hancur sebagai kekuatan militer di Timur Tengah. Apa yang akan terjadi? Israel menjadi pemimpin tertinggi di Timur Tengah. Israel kini dapat menguasai seluruh Timur Tengah. Jadi hasil yang optimal bagi Israel adalah Iran dan Amerika Serikat sama-sama hancur. Bagaimana dengan Arab Saudi? Apa hasil optimal mereka? Sama persis dengan Israel, sama persis. Yang akan menyerahkan Timur Tengah kepada Arab Saudi dan Israel, namun Israel memiliki militer yang jauh lebih unggul dibandingkan Arab Saudi. Ingat Saudi, sangat mudah untuk meledakkan Arab Saudi, mereka punya ladang minyak, oke? Tidak semudah itu meledakkan Israel. Maka Israel menjadi pemimpin tertinggi. Apakah Anda memahami teori permainan? Dengan kata lain, semua peserta utama menginginkan invasi ke Iran. Namun mereka menginginkan hasil yang berbeda," kata Jiang dikutip dari video YouTube Predictive History yang diunggah Mei 2024 lalu.

Berikut 10 skenario utama dari perang AS-Saudi-Israel vs Iran versi Profesor Jiang Xueqin:

  1. Tiga Kekuatan Pendorong Perang: Terdapat tiga kekuatan besar yang mendorong AS ke arah perang dengan Iran: Lobi Israel (AIPAC dan Zionis Kristen), Arab Saudi (yang menganggap Iran sebagai ancaman eksistensial), dan "kecanduan" AS terhadap kekaisaran serta spekulasi finansial (Wall Street).
  2. Peran Donald Trump dan Tokoh Kunci: Trump dianggap sebagai instrumen utama kekuatan-kekuatan ini. Tokoh seperti Jared Kushner (menantu Trump) dan Nikki Haley (calon Wapres yang didukung dana lobi anti-Iran) akan menjadi motor penggerak perang di masa jabatan Trump yang kedua.
  3. Kesombongan Militer AS (Hubris): Sejak perang Irak 2003, militer AS meninggalkan doktrin tradisional dan beralih ke doktrin "Shock and Awe". Hal ini menciptakan kesombongan bahwa mereka bisa menang cepat dengan teknologi, padahal mereka kekurangan infanteri (pasukan darat) untuk menduduki wilayah.
  4. Kegagalan Strategi Geografis: Iran secara geografis adalah "benteng pegunungan". Profesor Jiang berpendapat militer AS akan terjebak karena tank tidak bisa bergerak mudah di pegunungan dan jalur pasokan logistik sangat mudah diputus oleh Iran.
  5. Tentara AS Akan Menjadi Sandera: Karena keterbatasan jumlah pasukan (AS hanya mengirim sekitar 100.000, padahal butuh jutaan untuk menaklukkan Iran), tentara AS yang masuk ke Iran diprediksi akan terkepung dan tidak bisa keluar, sehingga status mereka berubah dari penyerang menjadi "sandera".
  6. Rakyat Iran Tidak Akan Membantu AS: AS berharap invasi memicu pemberontakan rakyat melawan rezim Ayatollah. Namun, Profesor Jiang berpendapat rakyat Iran tetap melawan AS karena trauma sejarah (rezim Shah) dan melihat kehancuran yang terjadi di Irak akibat invasi AS.
  7. Analogi Sejarah Athena dan Vietnam: Jiang membandingkan rencana invasi ini dengan kegagalan ekspedisi Athena ke Sisilia (415 SM) dan Perang Vietnam. Keduanya hancur karena kesombongan, jarak yang jauh, dan ketidakmampuan mensuplai logistik pasukan.
  8. Teori Permainan (Game Theory): Dalam sudut pandang ini, Israel dan Arab Saudi sebenarnya diuntungkan jika AS dan Iran sama-sama hancur dalam perang. Jika kedua negara tersebut melemah, Israel akan menjadi kekuatan tunggal yang mendominasi Timur Tengah.
  9. Ancaman Nuklir dan Respons Rusia: Trump mungkin akan mengancam menggunakan nuklir jika pasukannya terjebak. Namun, Rusia (Putin) diprediksi akan bertindak sebagai "polisi nuklir" yang melarang penggunaan senjata nuklir, sehingga memaksa AS bertempur di darat di mana mereka akan kalah.
  10. Kelemahan Kapasitas Manufaktur AS: Amerika Serikat dianggap tidak akan mampu memenangkan perang jangka panjang karena kapasitas manufaktur amunisi dan kapalnya telah banyak berpindah ke Cina. Di sisi lain, Iran didukung oleh kemauan bertempur yang kuat dan geografi yang mendukung pertahanan.

Load More